Oleh: Ust Farid Nu'man
Saat itu, tepat 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memandangi pasukan musuhnya yang berjumlah seribu orang dan pasukan yang dibawanya sejumlah 310 lebih sedikit. Hamba mulia ini memanjatkan doa yang begitu mengharu biru di tengah pasukannya yang amat sedikit dan apa adanya, melawan pasukan kafir Quraisy yang tiga kali lipat menghadang di hadapan mereka di padang Badar. Dengan menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya, Beliau berdoa:
اللهم! أنجز لي ما وعدتني. اللهم! آت ما وعدتني. اللهم! إن تهلك هذه العصابة من أهل الإسلام لا تعبد في الأرض
Ya Allah! Penuhilah untukku apa yang Kau janjikan kepadaku. Ya Allah! Berikan apa yang telah Kau janjikan kepadaku. Ya Allah! jika Engkau biarkan pasukan Islam ini binasa, … maka tidak ada lagi yang menyembahMu di muka bumi.”
Beliau senantiasa berdoa dengan suara tinggi seperti itu dan menggerakan kedua tangannya yang sedang menengadah dan menghadap kiblat, sampai-sampai selendang yang dibawanya jatuh dari pundaknya. Lalu Abu Bakar menghampirinya dan meletakkan kembali selendang itu di pundaknya dan dia terus berada di belakangnya. Lalu Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu berkata:
يا نبي الله! كذاك مناشدتك ربك. فإنه سينجز لك ما وعدك
“Wahai Nabi Allah! Inilah sumpahmu kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia akan memenuhi apa yang dijanjikanNya kepadamu.”
Lalu turunlah firman Allah Ta’ala:
إذ تستغيثون ربكم فاستجاب لكم أني ممدكم بألف من الملائكة مردفين
“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut." (QS. Al Anfal (8): 9). (HR. Muslim No. 1763, At Tirmidzi No. 5075, Ibnu Hibban No. 4793. Ahmad No. 208, Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf, 7/95)
Lalu, terjadilah pertempuran yang sebenarnya tidak seimbang itu, namun karena kekuatan iman, kekuatan ukhuwah, kepemimpinan yang berwibawa, serta ditopang strategi yang jitu, kaum muslimin berhasil memenangkan pertempuran yang disebut dalam Al Quran sebagai “Yaumul Furqan” (Hari Pembeda). Hari yang membedakan antara hak dan batil, antara periode dakwah yang selalu tertindas menjadi dakwah yang disegani.
* * * * *
Syahdan, pada masa khalifah Al Mu’tashim billah (nama aslinya adalah Abu Ishaq Muhammad bin Harun Ar Rasyid), dia berkuasa sejak tahun 218 sampai 227 Hijriyah. Pada masanya, pasukan Islam mampu mengalahkan pasukan Romawi dengan kemenangan besar yang belum pernah terjadi pada khalifah-khalifah sebelumnya. Dia mampu memecahkan pasukan Romawi dan menembus masuk ke negeri Romawi, dan menewaskan 3000 pasukannya serta menawan yang lain sejumlah itu pula. (Imam As Suyuthi, Tarikhul Khulafa’, Hal. 245. Cet. 1. 1425H-2004M. Maktabah Nizar Mushthafa Al Baz )
Tahukah anda apa yang melatar belakangi pertempuran dengan Romawi kala itu? Yakni karena seorang muslimah diperkosa oleh pasukan Romawi. Lalu peristiwa memilukan ini diketahui oleh Khalifah Al Mu’tashim. Maka, demi menjaga kehormatan Islam dan kaum muslimin, Khalifah Al Mu’tashim mengirim pasukan ke Romawi dengan armada pasukan yang sangat besar. Pasukan terdepan sudah sampai di ibu kota Romawi saat itu (yakni Konstantinopel- Istambul saat ini) sedangkan pasukan paling belakang masih ada di istananya di Baghdad! Ratusan ribu pasukan yang dikirim ke Romawi, ada yang meyebut 200 ribu lebih dan ada pula yang menyebut 500 ribu pasukan (Siyar A’lam An Nubala, 10/297), ternyata Romawi menyambutnya dengan peperangan, maka terjadilah pertempuran dahsyat yang dimenangkan pasukan Islam sebagaimana telah tertulis dalam sejarah Islam masa lalu.
Lihatlah ini! Begitu berdayanya umat Islam, dan begitu tingginya wibawa kaum muslimin, hanya karena seorang muslimah diperkosa, mereka tidak terima dan berbondong-bondong menggedor Romawi dan berhasil meruntuhkan kerajaannya yang begitu besar dan ditakuti saat itu. Tetapi itu semua berhasil ditekuk dan hanyalah fatamorgana yang tidak berdaya apa-apa di depan kekuatan iman dan ‘izzah Islam (kemuliaan Islam). Lalu bandingkanlah dengan dunia Islam saat ini. Tak berdaya dan tidak berwibawa. Banyak jumlah namun sedikit keberanian, paling jauh hanya demonstrasi ketika melihat saudaranya dianiaya. Bukan lagi satu muslimah diperkosa, tetapi ribuan dijarah kehormatannya, anak-anak dibunuh atau dimurtadkan, mereka diusir dari kampung halamannya, dirampas harta kekayaannya, dan dikebiri perannya dalam percaturan dunia internasional. Kaum muslimin hanya mampu mengecam, mengutuk, dan mengadakan sidang, tetapi tidak ada aksi nyata seperti Khalifah Al Mu’tashim terhadap Romawi.
Ya, betapa cepatnya langit cerah menuju mendung dan kelam, lalu kapankah cemerlangnya pagi akan datang? Saat itu ada muslimah diperkosa, namun juga ada Khalifah Al Mu’tashim yang membelanya. Saat ini umat Islam tertindas ada di Afghanistan, Palestina, Iraq, Moro di Filipina, Patani di Thailand, Rohingnya di Cina, dan belahan Bumi Allah lainnya, tetapi tidak ada pemimpin Islam yang seperti Al Mu’tashim! (Namun, Al Mu’tashim memiliki kesalahan ketika menyiksa Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah, tetapi dalam sisi pembelaannya terhadap kaum muslimin, dia patut dibanggakan)
Berkata Imam Adz Dzahabi Rahimahullah:
كان المعتصم من أعظم الخلفاء وأهيبهم، لولا ما شان سؤدده بامتحان العلماء بخلق القرآن.
“Al Mu’tashim, dahulu adalah termasuk di antara khalifah yang paling agung dan paling pemalu di antara mereka, seandainya saja dia tidak mengotori kekuasaannya lantaran menyiksa ulama dalam masalah kemakhlukan Al Quran.” (Imam As Suyuthi, Tarikhul Khulafa’, Hal. 244)
* * * * *
Di atas, hanya sedikit contoh kehebatan kaum muslimin masa lalu. Itu pun dari satu sisi saja, yakni kekuatan dan kewibawaannya. Kita belum membicarakan ketinggilan ilmu pengetahuan dan peradaban dunia Islam, dan dibutuhkan banyak halaman untuk menceritakannya.
Saat ini kita hidup di alam real (nyata) umat Islam. Biarlah romantisme masa lalu itu tetap ada dan menghujam dalam dada kita sebagai bekal dan spirit untuk meraih kembali kejayaan yang hilang itu. Tetapi, kita tidak boleh berlama-lama dalam dunia lamunan, romantisme kejayaan, dan –apalagi- tangisan meratapi puing-puing kehancuran peradaban Islam pasca (setelah) runtuhnya simbol kekuatan dan pemersatu umat Islam, yakni Khilafah Turki Utsmaniyah pada tahun 1924 M di Turki, yang dihapuskan oleh si musuh Turki (A’da At Turk –inilah istilah yang diberikan ulama turki kepadanya), yakni Mustafa Kamal. Ada pun sejarawan sekuler menjulukinya Attaturk (Bapaknya Turki).
Realita umat Islam hari ini, jika kita lihat, ternyata terhimpun menjadi empat penyakit yang mesti disembuhkan dengan cepat. Penyakit itu adalah:
1. Al Jahlu (Kebodohan)
Apa yang dimaksud kebodohan di sini? Bukankah dunia Islam –sebagaimana dunia Barat- juga memiliki kampus-kampus bergengsi, kecil dan dewasa, pria dan wanita berbondong-bondong menuju bangku sekolah dan kuliah, berbeda dengan masa lalu?
Kebodohan di sini adalah ketiadaan ma’rifah (pengetahuan mendalam) mereka terhadap Rabb dan agamanya. Bisa jadi memang, dunia Islam tidak kalah canggih dan intelek, tetapi itu hanyalah pengulangan kondisi Arab sebelum datang Islam. Dunia Arab sebelum Islam, juga memiliki peradaban tinggi yang terbukti dari kemampuan mereka membuat tata kota yang bagus, pengairan sawah yang baik, serta karya seni bernilai tinggi. Tetapi, sejarah Islam tetap memposisikan mereka sebagai era Jahiliyah. Sebab, keilmuan yang mereka miliki tidak mampu menolong mereka untuk mengetahui siapa Tuhan mereka sebenarnya, justru mereka menyembah dan mengagungkan produk budaya mereka sendiri yaitu berhala-berhala yang indah yang mereka ciptakan.
Perhatikan umat Islam saat ini, umumnya mereka jauh dari agamanya, jauh dari Al Quran dan Sunnah nabinya, tetapi lebih dekat bahkan sampai taraf memberikan cinta terhadap budaya, pemikiran dan akhlak Barat yang nota bene non muslim yang justru hendak menghancurkannya. Sayangnya mereka tidak menyadarinya.
Hal ini membawa dampak lainnya; masjid yang sepi kecuali shalat jumat, merosotnya moral baik pejabat atau rakyatnya, ibadah hanya menjadi rutinitas kosong belaka tanpa bekas dan pengaruh dalam kehidupan, ulama tidak berwibawa baik ilmu dan perbuatannya, pergaulan bebas remaja, angka perceraian yang tinggi, pornografi dan porno aksi dianggap biasa, dan segudang permasalahan lainnya. Ini semua berawal dari kebodohan terhadap agama, sebab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah berjanji bahwa berbagai kebaikan –termasuk kebaikan dalam urusan dunia dan ilmu pengetahuan- akan datang bersamaan dengan pemahaman yang benar terhadap agama.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan kebaikan maka akan dipahamkan baginya ilmu agama.” (HR. Bukhari No. 2948, Muslim No. 1037, At Tirmidzi No. 2783, Ibnu Majah No. 220, Ibnu Hibban No. 89, 310, 3401, Malik No. 1599, Ad Darimi No. 224, 2706, Abu Ya’la No. 7381, Musnad Ishaq No.439, dan lainnya)
2. Adh Dha’fu (lemah)
Kelemahan umat Islam terdapat pada banyak sisi kehidupan, baik pribadi atau masyarakat. Boleh dikatakan di semua sisi kehidupan. Di antaranya yang bisa disebutkan di sini adalah:
a. Lemah Aqidah
Aqidah adalah pegangan hidup yang utama dan menjadi fondasi untuk lahirnya imanul ‘amiq (keimanan yang mendalam). Aqidah yang kuat hanya menjadikan Allah Ta’ala sebagai satu-satunya penolong dari kesulitan hidup dan permasalahnnya. Tidak takut mati, apalagi takut miskin. Sebab seorang yang mengimani Allah Ta’ala sebagai pengatur hidup akan merasa aman dan tentram hatinya ketika menyandarkan dirinya kepada pemiliki kehidupan itu sendiri. Berbeda dengan orang yang aqidahnya lemah, dia lebih takut dengan ancaman makhluk dibanding azab Allah Ta’ala. Seperti yang terjadi saat ini, umat Islam (khususnya para pemimpinnya) lebih takut dengan ‘azab’ yang diberikan Amerika Serikat dan sekutunya dibanding azab dari Rabb mereka. Begitu juga ketika sepasang manusia berzina, mereka lebih takut hamil dibanding takut kepada Allah Ta’ala.
Berbeda dengan Sumayyah, seorang wanita yang mati syahid dan menjadi syahid pertama dalam Islam. Dia tetap memgang teguh agama tauhid walau mengalami penyiksaan yang membuatnya dibunuh secara keji.
Berbeda dengan Bilal bin Rabbah, seorang sahabat nabi yang disiksa dengan ditindih batu besar pada siang yang amat panas, agar ia mau keluar dari agama Islam dan kembali mengakui ketuhanan kolektif Arab jahiliyah. Tetapi dia tetap dalam keimanannya, dan mengatakan; “ahad .. ahad .. ahad … (Yang Maha Tunggal (Esa) ….)
Berbeda dengan Masyithah, seorang wanita pelayan di istana Fir’aun yang tetap teguh menyembah Allah Ta’ala dan menolak pengakuan ketuhanan Fir’aun. Dia bersama keluarganya direbus hidup-hidup untuk mempertahankan aqidahnya.
Ya, kita berbeda dengan mereka. Begitu sabar dan teguhnya aqidah mereka …
b. Lemah Ekonomi
Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, kaum muslimin benar-benar merasakan baldatun thayyibatun (negeri yang makmur). Sampai-sampai Srigala menyusu kepada Domba, padahal domba adalah mangsa Srigala! Saat itu, pemerintah kesulitan mencari faqir miskin untuk menerima zakat, akhirnya harta zakat disalurkan ke negeri-negeri non muslim.
Pada masa Khalifah Harun Al Rasyid, dia pernah keluar dari istana sambil menatap langit yang sedang mendung:
“Ya Allah, turunkanlah hujan di mana Engkau mau. Jika Kau turunkan di Barat maka itu adalah negeri kami, jika Kau turunkan di Timur itu juga negeri kami.”
Apa yang dikatakannya melambangkan kemakmuran negeri Islam yang merata dan begitu luas. Sehingga dua khalifah ini termasuk deretan para khalifah yang paling sering disebut namanya setelah empat khulafa’ur rasyidin.
Kemandirian ekonomi adalah salah satu penopang kekuatan, dan Islam sangat menekankan hal itu. Seorang yang berhutang biasanya akan mengalami penurunan kekuatan. Daya kritis, kemandirian, dan sebagainya akan mudah didikte oleh orang yang memberinya hutang. Begitu pula dalam tingkat negara. Negara-negara miskin –kebanyakan negara muslim- mudah sekali dikendalikan oleh kekuatan asing yang menjadi donor bagi dana pembangunan negerinya. Maka, wajar kalau Islam tidak menyukai kefaqiran. Hal ini terbukti dari berbagai doa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diajarkannya untuk umatnya berisi perlindungan dari kefaqiran.
Diantaranya:
اللهمّ إني أعوذ بك من الكفر والفقر
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kekafiran dan kefaqiran.” (HR. Abu Daud No. 5090, Ibnu Hibban No. 1026, An Nasa’i No. 1347, Ibnu Khuzaimah No. 747, Ahmad No. 20381, Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 3/251. Syaikh Al Albani mengatakan: shahih. Lihat Shahih wad Dhaif Sunan An Nasa’i No. 1347 )
Doa lainnya:
اللهم إنِّي أعوذ بك من الهمِّ والحزن، وضلع الدين ، وغلبة الرجال
“ Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari gelisah dan sedih, dan lilitan hutang dan tekanan manusia.” (HR. Bukhari No. 2736, 6002, At Tirmidzi No. 3484, Abu Daud No. 1541, An Nasa’i No.5476, Abu Ya’la No. 3695, 4003, Ibnul Ju’di No. 2908)
c. Lemah Propaganda
Dunia propaganda, melalui media elektronik seperti TV, Radio, dan internet, atau media cetak seperti majalah dan buku, ternyata telah melampaui batas fungsinya sebagai jendela informasi bagi manusia. Saat ini sarana ini telah dijadikan alat untuk memojokkan Islam dan kaum muslimin. Media Barat telah menggiring opini dunia untuk menyebutnya sebagai teroris, agama pedang, penindas kaum wanita, dan sebagainya. Begitu kuat jaringan mereka, satu sama lain saling membantu.
Orang shalih bisa jadi buruk lantaran diberitakan buruk, dan orang jahat bisa menjadi pahlawan karena diberitakan sebagai pahlawan. Inilah keajaiban propaganda. Dan, sayangnya tidak sedikit umat Islam yang terpukau oleh media mereka dan termakan oleh isu dan hasutan yang mereka buat. Kita selalu meng-iya-kan kata mereka. Persis yang Al Quran katakan:
Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. (QS. Al Munafiqun (63); 4)
Sementara, di sisi umat Islam sendiri mereka lemah. Belum ada kantor berita umat Islam yang menjadi media rujukan utama sebagai penyeimbang, jangankan secara internasional , secara nasional pun belum ada, sekali pun ada hanya menjangkau lapisan yang sangat ekslusif dan terbatas. Wal hasil, tidak ada pilihan lain akhirnya mereka menjadikan media Barat sebagai rujukan, walau mereka telah tahu bahwa media tersebut tidak akan pernah objektif dan adil ketika berhadapan dengan kepentingan Islam dan kaum muslimin.
3. Adz Dzullah (Direndahkan)
Ini merupakan efek domino yang otomatis dari kebodohan dan kelemahan, sebab tidak ada orang bodoh dan lemah yang memiliki wibawa dan kehormatan.
Lihatlah dunia! Mereka ramai menyalahkan pemerintah Indonesia ketika kasus di Timor Timur (sekarang Timor Leste), bahkan mereka mengintervensi sehingga propinsi ini lepas dari Indonesia. Ada pun Papua, pun sedang mengalami hal yang sama. Begitu mudahnya negeri muslim diobok-obok oleh kekuatan asing.
Ketika kedung kembar WTC (World Trade Center) ditabrak oleh dua pesawat yang tidak jelas siapa pelakunya. Bahkan, CIA tidak berani memastikan. Namun, Amerika Serikat dengan kesombongannya langsung menyalahkan pemerintah Taliban di Afghanistan, sebuah negeri miskin dan terbelakang. Afghanistan diserang oleh tentara AS tanpa peduli protes dunia muslim dan yang masih punya nurani kemanusiaan.
Begitu pula yang terjadi Iraq, presidennya dijatuhkan oleh kekuatan negara lain, bukan kekuatan yang berasal dari rakyatnya sendiri. Umat Islam dunia juga tidak berkutik.
Jalur Gaza akhir 2008 dan awal 2009. Negara Zionis Israel menyerang Gaza sebuah kota kecil yang hanya dijaga oleh milisi mujahidin HAMAS yang tidak seberapa banyak. Umat Islam yang setengah miliar di timur tengah, diacak-acak oleh kebiadaban tentara Zionis Israel di sana. Mereka hanya menonton dan menangis, paling jauh demonstrasi. Bahkan mayoritas umat ini tidak peduli karena sibuk dengan dunianya masing-masing. Kemana umat Islam? Kemana pemimpin kaum muslimin? Kemana Al Mu’tashim abad modern? Kemana satu setengah miliar umat Islam?
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
يوشك الأمم أن تداعى عليكم كما تداعى الأكلة إلى قصعتها" فقال قائل: ومن قِلّةٍ نحن يومئذٍ؟ قال: "بل أنتم يومئذٍ كثيرٌ، ولكنكم غثاءٌ كغثاء السيل، ولينزعنَّ اللّه من صدور عدوكم المهابة منكم، وليقذفنَّ اللّه في قلوبكم الوهن" فقال قائل: يارسول اللّه، وما الوهن؟ قال: "حبُّ الدنيا وكراهية الموت
“Hampir datang masanya bangsa-bangsa mengerumuni kalian sebagaimana mengerumuni makanan di atas meja makan.” Ada yang bertanya: “Apakah saat itu kita sedikit?” Beliau menjawab: “Justru saat itu kalian banyak, tetapi laksana buih di lautan. Allah telah mencabut rasa takut dalam dada musuh-musuh kalian terhadap kalian, sedangkan Allah telah melemarkan ke dalam hati kalian penyakit Al Wahn,” Ada yang bertanya: “Apakah Al Wahn?” Beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati!” (HR. Ibnu Majah No. 4297, Ahmad No. 22397, Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: sanadnya hasan. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam As Silsilah Ash Shahihah No. 958)
4. Al Furqah (Perpecahan)
Seharusnya perbedaan dapat dijadikan khazanah yang baik. Islam tidak mencela perbedaan tetapi membenci perpecahan. Dan, perbedaan belum tentu berpecah, sedangkan berpecah sudah pasti berbeda.
Perbedaan memang hal yang niscaya dan pasti ada. Allah Ta’ala berfirman:
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ
Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu.. (QS. Huud: 118-119)
Imam Hasan Al Bashri Radhiallahu ‘Anhu mengatakan:
وللاختلاف خَلَقهم
“Dan Allah menciptakan mereka untuk perbedaan.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 4/362. Dar Ath Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi’)
Dalam potongan hadits yang cukup panjang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda:
من يعيش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا
“Barangsiapa diantara kalian yang hidup setelah aku, maka dia akan melihat banyak perselisihan ..” (HR. At Tirmidzi No. 2816, katanya: hasan shahih. Ad Darimi No. 95, Ibnu Majah No. 43, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 20125, Ibnu Hibban, Bab Maa Ja’a Al Ibtida bihamidallahu Ta’ala, No. 5, Ahmad No. 17142. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata; hadits shahih dengan banyak jalur dan penguatnya)
Namun demikian, walau perbedaan itu pasti ada dan ini sudah diisyaratkan jauh-jauh hari, Islam tetaplah mencela perpecahan dan mengaharamkannya di antara kaum muslimin.
Allah Ta’ala berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang teguhlah kepada tali (agama) Allah kalian semua, dan janganlah berpecah belah ..” (QS. Ali Imran (3): 103)
Inilah penyakit yang mengerikan sebab dia menghancurkan dari dalam seperti kanker yang menggerogoti tubuh manusia. Sesungguhnya umat Islam tidak pernah takut akan ancaman dari luar karena mereka sudah mengantisipasi dengan semangat jihad fisabilillah. Tetapi yang justru dikhawatiri adalah hancurnya umat islam dari dalam, yakni ketidakmampuan mereka dalam meredam perselisihan dan mengolah perbedaan. Akhirnya, musuh-musuh Islam bertepuk tangan sementara kita sibuk bercakaran. Mereka pun berkata; “Terima kasih wahai umat Islam, tugas kami memecah belah kalian sudah diselesaikan oleh kalian sendiri!”
* * * * *
Demikianlah penyakit umat islam kontemporer dan kita harus tersadari olehnya. Tentunya harus dicarikan solusi yang jitu dengan tanpa melahirkan penyakit baru. Bagaimana itu?
Ringkasnya, sebagaimana kata Imam Malik Radhiallahu ‘Anhu yang pernah mengatakan: “Umat ini tidak akan jaya kecuali dengan cara pertama kali ia dijayakan genarasi awalnya.”
Yaitu dengan iman, ilmu, ukhuwah islamiyah yang solid, dan ruhul jihadiah (semangat juang) yang tidak terputus. Sehingga umat Islam menjadi cerdas tidak bodoh, kuat tidak lemah, berwibawa tidak direndahkan, dan solid tidak berpecah. Wallahu A’lam
sumber asal artikel
Sunday, September 05, 2010
Friday, August 27, 2010
Saya Juga Salafi Seperti Anda
Oleh: Ust Fauzi Asmuni
Naib Presiden II, Ikatan Muslimin Malaysia (ISMA)
Isu salafi sekali lagi menjadi buah mulut sebahagian dari pendakwah sejak kebelakangan ini. Ini mungkin disebabkan perbincangan semula terhadap kesahihan beberapa amalan masyarakat Melayu Islam di Malaysia yang berlaku pada peringkat nasional pada tahun lepas. Mungkin juga disebabkan beberapa pertikaian yang ditimbulkan oleh sebahagian pihak terhadap kaedah, pendekatan dan uslub dakwah Ikhwan yang mula mendapat tempat di dalam hati sebahagian aktivis dakwah dan beberapa gerakan Islam di tanahair. Perbincangan tentang isu salafi ini banyak berkisar di sekitar dua isu ini; amalan masyarakat Melayu Islam yang merupakan khilaf fiqhi dan manhaj dakwah.
Persoalan akidah yang sebenarnya salah satu dari asas isu salafi ini kita dapati tidak begitu ketara dibincangkan di Malaysia. Sebaliknya isu yang ditimbulkan adalah isu tahlil, talqin, bacaan Yasin di malam Jumaat, bacaan Qunut di dalam solat Subuh, penyelewengan Sayyid Qutb, bid’ah usrah, kesalahan-kesalahan di dalam tafsir fi Zilal al-Quran, bid’ah ta’wil nas dan lain-lain isu seumpamanya.
Takrif Salafi Yang Kurang Tepat
Banyak pihak mendakwa mereka adalah salafi. Sebahagian kecil sahaja dari kalangan mereka yang memahami apakah yang dimaksudkan dari kalimah salafi tersebut. Manakala bakinya melakukan dakwaan tanpa sandaran ilmu. Dengan berpandukan ilmu yang sedikit itu mereka mula menuduh pihak lain ‘tidak salafi’ atau ‘kurang salafi’ berbanding mereka.
Sebahagian dari mereka mengatakan salafi adalah pengikut ‘madrasah an-nas’, iaitu satu methodologi yang diambil oleh sebahagian ulama’ di dalam melakukan istinbat hukum secara langsung dari zahir nas tanpa banyak melihat kepada maqasid (rahsia dan maslahat hukum di sebalik zahir nas). Dengan itu mereka berpegang kepada zahir nas dari al-Quran atau hadis dan menolak methodologi yang digunakan oleh ulama’ yang lain. Mereka mengambil jalan mudah dengan mempraktikkan Islam terus dari al-Quran dan Sunnah tanpa merujuk kepada tafsiran dan pendapat ulama’-ulama’ berkenaan tafsiran nas tersebut, satu amalan yang sebenarnya bertentangan dengan praktik pelopor madrasah an-nas itu sendiri.
Sebahagian yang lain mengatakan salafi adalah sesiapa yang mempraktikkan mazhab Imam Ahmad bin Hanbal. Dengan itu mereka memaksakan beberapa pendapat mazhab Hanbali kepada umat Islam di Malaysia yang majoritinya adalah bermazhab Syafie. Hujah mereka kerana fiqh mazhab Hanbali ‘lebih salafi’ dari mazhab-mazhab yang lain.
Sebahagian yang lain pula mengatakan salafi adalah pendekatan dakwah Muhammad bin Abdul Wahab, pelopor gerakan Wahabi di Arab Saudi. Malangnya apa yang mereka fahami dari gerakan Wahabi ini hanyalah sebahagian dari perjuangannya sahaja. Mereka tidak mengkaji keseluruhan gerakan tersebut. Dengan itu mereka menyimpulkan bahawa gerakan Wahabi adalah gerakan membenteras bid’ah yang berlaku di Semenanjung Tanah Arab satu kurun yang lepas. Itulah yang cuba mereka lakukan di Malaysia. Alangkah baiknya jika mereka mengkaji jihad Muhammad bin Abdul Wahab dan usaha-usaha pembaikan sistem khilafah yang dilakukan oleh beliau ketika itu. Moga-moga kajian itu dapat menyingkap hakikat salafi yang sebenarnya kepada mereka dan menjelaskan perbezaan di antara gerakan Muhammad bin Abdul Wahab dengan apa yang disebut sebagai Wahabi pada hari ini.
Takrif Salafi Mengikut Manhaj Salafi Kami
Kami meminta maaf kerana menggunakan istilah ‘salafi kami’. Ini bukan dengan tujuan untuk memperkecilkan sebahagian yang mendakwa mereka salafi atau untuk menidakkan ‘salafi’ mereka. Kami juga berusaha seperti mereka untuk menjadi salafi. Jadi penggunaan istilah ini lebih bertujuan untuk menjelaskan beberapa perbezaan di antara kami dan mereka di dalam beberapa isu berkaitan salafi. Istilah ini sudah tentulah lebih baik dan lebih lembut dari istilah sebahagian penulis di dalam blog-blog yang menggunakan istilah ‘salafi lapok’ dan sebagainya.
Mereka yang mengaku salafi sering mengajak kita semua untuk kembali kepada kefahaman al-Quran dan Sunnah yang sebenar dan merujuk segala masalah kepada nasnya. Ini adalah pendekatan yang kami persetujui dan kami juga mengajak semua orang Islam ke arah yang sama; kembali kepada nas.
Dengan itu di dalam mentakrifkan ‘salafi’ kami ingin mengajak mereka dan semua pembaca untuk mengembalikan istilah ini kepada nasnya. Dari manakah datangnya istilah ‘salafi’ ini?
Ia adalah hasil kefahaman yang digabungkan dari beberapa buah hadis. Di antaranya sabda Rasulullah s.a.w.:
“Telah terpecah orang-orang Yahudi menjadi tujuh puluh satu golongan dan terpecah orang Nasrani menjadi tujuh puluh dua golongan. Akan terpecah umatku menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya dalam neraka, kecuali satu golongan.” Para sahabat bertanya: “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Baginda menjawab: “Mereka adalah orang yang berdiri di atas apa yang aku dan para sahabatku berdiri di atasnya.” (Riwayat Abu Daud)
Satu lagi hadis mutawatir menyempurnakan makna ini: “Sebaik-baik kurun adalah kurunku, kemudian generasi sesudahnya dan kemudian generasi sesudahnya.”
Daripada hadis-hadis tersebut dapatlah kita fahami bahawa yang dimaksudkan dengan salafi adalah satu kelompok yang dikenali di dalam sejarah perundangan Islam sebagai salafussoleh. Mereka adalah kelompok terbaik di dalam sepanjang sejarah Islam. Mereka adalah tiga generasi Islam bermula dari zaman Rasulullah s.a.w. dan berakhir di pemerintahan al-Makmun di zaman Abbasiah. Itu adalah pendapat sebahagian ulama’ hari ini termasuklah seorang ulama’ Mesir, Dr. Jum’ah Amin Abdul Aziz.
Apa yang ada pada mereka sehingga mereka digelar golongan salafussoleh?
Mereka adalah generasi manusia yang hidup di tiga generasi pertama Islam. Mereka mempunyai manhaj tertentu di dalam akidah. Dengan manhaj itu mereka menafsirkan alam, kehidupan dan manusia berpandukan sumber Islam yang asli iaitu al-Quran dan Sunnah, jauh dari pengaruh falsafah Yunan dan falsafah-falsafah tamadun lain. Mereka membangunkan sistem ibadah di atas manhaj yang syumul dan umum hasil dari aqidah yang sejahtera dan praktik sunnah yang tepat. Mereka hanya memberikan wala’ kepada Allah dan Rasul serta berjuang untuk menegakkan kalimah Allah di atas muka bumi dengan manhaj dakwah yang ditunjukkan oleh Rasulullah s.a.w. Mereka mempunyai manhaj haraki berpandukan manhaj dakwah Rasulullah s.a.w. yang mampu mengumpulkan seluruh umat di dalam satu kesatuan.
Adakah istilah salafi merujuk kepada zaman atau manhaj?
Jika istilah salafi merujuk kepada zaman, maka ianya sudah berlalu. Tidak ada sesiapa yang boleh mendakwa bahawa mereka adalah salafi. Bahkan dakwaan bahawa mazhab Hanbali lebih salafi dari yang lainnya juga adalah tidak tepat. Sumbangan setiap pengasas mazhab yang hidup di zaman itu kepada umat adalah sama. Mereka saling hormat menghormati di antara satu sama lain. Bahkan jika Imam Ahmad bin Hanbal masih hidup sekarang, kami yakin dia juga bersetuju dengan kesalafian imam-imam yang lain.
Jika istilah salafi merujuk kepada manhaj, maka sesiapa yang mengikuti manhaj tiga generasi tersebut di dalam praktik Islam maka merekalah salafi sebenar. Manhaj itu merangkumi tasawwur di dalam akidah, ibadah dan harakah dakwah.
Jadi persoalan seterusnya adalah apakah manhaj yang dipraktikkan oleh generasi itu?
Madrasah an-Nas dan Salafi
Sebahagian menghadkan manhaj tersebut kepada manhaj madrasah an-nas sahaja atau kepada mazhab Ahmad bin Hanbal sahaja. Sesiapa yang mengikuti manhaj tersebut maka merekalah salafi. Itu yang menjadi punca sebahagian dari pendakwah Islam hari ini berusaha dengan usaha yang sungguh-sungguh untuk mengembalikan umat Islam kepada manhaj ini dan mengajak umat untuk menolak manhaj selainnya. Dengan erti kata lain mereka mula menolak ta’wil, menolak untuk menafsirkan nas berdasarkan ilal nas, menolak untuk membuat imbangan antara ruh nas dan lafaz, menolak untuk membuat imbangan antara zahir nas dan maqasid, menolak untuk membuat imbangan antara wasilah yang berubah dan hadaf yang thabit daripada nas, tidak meraikan perbezaan di antara lafaz majazi dan lafaz hakiki, tidak mengambil kita perubahan madlul lafaz dengan perubahan zaman dan lain-lain methodologi istinbat hukum dari nas yang digunapakai oleh aliran-aliran lain di dalam fiqh Islami.
Kami tidak bermaksud untuk merumitkan pembaca dengan istilah-istilah usul yang memeningkan. Apa yang ingin kami terangkan di sini adalah madrasah an-nas adalah satu aliran dari pelbagai aliran di dalam fiqh. Apa yang menjadi methodologi madrasah an-nas ini juga tidaklah tepat seperti mana yang mereka fahami. Kalau sekiranya mereka mengikuti aliran madrasah an-nas ini dengan betul, mereka tidak akan menolak aliran-aliran yang lain kerana pelopor madrasah an-nas ini juga tidak pernah menolak methodologi aliran lain.
Dengan itu kami tegaskan di sini bahawa manhaj tiga generasi awal Islam itu tidak hanya terbatas kepada madrasah an-nas sahaja. Sebaliknya ia merangkumi kesemua aliran di dalam fiqh Islami.
Di sini mungkin membantu pembaca untuk memahami aliran-aliran fiqh pada tiga generasi itu dengan membentangkan sedikit ringkasan sejarah aliran-aliran fiqh sehingga membawa ke pembentukan mazhab-mazhab.
Sesudah kewafatan Rasulullah s.a.w., para fuqaha’ di kalangan sahabat r.a. bertebaran di negara-negara Islam. Ibnu Abbas r.a. menetap di Mekah dan mempunyai murid-muridnya yang tersendiri. Abdullah bin Omar r.a. menetap di Madinah dan membentuk madrasahnya dan anak-anak muridnya. Ibnu Mas’ud r.a. tinggal menetap di Kufah dan mempunyai murid-muridnya sendiri. Setiap mereka mempunyai pendekatan yang tersendiri di dalam ijtihad dan istinbat hukum.
Fuqaha’ dua tanah haram, Mekah dan Madinah lebih berpegang kepada nas dan jarang melihat kepada maqasid (rahsia dan maslahat hukum di sebalik zahir nas) berbeza dengan fuqaha’ Iraq yang lebih melihat kepada maqasid. Mungkin disebabkan tidak banyak masalah baru yang timbul di dua tanah haram berbanding Iraq, bumi baru yang dibuka oleh orang Islam dengan majoriti masyarakatnya adalah orang-orang yang baru memeluk Islam, menjadikan mereka mengambil pendekatan sedemikian.
Dari situ muncullah madrasah an-nas yang dipelopori oleh fuqaha’ dua tanah haram dan madrasah ar-ra’yu (satu methodologi yang diambil oleh sebahagian ulama’ di dalam melakukan istinbat hukum tidak secara langsung dari zahir nas tetapi banyak melihat kepada maqasid (rahsia dan maslahat hukum di sebalik zahir nas) yang dipelopori oleh Abdullah bin Mas’ud r.a. di Kufah.
Selepas itu di zaman tabi’ien, muncul beberapa orang fuqaha’. Di antara mereka adalah Said bin al-Musayyib di Madinah, Ato’ bin Rabah di Mekah, al-Nakhaie dan as-Sya’bi di Kufah, Hasan al-Basri di Basrah, Makhul di Syam dan Towus bin Kaisan di Yaman. Setiap mereka dipengaruhi pendekatan fuqaha’ di kalangan sahabat r.a. di tempat masing-masing. Said bin al-Musayyib misalnya lebih cenderung kepada fuqaha’ dua tanah haram. Manakala al-Nakhaie lebih cenderung kepada aliran ijtihad dan istinbat Abdullah bin Mas’ud di Iraq.
Fuqaha’ di zaman tabi’ tabi’ien pula membentuk ranting-ranting aliran fiqh dan mengembangkannya dari keadaannya di zaman tabi’ien. Lahirlah fuqaha’ di negara-negara Islam dalam bentuk yang lebih luas seperti al-Laith bin Saad di Mesir, al-Auza’ie di Syam, Imam Malik dan Ibnu al-Majisyun di Madinah, Ibnu Juraih di Mekah, Abu Hanifah, Sufyan al-Thauri, Ibnu Abi Laili di Kufah, Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Syafie.
Di atas perbezaan methodologi seorang imam dengan seorang yang lain, lahirlah mazhab-mazhab Islam di dalam Islam. Ulama’ Islam tidak pernah menghadkan istilah golongan salafussoleh itu kepada Imam Ahmad bin Hanbal atau mana-mana fuqaha’ dari madrasah an-nas sahaja. Sebaliknya semua mereka mengiktiraf kesemua aliran di dalam fiqh tersebut.
Dengan itu adalah amat tidak tepat apabila seseorang melabelkan dirinya salafi hanya kerana dia berpegang dengan madrasah an-nas dan melabelkan orang lain tidak salafi hanya kerana orang itu berpegang dengan madrasah ar-ra’yu. Kedua-dua aliran ini adalah aliran yang diiktiraf di dalam Islam.
Pengikut Aliran Madrasah ar-Ra’yu Tidak Salafi?
Sememangnya terdapat satu syubhat yang ditimbulkan kepada aliran madrasah ar-ra’yu ini. Di antaranya adalah syubhat yang dilemparkan kepada Imam Abu Hanifah yang dikatakan hanya meriwayatkan hadis sebanyak 17 hadis sahaja dan Imam Malik yang dikatakan hanya meriwayatkan hadis sebanyak lebih kurang 300 hadis sahaja di dalam Muwatto’. Mereka membandingkannya dengan Imam Ahmad bin Hanbal yang meriwayatkan di dalam Musnad sebanyak 30,000 hadis. Dengan itu mereka mengatakan bahawa aliran madrasah ar-ra’yu tidak salafi kerana terlalu banyak bergantung kepada kajian maqasid dengan menggunakan akal dan tidak bersandar kepada hadis.
Dakwaan kelemahan Imam Abu Hanifah dan imam-imam lain di dalam ilmu hadis bukanlah dakwaan yang tepat. Apa yang mereka katakan adalah riwayat yang diriwayatkan oleh Ibnu Khaldun di dalam Mukadimahnya. Riwayat itu kemudian disangkal sendiri oleh Ibnu Khaldun. Beliau mengatakan: “Imam Abu Hanifah tidak banyak meriwayatkan hadis kerana beliau ketat di dalam syarat riwayat dan tahammul. Beliau juga akan mentadhiefkan hadis apabila ianya bertentangan dengan akal secara qat’ie. Dengan itu beliau tidak banyak meriwayatkan hadis. Bukan kerana beliau sengaja tidak meriwayatkan hadis. Jauh sekali dari beliau melakukan demikian. Di antara bukti bahawa beliau adalah di antara mujtahid agung di dalam ilmu hadis adalah ulama’-ulama’ hadis bersandar kepada mazhabnya.”
Begitu juga jika sekiranya kita menyelusuri susur galur madrasah ar-ra’yu ini kita akan mendapati bahawa ianya lahir dari ulama’-ulama’ hadis juga.
Ketika Abdullah bin Mas’ud r.a. mengasaskan aliran ini di Kufah, menetap di Kufah bersama-sama dengan beliau beberapa orang sahabat r.a. yang lain seperti Saad bin Abi Waqqas r.a., Huzaifah r.a., Ammar r.a., Salman r.a. dan Abu Musa al-Asyari r.a. Bahkan ketika Saidina Ali r.a. berpindah ke Kufah, beliau gembira melihat keadaan Kufah yang dipenuhi oleh fuqaha’. Generasi sahabat seperti mana yang kita ketahui adalah generasi yang menerima hadis secara langsung dari Rasulullah s.a.w.
Generasi selepas itu adalah generasi yang menghimpunkan di antara aliran fuqaha’ Kufah dan aliran madrasah an-nas dari Abdullah bin Abbas r.a. di Mekah. Di antaranya adalah Said bin Jubair.
Daripada generasi inilah Ibrahim bin Yazid al-Nakhie, seorang tabi’ien menuntut ilmu. Beliau adalah seorang ulama’ hadis yang dikatakan oleh al-A’masy, seorang ulama’ hadis: “Setiap hadis yang aku bentangkan kepada Ibrahim aku akan dapati pada beliau sesuatu ilmu.” Al-Nakhie juga pernah berkata: “Tidak akan betul pendapat tanpa hadis dan tidak akan betul hadis tanpa pendapat.”
Anak murid al-Nakhie adalah Hammad. Beliau adalah anak murid yang diiktiraf oleh al-Nakhie sebagai pewaris ilmunya. Beliau pernah ditanya oleh orang ramai: “Kepada siapakah kami akan bertanya selepas Tuan.” Beliau menjawab: “Tanyalah Hammad.”
Imam Abu Hanifah adalah anak murid Hammad. Dengan itu kita simpulkan bahawa ilmu Abu Hanifah adalah ilmu yang diwarisi dari Hammad, dari al-Nakhie dan dari fuqaha’ Kufah dari kalangan sahabat r.a.
Lalu dari manakah terletaknya kekuatan hujah mereka ketika mereka mendakwa bahawa pengikut aliran madrasah ar-ra’yu sebagai tidak salafi?
Memerangi Bid’ah dan Salafi
Sebahagian menghadkan manhaj tersebut kepada praktik Islam dalam bentuknya yang asli tanpa sebarang campur aduk. Keaslian tersebut ditafsirkan sebagai praktik Islam sebagaimana yang dipraktikkan oleh Rasulullah s.a.w. tanpa ada sebarang tambahan. Jadi mereka berusaha untuk mematikan sebarang amalan dan praktik umat Islam yang tidak pernah ada pada pandangan mereka di zaman Rasulullah s.a.w.
Kemungkinan ini mempunyai kaitan dengan sejarah hidup Imam Ahmad bin Hanbal yang terpaksa berhadapan dengan bid’ah golongan Muktazilah di zaman Khalifah al-Ma’mun. Golongan Muktazilah mengatakan bahawa al-Quran adalah makhluk dan Imam Ahmad bin Hanbal bermati-matian berusaha melawan bid’ah tersebut sehingga beliau dipenjarakan. Ia juga kemungkinan mempunyai kaitan dengan usaha mematikan bid’ah yang dilancarkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab di Semenanjung Tanah Arab.
Daripada kedua-dua mereka, difahami bahawa memerangi bid’ah dan menyucikan Islam dari sebarang campuran adalah salah satu unsur yang penting di dalam manhaj salafi.
Terdapat nas yang jelas di dalam al-Quran dan hadis yang memerintahkan kita menjauhkan diri dari bid’ah dan mempraktikkan Islam dalam bentuknya yang bersih dan tidak bercampur baur. Di antaranya adalah firman Allah: “…oleh itu, hendaklah mereka yang mengingkari perintahnya, beringat serta berjaga-jaga jangan mereka ditimpa bala bencana, atau ditimpa azab seksa yang tidak terperi sakitnya.” (An-Nur: 63). Di antaranya lagi adalah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a.: “Sesiapa yang melakukan amalan baru yang tidak ada dalam agama ini maka ia adalah tertolak.” (Riwayat Muslim)
Bid’ah mula timbul di zaman Saidina Ali r.a. Dengan masalah yang menimpa umat Islam sehingga membawa kepada pembunuhan Saidina Osman r.a., berlakunya peristiwa Unta dan peristiwa Siffin lahirlah golongan Khawarij, Syiah dan Murjiah. Setiap golongan ini membawa bid’ah yang mewakili kumpulan masing-masing. Di akhir zaman Bani Umayyah, muncul Ma’bad al-Jahni dengan fahaman qadariah (segala yang berlaku dengan ketentuan manusia). Ini disambung pula oleh anak murinya, Jahm bin Sofwan yang mencipta bid’ah ta’til (menafikan nama dan sifat bagi Allah). Kemudian datang pula giliran Muktazilah yang membawa lebih banyak bid’ah kepada umat setelah mereka terkesan banyak dengan falsafah Yunan.
Selepas dari itu satu demi satu bid’ah muncul dengan bentuknya yang pelbagai. Sehinggalah pada hari ini, umat Islam mempraktikkan Islam yang sudah bercampur dengan pelbagai bid’ah. Di antaranya percampuran lelaki perempuan dengan batasan yang terlalu longgar, fesyen-fesyen yang mendedahkan aurat, berhukum dengan hukum lain dari syariat Islam dan takrifan semula terhadap jihad dengan satu takrifan yang mengelirukan. Semuanya sudah diterima sebagai budaya dan cara fikir. Ini semua adalah bid’ah.
Kami amat-amat bersetuju jika golongan yang mendakwa mereka salafi ini memerangi bid’ah-bid’ah di atas. Kami menyokong sepenuhnya usaha mereka. Bahkan kami juga sedang berusaha ke arah yang sama seperti mereka.
Apa yang mendukacitakan adalah apabila takrif bid’ah itu diluaskan sehingga dimasukkan sekali di dalam takrif tersebut beberapa amalan seperti sambutan maulid Nabi, bacaan Yasin di malam Jumaat dan lain-lain. Amalan-amalan tersebut tidak sepatutnya dimasukkan ke dalam kategori bid’ah yang sepatutnya diperangi. Ia mungkin bukan amalan yang afdhal, tetapi khilaf ulama’ di dalam membincangkan amalan-amalan ini masih berterusan sehingga ke hari ini. Lahirnya pandangan yang mengatakan harus dan sebagainya mengajak kita untuk bersikap berlapang dada dan menghimpunkan umat Islam di dalam satu kesatuan bukannya melahirkan pemisahan di antara pengikut pandangan yang pelbagai.
Itu yang kita dapati berlaku di sepanjang sejarah Islam dalam usaha ulama’-ulama’ Islam memerangi bid’ah. Apa yang mereka perangi adalah bid’ah yang sudah disepakati hukum haramnya. Manakala mana-mana amalan yang masih khilaf mereka tidak memeranginya sebaliknya mereka mengambil sikap berlapang dada di dalam masalah itu.
Bid’ah di dalam Islam tidak dikategorikan kepada satu kategori sahaja. Ini adalah pendapat ulama’ salaf sendiri. Di antara mereka adalah Imam Syafie yang membahagikan bid’ah kepada bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah saiyi’ah (buruk). Itu juga adalah pendapat Abdullah bin Omar r.a., di antara pelopor madrasah an-nas sebagaimana yang kami ceritakan sebelum ini. Di dalam satu athar yang diriwayatkan oleh Mujahid katanya: “Aku, Zubair dan Urwah memasuki masjid. Abdullah bin Omar r.a. ketika itu berada di tepi bilik Aisyah r.a. dan orang ramai sedang mengerjakan solat Dhuha secara berjemaah. Kami bertanya kepadanya tentang solat mereka lalu beliau r.a. menjawab: “Itu adalah bid’ah yang baik.” (Riwayat Bukhari, Muslim dan Ahmad)(rujuk nota kaki)
Dengan tasawwur inilah kami melihat pemikiran salafi yang sebenarnya. Ramai lagi ulama’ lain yang mengambil pendekatan yang sama di dalam mengkategorkan bid’ah tetapi kami tidak kemukakan pandangan mereka di sini kerana mereka adalah ulama’-ulama’ yang kemungkinan tidak diterima oleh golongan yang mendakwa mereka salafi.
Tiada Taqlid: Praktik Islam Secara Langsung Dari Nas Tanpa Rujuk Kepada Fuqaha’
Ini juga kemungkinan adalah salah satu pendekatan yang difahami oleh golongan ini sebagai manhaj salafi yang sebenarnya. Sesiapa yang tidak mengambil pendekatan ini, mereka bukan salafi. Dengan itu mereka berusaha untuk menghapuskan budaya taqlid kepada mazhab tertentu yang menjadi amalan majoriti umat Islam pada hari ini. Mereka melaung-laungkan slogan tidak bermazhab dan mendesak umat untuk mengkaji al-Quran dan hadis secara langsung.
Kami menyetujui usaha mereka untuk meningkatkan kemampuan seseorang sehingga sampai ke peringkat ijtihad dan mampu mengeluarkan fatwa. Tetapi di masa yang sama kami tidak menolak keperluan taqlid kepada majoriti umat Islam pada hari ini.
Ingin kami kongsikan di sini, ijtihad dan fatwa bukanlah kemahiran yang boleh dicapai dalam sehari dua. Ia adalah proses yang panjang dan tidak mudah. Ibnu Solah, seorang ulama’ hadis yang terkenal pernah ditanya adakah Imam al-Juwaini, Imam al-Ghazali, Imam Abu Ishak sampai ke peringkat ijtihad mutlak atau pun tidak? Beliau menjawab: “Mereka tidak sampai ke peringkat ijtihad mutlak. Sebaliknya mereka hanya sampai ke peringkat ijtihad muqayyad di dalam mazhab Syafie. Ijtihad mutlak adalah satu tahap yang dicapai jika seseorang itu mampu mengeluarkan hukum syarak dari dalilnya tanpa taqlid. Ijtihad muqayyad adalah satu tahap yang dicapai jika seseorang itu mahir di dalam mazhab mana-mana imam sehingga dia mampu untuk mengeluarkan hukum terhadap sesuatu yang tidak disebut oleh imam itu setelah dikiaskan dengan hukum yang disebut oleh imam itu berdasarkan kaedah dan usul mazhab imam tersebut.”
Dari kata-kata beliau kita dapat fahami kesukaran untuk menjadi seorang mujtahid. Itu juga adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal ketika beliau berkata: “Tidak seharusnya seseorang itu mengeluarkan fatwa sehinggalah dia memiliki lima perkara: Hendaklah dia mempunyai niat (ikhlas) kerana jika dia tidak berniat, dia tidak akan mendapat petunjuk dan kata-katanya juga tidak akan mendapat petunjuk. Dia hendaklah berilmu, lembut dan tenang. Dia hendaklah mempunyai kekuatan terhadap masalah fatwanya dan mempunyai ilmu terhadap masalah tersebut. Dia hendaklah mempunyai kemampuan jika tidak dia akan diperdaya oleh manusia. Dia hendaklah mengenali manusia.”
Kesukaran berfatwa dan ijtihad inilah sebenarnya yang membenarkan taqlid kepada mana-mana mazhab dipraktikkan di dalam umat hari ini. Bahkan amalan taqlid itu juga sebenarnya dipraktikkan oleh generasi umat sebelum ini.
Al-Amidi di dalam kitab al-Ihkam berkata: “Ada pun ijma’ terhadap masalah ini adalah kerana orang awam di zaman sahabat r.a. dan tabi’ien terus menerus bertanyakan fatwa dari kalangan mujtahid dan mengikut pendapat mereka di dalam permasalahan hukum syara’. Ulama’ di kalangan mereka bersegera menjawab segala pertanyaan tanpa mendatangkan dalil. Ini adalah ijma’ bahawa seorang awam harus bertaqlid kepada seorang mujtahid mutlak.”
Penduduk dua tanah haram mempraktikkan mazhab Abdullah bin Omar r.a. dan anak muridnya untuk satu tempoh yang panjang tanpa dibantah oleh mana-mana ulama’ pada zaman itu. Seterusnya Ato’ bin Robah dan Mujahid memberi fatwa kepada penduduk Mekah untuk satu tempoh yang panjang. Wakil khalifah pada masa itu melaungkan: “Tidak ada seorang pun yang akan berfatwa kepada orang ramai selain dari dua orang imam ini.” Keadaan tersebut berjalan tanpa dibantah oleh mana-mana ulama’ pada zaman itu.
Imam Ibnu al-Qayyim, anak murid Ibnu Taimiyah, seorang ulama’ yang menjadi rujukan golongan ini berkata: “Harus bertaqlid bagi seseorang yang belum sampai ke peringkat ijtihad. Dia hendaklah mengikuti seorang imam, meminta petunjuk darinya dan bertaqlid kepadanya di dalam masalah halal dan haram. Orang seperti ini tidak boleh mengeluarkan fatwa kepada manusia walau pun dia mempunyai banyak kitab hadis.”
Ini adalah pendapat yang tepat. Pendekatan memaksa umat Islam; yang cerdik dan tidak cerdik untuk merujuk terus kepada al-Quran dan hadis adalah satu bebanan yang tidak perlu ditanggung oleh umat. Bagaimana mampu rakyat Malaysia mengeluarkan hukum untuk amalan dirinya sendiri secara langsung dari al-Quran dan hadis sedangkan dia masih lagi tidak mampu untuk membaca al-Quran dengan tajwid yang betul dan membaca hadis dengan baris yang betul?
Kesimpulan
Banyak lagi isu berkaitan salafi ini yang boleh dibincangkan. Kami belum lagi menyentuh tentang salafi dan Ikhwan Muslimin. Ia juga merupakan satu topik yang panjang diperdebatkan di Saudi satu ketika dahulu dan baru-baru ini bahangnya sampai ke tanah air kita ini. Ia berkait dengan isu bai’ah, konsep amal jama’ie, fikrah haraki dan isu-isu lain yang terlalu banyak untuk ditulis di sini.
Apa yang dapat kami simpulkan di sini adalah istilah salafi sebenarnya telah disalah gunakan oleh sebahagian pihak. Penyalahgunaan istilah tersebut telah membawa kepada munculnya khilaf fiqhi yang panjang dan budaya salah menyalah di antara satu sama lain. Masing-masing akan mempertahankan kebenaran yang dilihatnya ada pada pihaknya dan tidak ada pada pihak lain.
Alangkah baiknya jika sekiranya kita semua mampu untuk berlapang dada di dalam masalah-masalah furu’ dan melakukan perbincangan ilmiah yang bersih dari sebarang sentimen dan emosi. Penyatuan dan penerimaan methodologi berfikir juga adalah jalan yang perlu kita rentasi bersama untuk mencapai kesatuan pemikiran dan umat. Berikanlah hak kepada semua pihak untuk mempraktikkan apa yang dilihatnya sebagai Islam selagi mana ianya tidak bertentangan dengan al-Quran dan as-Sunnah. Amalkanlah Islam yang syumul dan umum yang mampu menyatukan bukannya Islam yang sempit yang hanya melahirkan kumpulan-kumpulan.
Wallahu al-Musta’an
nota kaki:
terdapat kesilapan pada hadis ini. Yang benarnya adalah seperti berikut:
فَرَوَى سَعِيد بْن مَنْصُور بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ اِبْن عُمَر أَنَّهُ قَالَ : إِنَّهَا مُحْدَثَةٌ وَإِنَّهَا لَمِنْ أَحْسِنِ مَا أَحْدَثُوا ، وَسَيَأْتِي فِي أَوَّلِ أَبْوَابِ اَلْعُمْرَةِ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ ” دَخَلْت أَنَا وَعُرْوَة بْن اَلزُّبَيْر اَلْمَسْجِدَ فَإِذَا عَبْد اَللَّه بْن عُمَر جَالِسٌ إِلَى حُجْرَةِ عَائِشَة وَإِذَا نَاس يُصَلُّونَ اَلضُّحَى ، فَسَأَلْنَاهُ عَنْ صَلَاتِهِمْ فَقَالَ : بِدْعَة ” . وَرَوَى اِبْن أَبِي شَيْبَة بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ اَلْحَكَمِ بْن اَلْأَعْرَجِ عَنْ اَلْأَعْرَجِ قَالَ : سَأَلْتُ اِبْن عُمَر عَنْ صَلَاةِ اَلضُّحَى فَقَالَ : بِدْعَةٌ وَنِعْمَتْ اَلْبِدْعَة .
- Yang disebut di dalam riwayat adalah Urwah bin Zubair bukan Zubair bin Awwam r.a.
- Orang ramai keluar ke masjid untuk solat dhuha berlaku seperti di dalam riwayat, cuma tidak disebutkan berjemaah.
- Ibnu Umar r.a juga pernah mengungkapkan kalimah ‘itu adalah bid’ah yang baik’ merujuk kepada perbuatan orang ramai keluar ke masjid untuk mengerjakan solat Dhuha seperti mana yang
sumber asal artikel
Naib Presiden II, Ikatan Muslimin Malaysia (ISMA)
Isu salafi sekali lagi menjadi buah mulut sebahagian dari pendakwah sejak kebelakangan ini. Ini mungkin disebabkan perbincangan semula terhadap kesahihan beberapa amalan masyarakat Melayu Islam di Malaysia yang berlaku pada peringkat nasional pada tahun lepas. Mungkin juga disebabkan beberapa pertikaian yang ditimbulkan oleh sebahagian pihak terhadap kaedah, pendekatan dan uslub dakwah Ikhwan yang mula mendapat tempat di dalam hati sebahagian aktivis dakwah dan beberapa gerakan Islam di tanahair. Perbincangan tentang isu salafi ini banyak berkisar di sekitar dua isu ini; amalan masyarakat Melayu Islam yang merupakan khilaf fiqhi dan manhaj dakwah.
Persoalan akidah yang sebenarnya salah satu dari asas isu salafi ini kita dapati tidak begitu ketara dibincangkan di Malaysia. Sebaliknya isu yang ditimbulkan adalah isu tahlil, talqin, bacaan Yasin di malam Jumaat, bacaan Qunut di dalam solat Subuh, penyelewengan Sayyid Qutb, bid’ah usrah, kesalahan-kesalahan di dalam tafsir fi Zilal al-Quran, bid’ah ta’wil nas dan lain-lain isu seumpamanya.
Takrif Salafi Yang Kurang Tepat
Banyak pihak mendakwa mereka adalah salafi. Sebahagian kecil sahaja dari kalangan mereka yang memahami apakah yang dimaksudkan dari kalimah salafi tersebut. Manakala bakinya melakukan dakwaan tanpa sandaran ilmu. Dengan berpandukan ilmu yang sedikit itu mereka mula menuduh pihak lain ‘tidak salafi’ atau ‘kurang salafi’ berbanding mereka.
Sebahagian dari mereka mengatakan salafi adalah pengikut ‘madrasah an-nas’, iaitu satu methodologi yang diambil oleh sebahagian ulama’ di dalam melakukan istinbat hukum secara langsung dari zahir nas tanpa banyak melihat kepada maqasid (rahsia dan maslahat hukum di sebalik zahir nas). Dengan itu mereka berpegang kepada zahir nas dari al-Quran atau hadis dan menolak methodologi yang digunakan oleh ulama’ yang lain. Mereka mengambil jalan mudah dengan mempraktikkan Islam terus dari al-Quran dan Sunnah tanpa merujuk kepada tafsiran dan pendapat ulama’-ulama’ berkenaan tafsiran nas tersebut, satu amalan yang sebenarnya bertentangan dengan praktik pelopor madrasah an-nas itu sendiri.
Sebahagian yang lain mengatakan salafi adalah sesiapa yang mempraktikkan mazhab Imam Ahmad bin Hanbal. Dengan itu mereka memaksakan beberapa pendapat mazhab Hanbali kepada umat Islam di Malaysia yang majoritinya adalah bermazhab Syafie. Hujah mereka kerana fiqh mazhab Hanbali ‘lebih salafi’ dari mazhab-mazhab yang lain.
Sebahagian yang lain pula mengatakan salafi adalah pendekatan dakwah Muhammad bin Abdul Wahab, pelopor gerakan Wahabi di Arab Saudi. Malangnya apa yang mereka fahami dari gerakan Wahabi ini hanyalah sebahagian dari perjuangannya sahaja. Mereka tidak mengkaji keseluruhan gerakan tersebut. Dengan itu mereka menyimpulkan bahawa gerakan Wahabi adalah gerakan membenteras bid’ah yang berlaku di Semenanjung Tanah Arab satu kurun yang lepas. Itulah yang cuba mereka lakukan di Malaysia. Alangkah baiknya jika mereka mengkaji jihad Muhammad bin Abdul Wahab dan usaha-usaha pembaikan sistem khilafah yang dilakukan oleh beliau ketika itu. Moga-moga kajian itu dapat menyingkap hakikat salafi yang sebenarnya kepada mereka dan menjelaskan perbezaan di antara gerakan Muhammad bin Abdul Wahab dengan apa yang disebut sebagai Wahabi pada hari ini.
Takrif Salafi Mengikut Manhaj Salafi Kami
Kami meminta maaf kerana menggunakan istilah ‘salafi kami’. Ini bukan dengan tujuan untuk memperkecilkan sebahagian yang mendakwa mereka salafi atau untuk menidakkan ‘salafi’ mereka. Kami juga berusaha seperti mereka untuk menjadi salafi. Jadi penggunaan istilah ini lebih bertujuan untuk menjelaskan beberapa perbezaan di antara kami dan mereka di dalam beberapa isu berkaitan salafi. Istilah ini sudah tentulah lebih baik dan lebih lembut dari istilah sebahagian penulis di dalam blog-blog yang menggunakan istilah ‘salafi lapok’ dan sebagainya.
Mereka yang mengaku salafi sering mengajak kita semua untuk kembali kepada kefahaman al-Quran dan Sunnah yang sebenar dan merujuk segala masalah kepada nasnya. Ini adalah pendekatan yang kami persetujui dan kami juga mengajak semua orang Islam ke arah yang sama; kembali kepada nas.
Dengan itu di dalam mentakrifkan ‘salafi’ kami ingin mengajak mereka dan semua pembaca untuk mengembalikan istilah ini kepada nasnya. Dari manakah datangnya istilah ‘salafi’ ini?
Ia adalah hasil kefahaman yang digabungkan dari beberapa buah hadis. Di antaranya sabda Rasulullah s.a.w.:
“Telah terpecah orang-orang Yahudi menjadi tujuh puluh satu golongan dan terpecah orang Nasrani menjadi tujuh puluh dua golongan. Akan terpecah umatku menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya dalam neraka, kecuali satu golongan.” Para sahabat bertanya: “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Baginda menjawab: “Mereka adalah orang yang berdiri di atas apa yang aku dan para sahabatku berdiri di atasnya.” (Riwayat Abu Daud)
Satu lagi hadis mutawatir menyempurnakan makna ini: “Sebaik-baik kurun adalah kurunku, kemudian generasi sesudahnya dan kemudian generasi sesudahnya.”
Daripada hadis-hadis tersebut dapatlah kita fahami bahawa yang dimaksudkan dengan salafi adalah satu kelompok yang dikenali di dalam sejarah perundangan Islam sebagai salafussoleh. Mereka adalah kelompok terbaik di dalam sepanjang sejarah Islam. Mereka adalah tiga generasi Islam bermula dari zaman Rasulullah s.a.w. dan berakhir di pemerintahan al-Makmun di zaman Abbasiah. Itu adalah pendapat sebahagian ulama’ hari ini termasuklah seorang ulama’ Mesir, Dr. Jum’ah Amin Abdul Aziz.
Apa yang ada pada mereka sehingga mereka digelar golongan salafussoleh?
Mereka adalah generasi manusia yang hidup di tiga generasi pertama Islam. Mereka mempunyai manhaj tertentu di dalam akidah. Dengan manhaj itu mereka menafsirkan alam, kehidupan dan manusia berpandukan sumber Islam yang asli iaitu al-Quran dan Sunnah, jauh dari pengaruh falsafah Yunan dan falsafah-falsafah tamadun lain. Mereka membangunkan sistem ibadah di atas manhaj yang syumul dan umum hasil dari aqidah yang sejahtera dan praktik sunnah yang tepat. Mereka hanya memberikan wala’ kepada Allah dan Rasul serta berjuang untuk menegakkan kalimah Allah di atas muka bumi dengan manhaj dakwah yang ditunjukkan oleh Rasulullah s.a.w. Mereka mempunyai manhaj haraki berpandukan manhaj dakwah Rasulullah s.a.w. yang mampu mengumpulkan seluruh umat di dalam satu kesatuan.
Adakah istilah salafi merujuk kepada zaman atau manhaj?
Jika istilah salafi merujuk kepada zaman, maka ianya sudah berlalu. Tidak ada sesiapa yang boleh mendakwa bahawa mereka adalah salafi. Bahkan dakwaan bahawa mazhab Hanbali lebih salafi dari yang lainnya juga adalah tidak tepat. Sumbangan setiap pengasas mazhab yang hidup di zaman itu kepada umat adalah sama. Mereka saling hormat menghormati di antara satu sama lain. Bahkan jika Imam Ahmad bin Hanbal masih hidup sekarang, kami yakin dia juga bersetuju dengan kesalafian imam-imam yang lain.
Jika istilah salafi merujuk kepada manhaj, maka sesiapa yang mengikuti manhaj tiga generasi tersebut di dalam praktik Islam maka merekalah salafi sebenar. Manhaj itu merangkumi tasawwur di dalam akidah, ibadah dan harakah dakwah.
Jadi persoalan seterusnya adalah apakah manhaj yang dipraktikkan oleh generasi itu?
Madrasah an-Nas dan Salafi
Sebahagian menghadkan manhaj tersebut kepada manhaj madrasah an-nas sahaja atau kepada mazhab Ahmad bin Hanbal sahaja. Sesiapa yang mengikuti manhaj tersebut maka merekalah salafi. Itu yang menjadi punca sebahagian dari pendakwah Islam hari ini berusaha dengan usaha yang sungguh-sungguh untuk mengembalikan umat Islam kepada manhaj ini dan mengajak umat untuk menolak manhaj selainnya. Dengan erti kata lain mereka mula menolak ta’wil, menolak untuk menafsirkan nas berdasarkan ilal nas, menolak untuk membuat imbangan antara ruh nas dan lafaz, menolak untuk membuat imbangan antara zahir nas dan maqasid, menolak untuk membuat imbangan antara wasilah yang berubah dan hadaf yang thabit daripada nas, tidak meraikan perbezaan di antara lafaz majazi dan lafaz hakiki, tidak mengambil kita perubahan madlul lafaz dengan perubahan zaman dan lain-lain methodologi istinbat hukum dari nas yang digunapakai oleh aliran-aliran lain di dalam fiqh Islami.
Kami tidak bermaksud untuk merumitkan pembaca dengan istilah-istilah usul yang memeningkan. Apa yang ingin kami terangkan di sini adalah madrasah an-nas adalah satu aliran dari pelbagai aliran di dalam fiqh. Apa yang menjadi methodologi madrasah an-nas ini juga tidaklah tepat seperti mana yang mereka fahami. Kalau sekiranya mereka mengikuti aliran madrasah an-nas ini dengan betul, mereka tidak akan menolak aliran-aliran yang lain kerana pelopor madrasah an-nas ini juga tidak pernah menolak methodologi aliran lain.
Dengan itu kami tegaskan di sini bahawa manhaj tiga generasi awal Islam itu tidak hanya terbatas kepada madrasah an-nas sahaja. Sebaliknya ia merangkumi kesemua aliran di dalam fiqh Islami.
Di sini mungkin membantu pembaca untuk memahami aliran-aliran fiqh pada tiga generasi itu dengan membentangkan sedikit ringkasan sejarah aliran-aliran fiqh sehingga membawa ke pembentukan mazhab-mazhab.
Sesudah kewafatan Rasulullah s.a.w., para fuqaha’ di kalangan sahabat r.a. bertebaran di negara-negara Islam. Ibnu Abbas r.a. menetap di Mekah dan mempunyai murid-muridnya yang tersendiri. Abdullah bin Omar r.a. menetap di Madinah dan membentuk madrasahnya dan anak-anak muridnya. Ibnu Mas’ud r.a. tinggal menetap di Kufah dan mempunyai murid-muridnya sendiri. Setiap mereka mempunyai pendekatan yang tersendiri di dalam ijtihad dan istinbat hukum.
Fuqaha’ dua tanah haram, Mekah dan Madinah lebih berpegang kepada nas dan jarang melihat kepada maqasid (rahsia dan maslahat hukum di sebalik zahir nas) berbeza dengan fuqaha’ Iraq yang lebih melihat kepada maqasid. Mungkin disebabkan tidak banyak masalah baru yang timbul di dua tanah haram berbanding Iraq, bumi baru yang dibuka oleh orang Islam dengan majoriti masyarakatnya adalah orang-orang yang baru memeluk Islam, menjadikan mereka mengambil pendekatan sedemikian.
Dari situ muncullah madrasah an-nas yang dipelopori oleh fuqaha’ dua tanah haram dan madrasah ar-ra’yu (satu methodologi yang diambil oleh sebahagian ulama’ di dalam melakukan istinbat hukum tidak secara langsung dari zahir nas tetapi banyak melihat kepada maqasid (rahsia dan maslahat hukum di sebalik zahir nas) yang dipelopori oleh Abdullah bin Mas’ud r.a. di Kufah.
Selepas itu di zaman tabi’ien, muncul beberapa orang fuqaha’. Di antara mereka adalah Said bin al-Musayyib di Madinah, Ato’ bin Rabah di Mekah, al-Nakhaie dan as-Sya’bi di Kufah, Hasan al-Basri di Basrah, Makhul di Syam dan Towus bin Kaisan di Yaman. Setiap mereka dipengaruhi pendekatan fuqaha’ di kalangan sahabat r.a. di tempat masing-masing. Said bin al-Musayyib misalnya lebih cenderung kepada fuqaha’ dua tanah haram. Manakala al-Nakhaie lebih cenderung kepada aliran ijtihad dan istinbat Abdullah bin Mas’ud di Iraq.
Fuqaha’ di zaman tabi’ tabi’ien pula membentuk ranting-ranting aliran fiqh dan mengembangkannya dari keadaannya di zaman tabi’ien. Lahirlah fuqaha’ di negara-negara Islam dalam bentuk yang lebih luas seperti al-Laith bin Saad di Mesir, al-Auza’ie di Syam, Imam Malik dan Ibnu al-Majisyun di Madinah, Ibnu Juraih di Mekah, Abu Hanifah, Sufyan al-Thauri, Ibnu Abi Laili di Kufah, Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Syafie.
Di atas perbezaan methodologi seorang imam dengan seorang yang lain, lahirlah mazhab-mazhab Islam di dalam Islam. Ulama’ Islam tidak pernah menghadkan istilah golongan salafussoleh itu kepada Imam Ahmad bin Hanbal atau mana-mana fuqaha’ dari madrasah an-nas sahaja. Sebaliknya semua mereka mengiktiraf kesemua aliran di dalam fiqh tersebut.
Dengan itu adalah amat tidak tepat apabila seseorang melabelkan dirinya salafi hanya kerana dia berpegang dengan madrasah an-nas dan melabelkan orang lain tidak salafi hanya kerana orang itu berpegang dengan madrasah ar-ra’yu. Kedua-dua aliran ini adalah aliran yang diiktiraf di dalam Islam.
Pengikut Aliran Madrasah ar-Ra’yu Tidak Salafi?
Sememangnya terdapat satu syubhat yang ditimbulkan kepada aliran madrasah ar-ra’yu ini. Di antaranya adalah syubhat yang dilemparkan kepada Imam Abu Hanifah yang dikatakan hanya meriwayatkan hadis sebanyak 17 hadis sahaja dan Imam Malik yang dikatakan hanya meriwayatkan hadis sebanyak lebih kurang 300 hadis sahaja di dalam Muwatto’. Mereka membandingkannya dengan Imam Ahmad bin Hanbal yang meriwayatkan di dalam Musnad sebanyak 30,000 hadis. Dengan itu mereka mengatakan bahawa aliran madrasah ar-ra’yu tidak salafi kerana terlalu banyak bergantung kepada kajian maqasid dengan menggunakan akal dan tidak bersandar kepada hadis.
Dakwaan kelemahan Imam Abu Hanifah dan imam-imam lain di dalam ilmu hadis bukanlah dakwaan yang tepat. Apa yang mereka katakan adalah riwayat yang diriwayatkan oleh Ibnu Khaldun di dalam Mukadimahnya. Riwayat itu kemudian disangkal sendiri oleh Ibnu Khaldun. Beliau mengatakan: “Imam Abu Hanifah tidak banyak meriwayatkan hadis kerana beliau ketat di dalam syarat riwayat dan tahammul. Beliau juga akan mentadhiefkan hadis apabila ianya bertentangan dengan akal secara qat’ie. Dengan itu beliau tidak banyak meriwayatkan hadis. Bukan kerana beliau sengaja tidak meriwayatkan hadis. Jauh sekali dari beliau melakukan demikian. Di antara bukti bahawa beliau adalah di antara mujtahid agung di dalam ilmu hadis adalah ulama’-ulama’ hadis bersandar kepada mazhabnya.”
Begitu juga jika sekiranya kita menyelusuri susur galur madrasah ar-ra’yu ini kita akan mendapati bahawa ianya lahir dari ulama’-ulama’ hadis juga.
Ketika Abdullah bin Mas’ud r.a. mengasaskan aliran ini di Kufah, menetap di Kufah bersama-sama dengan beliau beberapa orang sahabat r.a. yang lain seperti Saad bin Abi Waqqas r.a., Huzaifah r.a., Ammar r.a., Salman r.a. dan Abu Musa al-Asyari r.a. Bahkan ketika Saidina Ali r.a. berpindah ke Kufah, beliau gembira melihat keadaan Kufah yang dipenuhi oleh fuqaha’. Generasi sahabat seperti mana yang kita ketahui adalah generasi yang menerima hadis secara langsung dari Rasulullah s.a.w.
Generasi selepas itu adalah generasi yang menghimpunkan di antara aliran fuqaha’ Kufah dan aliran madrasah an-nas dari Abdullah bin Abbas r.a. di Mekah. Di antaranya adalah Said bin Jubair.
Daripada generasi inilah Ibrahim bin Yazid al-Nakhie, seorang tabi’ien menuntut ilmu. Beliau adalah seorang ulama’ hadis yang dikatakan oleh al-A’masy, seorang ulama’ hadis: “Setiap hadis yang aku bentangkan kepada Ibrahim aku akan dapati pada beliau sesuatu ilmu.” Al-Nakhie juga pernah berkata: “Tidak akan betul pendapat tanpa hadis dan tidak akan betul hadis tanpa pendapat.”
Anak murid al-Nakhie adalah Hammad. Beliau adalah anak murid yang diiktiraf oleh al-Nakhie sebagai pewaris ilmunya. Beliau pernah ditanya oleh orang ramai: “Kepada siapakah kami akan bertanya selepas Tuan.” Beliau menjawab: “Tanyalah Hammad.”
Imam Abu Hanifah adalah anak murid Hammad. Dengan itu kita simpulkan bahawa ilmu Abu Hanifah adalah ilmu yang diwarisi dari Hammad, dari al-Nakhie dan dari fuqaha’ Kufah dari kalangan sahabat r.a.
Lalu dari manakah terletaknya kekuatan hujah mereka ketika mereka mendakwa bahawa pengikut aliran madrasah ar-ra’yu sebagai tidak salafi?
Memerangi Bid’ah dan Salafi
Sebahagian menghadkan manhaj tersebut kepada praktik Islam dalam bentuknya yang asli tanpa sebarang campur aduk. Keaslian tersebut ditafsirkan sebagai praktik Islam sebagaimana yang dipraktikkan oleh Rasulullah s.a.w. tanpa ada sebarang tambahan. Jadi mereka berusaha untuk mematikan sebarang amalan dan praktik umat Islam yang tidak pernah ada pada pandangan mereka di zaman Rasulullah s.a.w.
Kemungkinan ini mempunyai kaitan dengan sejarah hidup Imam Ahmad bin Hanbal yang terpaksa berhadapan dengan bid’ah golongan Muktazilah di zaman Khalifah al-Ma’mun. Golongan Muktazilah mengatakan bahawa al-Quran adalah makhluk dan Imam Ahmad bin Hanbal bermati-matian berusaha melawan bid’ah tersebut sehingga beliau dipenjarakan. Ia juga kemungkinan mempunyai kaitan dengan usaha mematikan bid’ah yang dilancarkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab di Semenanjung Tanah Arab.
Daripada kedua-dua mereka, difahami bahawa memerangi bid’ah dan menyucikan Islam dari sebarang campuran adalah salah satu unsur yang penting di dalam manhaj salafi.
Terdapat nas yang jelas di dalam al-Quran dan hadis yang memerintahkan kita menjauhkan diri dari bid’ah dan mempraktikkan Islam dalam bentuknya yang bersih dan tidak bercampur baur. Di antaranya adalah firman Allah: “…oleh itu, hendaklah mereka yang mengingkari perintahnya, beringat serta berjaga-jaga jangan mereka ditimpa bala bencana, atau ditimpa azab seksa yang tidak terperi sakitnya.” (An-Nur: 63). Di antaranya lagi adalah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a.: “Sesiapa yang melakukan amalan baru yang tidak ada dalam agama ini maka ia adalah tertolak.” (Riwayat Muslim)
Bid’ah mula timbul di zaman Saidina Ali r.a. Dengan masalah yang menimpa umat Islam sehingga membawa kepada pembunuhan Saidina Osman r.a., berlakunya peristiwa Unta dan peristiwa Siffin lahirlah golongan Khawarij, Syiah dan Murjiah. Setiap golongan ini membawa bid’ah yang mewakili kumpulan masing-masing. Di akhir zaman Bani Umayyah, muncul Ma’bad al-Jahni dengan fahaman qadariah (segala yang berlaku dengan ketentuan manusia). Ini disambung pula oleh anak murinya, Jahm bin Sofwan yang mencipta bid’ah ta’til (menafikan nama dan sifat bagi Allah). Kemudian datang pula giliran Muktazilah yang membawa lebih banyak bid’ah kepada umat setelah mereka terkesan banyak dengan falsafah Yunan.
Selepas dari itu satu demi satu bid’ah muncul dengan bentuknya yang pelbagai. Sehinggalah pada hari ini, umat Islam mempraktikkan Islam yang sudah bercampur dengan pelbagai bid’ah. Di antaranya percampuran lelaki perempuan dengan batasan yang terlalu longgar, fesyen-fesyen yang mendedahkan aurat, berhukum dengan hukum lain dari syariat Islam dan takrifan semula terhadap jihad dengan satu takrifan yang mengelirukan. Semuanya sudah diterima sebagai budaya dan cara fikir. Ini semua adalah bid’ah.
Kami amat-amat bersetuju jika golongan yang mendakwa mereka salafi ini memerangi bid’ah-bid’ah di atas. Kami menyokong sepenuhnya usaha mereka. Bahkan kami juga sedang berusaha ke arah yang sama seperti mereka.
Apa yang mendukacitakan adalah apabila takrif bid’ah itu diluaskan sehingga dimasukkan sekali di dalam takrif tersebut beberapa amalan seperti sambutan maulid Nabi, bacaan Yasin di malam Jumaat dan lain-lain. Amalan-amalan tersebut tidak sepatutnya dimasukkan ke dalam kategori bid’ah yang sepatutnya diperangi. Ia mungkin bukan amalan yang afdhal, tetapi khilaf ulama’ di dalam membincangkan amalan-amalan ini masih berterusan sehingga ke hari ini. Lahirnya pandangan yang mengatakan harus dan sebagainya mengajak kita untuk bersikap berlapang dada dan menghimpunkan umat Islam di dalam satu kesatuan bukannya melahirkan pemisahan di antara pengikut pandangan yang pelbagai.
Itu yang kita dapati berlaku di sepanjang sejarah Islam dalam usaha ulama’-ulama’ Islam memerangi bid’ah. Apa yang mereka perangi adalah bid’ah yang sudah disepakati hukum haramnya. Manakala mana-mana amalan yang masih khilaf mereka tidak memeranginya sebaliknya mereka mengambil sikap berlapang dada di dalam masalah itu.
Bid’ah di dalam Islam tidak dikategorikan kepada satu kategori sahaja. Ini adalah pendapat ulama’ salaf sendiri. Di antara mereka adalah Imam Syafie yang membahagikan bid’ah kepada bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah saiyi’ah (buruk). Itu juga adalah pendapat Abdullah bin Omar r.a., di antara pelopor madrasah an-nas sebagaimana yang kami ceritakan sebelum ini. Di dalam satu athar yang diriwayatkan oleh Mujahid katanya: “Aku, Zubair dan Urwah memasuki masjid. Abdullah bin Omar r.a. ketika itu berada di tepi bilik Aisyah r.a. dan orang ramai sedang mengerjakan solat Dhuha secara berjemaah. Kami bertanya kepadanya tentang solat mereka lalu beliau r.a. menjawab: “Itu adalah bid’ah yang baik.” (Riwayat Bukhari, Muslim dan Ahmad)(rujuk nota kaki)
Dengan tasawwur inilah kami melihat pemikiran salafi yang sebenarnya. Ramai lagi ulama’ lain yang mengambil pendekatan yang sama di dalam mengkategorkan bid’ah tetapi kami tidak kemukakan pandangan mereka di sini kerana mereka adalah ulama’-ulama’ yang kemungkinan tidak diterima oleh golongan yang mendakwa mereka salafi.
Tiada Taqlid: Praktik Islam Secara Langsung Dari Nas Tanpa Rujuk Kepada Fuqaha’
Ini juga kemungkinan adalah salah satu pendekatan yang difahami oleh golongan ini sebagai manhaj salafi yang sebenarnya. Sesiapa yang tidak mengambil pendekatan ini, mereka bukan salafi. Dengan itu mereka berusaha untuk menghapuskan budaya taqlid kepada mazhab tertentu yang menjadi amalan majoriti umat Islam pada hari ini. Mereka melaung-laungkan slogan tidak bermazhab dan mendesak umat untuk mengkaji al-Quran dan hadis secara langsung.
Kami menyetujui usaha mereka untuk meningkatkan kemampuan seseorang sehingga sampai ke peringkat ijtihad dan mampu mengeluarkan fatwa. Tetapi di masa yang sama kami tidak menolak keperluan taqlid kepada majoriti umat Islam pada hari ini.
Ingin kami kongsikan di sini, ijtihad dan fatwa bukanlah kemahiran yang boleh dicapai dalam sehari dua. Ia adalah proses yang panjang dan tidak mudah. Ibnu Solah, seorang ulama’ hadis yang terkenal pernah ditanya adakah Imam al-Juwaini, Imam al-Ghazali, Imam Abu Ishak sampai ke peringkat ijtihad mutlak atau pun tidak? Beliau menjawab: “Mereka tidak sampai ke peringkat ijtihad mutlak. Sebaliknya mereka hanya sampai ke peringkat ijtihad muqayyad di dalam mazhab Syafie. Ijtihad mutlak adalah satu tahap yang dicapai jika seseorang itu mampu mengeluarkan hukum syarak dari dalilnya tanpa taqlid. Ijtihad muqayyad adalah satu tahap yang dicapai jika seseorang itu mahir di dalam mazhab mana-mana imam sehingga dia mampu untuk mengeluarkan hukum terhadap sesuatu yang tidak disebut oleh imam itu setelah dikiaskan dengan hukum yang disebut oleh imam itu berdasarkan kaedah dan usul mazhab imam tersebut.”
Dari kata-kata beliau kita dapat fahami kesukaran untuk menjadi seorang mujtahid. Itu juga adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal ketika beliau berkata: “Tidak seharusnya seseorang itu mengeluarkan fatwa sehinggalah dia memiliki lima perkara: Hendaklah dia mempunyai niat (ikhlas) kerana jika dia tidak berniat, dia tidak akan mendapat petunjuk dan kata-katanya juga tidak akan mendapat petunjuk. Dia hendaklah berilmu, lembut dan tenang. Dia hendaklah mempunyai kekuatan terhadap masalah fatwanya dan mempunyai ilmu terhadap masalah tersebut. Dia hendaklah mempunyai kemampuan jika tidak dia akan diperdaya oleh manusia. Dia hendaklah mengenali manusia.”
Kesukaran berfatwa dan ijtihad inilah sebenarnya yang membenarkan taqlid kepada mana-mana mazhab dipraktikkan di dalam umat hari ini. Bahkan amalan taqlid itu juga sebenarnya dipraktikkan oleh generasi umat sebelum ini.
Al-Amidi di dalam kitab al-Ihkam berkata: “Ada pun ijma’ terhadap masalah ini adalah kerana orang awam di zaman sahabat r.a. dan tabi’ien terus menerus bertanyakan fatwa dari kalangan mujtahid dan mengikut pendapat mereka di dalam permasalahan hukum syara’. Ulama’ di kalangan mereka bersegera menjawab segala pertanyaan tanpa mendatangkan dalil. Ini adalah ijma’ bahawa seorang awam harus bertaqlid kepada seorang mujtahid mutlak.”
Penduduk dua tanah haram mempraktikkan mazhab Abdullah bin Omar r.a. dan anak muridnya untuk satu tempoh yang panjang tanpa dibantah oleh mana-mana ulama’ pada zaman itu. Seterusnya Ato’ bin Robah dan Mujahid memberi fatwa kepada penduduk Mekah untuk satu tempoh yang panjang. Wakil khalifah pada masa itu melaungkan: “Tidak ada seorang pun yang akan berfatwa kepada orang ramai selain dari dua orang imam ini.” Keadaan tersebut berjalan tanpa dibantah oleh mana-mana ulama’ pada zaman itu.
Imam Ibnu al-Qayyim, anak murid Ibnu Taimiyah, seorang ulama’ yang menjadi rujukan golongan ini berkata: “Harus bertaqlid bagi seseorang yang belum sampai ke peringkat ijtihad. Dia hendaklah mengikuti seorang imam, meminta petunjuk darinya dan bertaqlid kepadanya di dalam masalah halal dan haram. Orang seperti ini tidak boleh mengeluarkan fatwa kepada manusia walau pun dia mempunyai banyak kitab hadis.”
Ini adalah pendapat yang tepat. Pendekatan memaksa umat Islam; yang cerdik dan tidak cerdik untuk merujuk terus kepada al-Quran dan hadis adalah satu bebanan yang tidak perlu ditanggung oleh umat. Bagaimana mampu rakyat Malaysia mengeluarkan hukum untuk amalan dirinya sendiri secara langsung dari al-Quran dan hadis sedangkan dia masih lagi tidak mampu untuk membaca al-Quran dengan tajwid yang betul dan membaca hadis dengan baris yang betul?
Kesimpulan
Banyak lagi isu berkaitan salafi ini yang boleh dibincangkan. Kami belum lagi menyentuh tentang salafi dan Ikhwan Muslimin. Ia juga merupakan satu topik yang panjang diperdebatkan di Saudi satu ketika dahulu dan baru-baru ini bahangnya sampai ke tanah air kita ini. Ia berkait dengan isu bai’ah, konsep amal jama’ie, fikrah haraki dan isu-isu lain yang terlalu banyak untuk ditulis di sini.
Apa yang dapat kami simpulkan di sini adalah istilah salafi sebenarnya telah disalah gunakan oleh sebahagian pihak. Penyalahgunaan istilah tersebut telah membawa kepada munculnya khilaf fiqhi yang panjang dan budaya salah menyalah di antara satu sama lain. Masing-masing akan mempertahankan kebenaran yang dilihatnya ada pada pihaknya dan tidak ada pada pihak lain.
Alangkah baiknya jika sekiranya kita semua mampu untuk berlapang dada di dalam masalah-masalah furu’ dan melakukan perbincangan ilmiah yang bersih dari sebarang sentimen dan emosi. Penyatuan dan penerimaan methodologi berfikir juga adalah jalan yang perlu kita rentasi bersama untuk mencapai kesatuan pemikiran dan umat. Berikanlah hak kepada semua pihak untuk mempraktikkan apa yang dilihatnya sebagai Islam selagi mana ianya tidak bertentangan dengan al-Quran dan as-Sunnah. Amalkanlah Islam yang syumul dan umum yang mampu menyatukan bukannya Islam yang sempit yang hanya melahirkan kumpulan-kumpulan.
Wallahu al-Musta’an
nota kaki:
terdapat kesilapan pada hadis ini. Yang benarnya adalah seperti berikut:
فَرَوَى سَعِيد بْن مَنْصُور بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ اِبْن عُمَر أَنَّهُ قَالَ : إِنَّهَا مُحْدَثَةٌ وَإِنَّهَا لَمِنْ أَحْسِنِ مَا أَحْدَثُوا ، وَسَيَأْتِي فِي أَوَّلِ أَبْوَابِ اَلْعُمْرَةِ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ ” دَخَلْت أَنَا وَعُرْوَة بْن اَلزُّبَيْر اَلْمَسْجِدَ فَإِذَا عَبْد اَللَّه بْن عُمَر جَالِسٌ إِلَى حُجْرَةِ عَائِشَة وَإِذَا نَاس يُصَلُّونَ اَلضُّحَى ، فَسَأَلْنَاهُ عَنْ صَلَاتِهِمْ فَقَالَ : بِدْعَة ” . وَرَوَى اِبْن أَبِي شَيْبَة بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ اَلْحَكَمِ بْن اَلْأَعْرَجِ عَنْ اَلْأَعْرَجِ قَالَ : سَأَلْتُ اِبْن عُمَر عَنْ صَلَاةِ اَلضُّحَى فَقَالَ : بِدْعَةٌ وَنِعْمَتْ اَلْبِدْعَة .
- Yang disebut di dalam riwayat adalah Urwah bin Zubair bukan Zubair bin Awwam r.a.
- Orang ramai keluar ke masjid untuk solat dhuha berlaku seperti di dalam riwayat, cuma tidak disebutkan berjemaah.
- Ibnu Umar r.a juga pernah mengungkapkan kalimah ‘itu adalah bid’ah yang baik’ merujuk kepada perbuatan orang ramai keluar ke masjid untuk mengerjakan solat Dhuha seperti mana yang
sumber asal artikel
Wednesday, August 18, 2010
Palestin, Kami bersamamu!!
Ucapan Ust Abdullah Zaik (Pengerusi Eks Aman Palestin Berhad, Presiden ISMA) kepada warga Gaza yang menyambutnya selepas Solat Tarawikh di salah sebuah masjid di Gaza. Disamping beliau adalah Ismail Haneyya, Perdana Menteri Palestin dari HAMAS.
Tuesday, August 17, 2010
Puisi Buat Akh Nukman dan Akh Shahril
p/s: Puisi ini ditulis oleh Akh Aizuddin selepas kemalangan yang menimpa akh Nukman dan akh Shahril.
Sahabat,
Lukamu di badan, sebakku di hati
Tika kau terlantar, di luar ramai menanti
Ingin melihat raut senyummu sekali lagi
sebagai pelita kerunsingan hati
Di kala musibah melanda
Kematian adalah putus asa
Kehidupan adalah semangat waja
Sabar rahsia mengharunginya
Setiap kisah adalah pengalaman
Untuk menyinarkan lagi pedoman
Kerna kata-kata mati dari pengertian
Kiranya darah kita tidak dialirkan
Sahabat,
Kugenggam tanganmu erat
Ibarat kekasih menyalur azimat
Moga dikau kan terus kuat
Dan dijalan dakwah kau tsabat
* Aizuddin *
..tak pernah rasa rugi menapak jalan ini..
http://addinkhalid.wordpress.com
Sahabat,
Lukamu di badan, sebakku di hati
Tika kau terlantar, di luar ramai menanti
Ingin melihat raut senyummu sekali lagi
sebagai pelita kerunsingan hati
Di kala musibah melanda
Kematian adalah putus asa
Kehidupan adalah semangat waja
Sabar rahsia mengharunginya
Setiap kisah adalah pengalaman
Untuk menyinarkan lagi pedoman
Kerna kata-kata mati dari pengertian
Kiranya darah kita tidak dialirkan
Sahabat,
Kugenggam tanganmu erat
Ibarat kekasih menyalur azimat
Moga dikau kan terus kuat
Dan dijalan dakwah kau tsabat
* Aizuddin *
..tak pernah rasa rugi menapak jalan ini..
http://addinkhalid.wordpress.com
Thursday, August 05, 2010
Perpaduan UMNO dan PAS
--sumber asal artikel--
Isu perpaduan antara UMNO dan PAS ibarat “lauk sejuk dipanaskan semula”. Sejak dulu dipanaskan berkali-kali dan kini ia sudah sampai ke tahap tidak menyelerakan lagi.
Antara faktor yang menyebabkan isu ini tidak menyelerakan ialah reputasi pihak yang menghulurkan tangan untuk perpaduan. Kata-kata “UMNO busuk hingga ke usus” pernah diulas oleh Mantan Presiden UMNO, Tun Dr. Mahathir Mohamad. Nampaknya keadaan itu masih kekal dan tiada sebarang perubahan signifikan sejak Perdana Menteri Datuk Seri Najib mengambil alih tampuk kuasa.
Di satu pihak lagi, setakat ini kita masih belum mendengar respons daripada PAS yang benar-benar membuka jalan ke arah kerjasama. Mungkin agak keterlaluan untuk kita menunggu respons sebegitu kerana desas desus pemimpin PAS bertemu dengan mufti pun sudah menimbulkan kecoh. Kelihatan politik gaya kalah mati begitu kuat arusnya dalam PAS, walaupun telah terbukti selepas PRU 12 gaya itu memamah kekuatan politik orang Melayu Islam pada hari ini.
Media massa yang ada pula lebih mengutamakan keuntungan dalam isu ini, sama ada keuntungan perniagaan mahu pun politik. Kepentingan agenda bangsa tergadai begitu sahaja. Berita yang dipaparkan hanya yang sensasi, tidak mendamaikan, tidak mendidik dan hanya membawa umat berlegar-legar pada noktah mati yang sama.
Sebenarnya kita sedang berdepan dengan isu yang lebih besar dan hakiki. Ini bukan isu antara UMNO dan PAS saja. Ia isu kita semua. Ancaman humanisme dan liberalisme sedang hebat menyerang jatidiri umat Melayu Islam pada ketika kita sedang berdepan dengan kemelut politik yang tidak menguntungkan. Bangsa kita sudah hilang arah tuju dan daya tahan akibat ketiadaan agenda bersama.
Isu besar dan rumit ini memerlukan gandingan kerjasama daripada semua pihak. Tiada pihak yang boleh menyelesaikan isu ini bersendirian dan menafikan peranan orang lain. Jika UMNO dan PAS kekal dengan keadaannya sekarang, maka umat Melayu perlu mencari alternatif lain. Kita mesti menolak politik kepartian yang melampau dan melangkah ke arah amalan politik yang lebih luas dan matang dalam menjamin kepentingan bersama.
“MELAYU SEPAKAT, ISLAM BERDAULAT”
Isu perpaduan antara UMNO dan PAS ibarat “lauk sejuk dipanaskan semula”. Sejak dulu dipanaskan berkali-kali dan kini ia sudah sampai ke tahap tidak menyelerakan lagi.
Antara faktor yang menyebabkan isu ini tidak menyelerakan ialah reputasi pihak yang menghulurkan tangan untuk perpaduan. Kata-kata “UMNO busuk hingga ke usus” pernah diulas oleh Mantan Presiden UMNO, Tun Dr. Mahathir Mohamad. Nampaknya keadaan itu masih kekal dan tiada sebarang perubahan signifikan sejak Perdana Menteri Datuk Seri Najib mengambil alih tampuk kuasa.
Di satu pihak lagi, setakat ini kita masih belum mendengar respons daripada PAS yang benar-benar membuka jalan ke arah kerjasama. Mungkin agak keterlaluan untuk kita menunggu respons sebegitu kerana desas desus pemimpin PAS bertemu dengan mufti pun sudah menimbulkan kecoh. Kelihatan politik gaya kalah mati begitu kuat arusnya dalam PAS, walaupun telah terbukti selepas PRU 12 gaya itu memamah kekuatan politik orang Melayu Islam pada hari ini.
Media massa yang ada pula lebih mengutamakan keuntungan dalam isu ini, sama ada keuntungan perniagaan mahu pun politik. Kepentingan agenda bangsa tergadai begitu sahaja. Berita yang dipaparkan hanya yang sensasi, tidak mendamaikan, tidak mendidik dan hanya membawa umat berlegar-legar pada noktah mati yang sama.
Sebenarnya kita sedang berdepan dengan isu yang lebih besar dan hakiki. Ini bukan isu antara UMNO dan PAS saja. Ia isu kita semua. Ancaman humanisme dan liberalisme sedang hebat menyerang jatidiri umat Melayu Islam pada ketika kita sedang berdepan dengan kemelut politik yang tidak menguntungkan. Bangsa kita sudah hilang arah tuju dan daya tahan akibat ketiadaan agenda bersama.
Isu besar dan rumit ini memerlukan gandingan kerjasama daripada semua pihak. Tiada pihak yang boleh menyelesaikan isu ini bersendirian dan menafikan peranan orang lain. Jika UMNO dan PAS kekal dengan keadaannya sekarang, maka umat Melayu perlu mencari alternatif lain. Kita mesti menolak politik kepartian yang melampau dan melangkah ke arah amalan politik yang lebih luas dan matang dalam menjamin kepentingan bersama.
“MELAYU SEPAKAT, ISLAM BERDAULAT”
Sunday, July 25, 2010
Wajibat Ramadhan
Alhamdulillah, Ramadhan bakal menyusul.
Berikut adalah wajibat yang perlu dipenuhi semasa Ramadhan:
1. Quran - 1 juz sehari
2. Sentiasa membawa mushaf
3. Tahajjud setiap malam
4. Ulang tasmi' hafazhan juz 30
5. Rehlah Masyi (berjalan kaki) BADAR & tazkirah BADAR
6. Iftar usrah sekurangnya sekali
7. Infaq RM 1 sehari
8. Iktikaf sekurangnya 2 hari penghujung Ramadhan
9. Istighfar 100x sehari
Tambahan:
Bagi meraikan Ramadhan, digalakkan untuk menggantung banner Ramadhan, serta di meriahkan dengan lampu hiasan,samada di kediaman, di pejabat, di meja atau di mana sahaja yang difikirkan sesuai.
Ana mohon ampun dan maaf atas segala kekhilafan dosa dan kesalahan.
Saling memaafkan semoga ruh kita sebening Ramadhan yg bakal tiba
Selamat beramal..
Berikut adalah wajibat yang perlu dipenuhi semasa Ramadhan:
1. Quran - 1 juz sehari
2. Sentiasa membawa mushaf
3. Tahajjud setiap malam
4. Ulang tasmi' hafazhan juz 30
5. Rehlah Masyi (berjalan kaki) BADAR & tazkirah BADAR
6. Iftar usrah sekurangnya sekali
7. Infaq RM 1 sehari
8. Iktikaf sekurangnya 2 hari penghujung Ramadhan
9. Istighfar 100x sehari
Tambahan:
Bagi meraikan Ramadhan, digalakkan untuk menggantung banner Ramadhan, serta di meriahkan dengan lampu hiasan,samada di kediaman, di pejabat, di meja atau di mana sahaja yang difikirkan sesuai.
Ana mohon ampun dan maaf atas segala kekhilafan dosa dan kesalahan.
Saling memaafkan semoga ruh kita sebening Ramadhan yg bakal tiba
Selamat beramal..
Tuesday, July 20, 2010
Musibah: Hikmahnya dan Sikap Kita.
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar,” (QS Asy-Syuura: 30)
Dalam menjelaskan ayat di atas, Al Allamah ar-Raghib al-Asfahani berkata:
Allah menurunkan fitnah dan musibah kepada hambanya berupa azab, musibah, korban jiwa dan kerusakan alam karena ada hikmah yang Allah titipkan kepada hamba-Nya. Yang terpenting, bagaimana seorang hamba menarik pelajaran berharga dari setiap peristiwa. Tapi manusia sering hanyut dengan kesedihan tanpa merasakan sentuhan rabbani dan pelajaran berharga dari musibah yang ia alami. Mereka pun akhirnya lalai dari bertaubat dan mengambil pelajaran.
Ujian merupakan sunnatullah dalam kehidupan. Ia merupakan hukum Allah yang tak bisa dibantah.
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan: “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS Al-Ankabut :2)
Di ayat lain, Allah Ta’ala menjelaskan bentuk-bentuk musibah tersebut.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,” (QS al-Baqarah: 155).
Allah menyebutkan dengan ungkapan “sedikit ketakutan dan kelaparan”. Maknanya, manusia lemah dan tak berdaya di hadapan kekuasaan dan keperkasaan-Nya di dunia berupa ujian, cobaan dan bencana. Tapi jika dibandingkan dengan Hari Kiamat yang akan terjadi, yang sering dilupakan manusia, itu tidaklah seberapa. Pedihnya siksa Allah pada Hari Kiamat nanti akan dihadapi orang-orang kafir dan orang-orang fasik. Semua itu tak terbayangkan hakikatnya, walaupun terbayangkan wujudnya.
“Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan menjadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya,” (QS Al-Infithaar: 1-6).
Ibnu Qayyim berkata:
“Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusanNya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah. Namun akal kita sangat terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia dibawah sinar matahari. Dan ini pun hanya kira-kira, yang sebenarnya tentu lebih dari sekedar gambaran ini.”
Pelajaran
1. Sabar sebgai konsekuensi menghadapi kesulitan dan kesusahan.
Allah berfirman:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira pada orang-orang yang sabar,(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun (Sesungguhnya semua berasal dr Allah dan akan kembali kpd_NYa). Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.Al-Baqarah:155-157)
2. Menghapuskan dosa dan kesalahan.
Allah berfirman:
“Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri,dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”
(QS.Asy-Syura:30)
Dari Sahabat Abu Hurairah dan Abu Sa’id radiallahuanhu : Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah gulanaan hingga duri yang menusuknya melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya. (HR. Bukhari)
3. Dicatat sebagai kebaikan dan derajat ditinggikan.
“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu,melainkan ditetapkan baginya dengan sebab itu satu derajat dan dihapuskan pula satu kesalahan darinya” (HR.Muslim)
4. Jalan menuju syurga. Dari Abu Hurairah,Rasulullah SAW bersabda:
“Syurga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai dan Neraka itu dikelilingi dengan berbagai macam syahwat.” (HR. Bukhari – Muslim)
Allah berfirman dalam sebuah hadist qudsi:
“Tidaklah ada suatu balasan (yang lebih pantas di sisiKu bagi hambaKu yang beriman, jika Aku telah mencabut nyawa kesayangannya dari penduduk dunia kemudian dia bersabar atas kehilangan orang kesayanagnnya itu, melainkan Surga.” (HR. Bukhari)
5. Membawa keselamatan dari api neraka
“Janganlah kamu mencacimaki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan menghapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi” (HR. Muslim)
6. Mengembalikan hamba kepada Rabb-nya dan mengingat kelalaiannya.
Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya KAmi telah mengutus Rasul-Rasul kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami timpa mereka dengan kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk dan merendahkan diri.” (QS.Al-An’am : 42)
7. Mengingat nikmat Allah yang lalu dan yang ada.
Seorang penyair berkata:
"Seseorang tidak mengenali tanda-tanda sehat selagi dia belum tertimpa sakit."
8. Mengingat keadaan saudara-saudaramu yang ditimpa musibah. Maka diantara hikmah Allah, Dia menimpakan cobaan berupa penyakit dan penderitaan kepada orang mukmin pada waktu-waktu tertentu, agar dia mengingat saudara-saudaranya yang ditimpa kesulitan, sehingga tergugah untuk membantunya.
9. Mensucikan hati.
Ibnu Qayyim radiallahuanhu berkata:
“Hati dan ruh bisa mengambil manfaat dari penderitaan dan penyakit yang merupakan urusan yang tidak bisa dirasakan kecuali jika di dalamnya ada kehidupan. Kebersihan hati dan ruh tergantung kepada penderitaan badan dan kesulitannya.” (Tuhfatul Mariidh hal 25)
10. Cobaan dan ujian merupakan nikmat. Karena hikmah dari berbagai cobaan,orang – orang shalih justru gembira sekiranya mendapat cobaan spt telah mendapat kesenangan. RAsullullah SAW menyebutkan bahwa para Nabi telah ditimpa cobaan berupa penyakit, kemiskinan dan yang lainnya kemudian beliau bersabda:
“…Dan sesungguhnya salah seorang diantara mereka benar-benar merasa gembira karena mendapat cobaan, sebagaimana salah seorang merasa gembira karena telah mendapatkan kelapangan.” (HR. Ibnu Majah)
11. Menambah semangat da’i untuk berdakwah
”Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS Al Anfal: 25)
Sikap Mukmin menghadapi musibah
1. Meyakini bahwa semua musibah datangnya dari Allah
Prinsip ini harus kita pegang, agar kita tetap istiqomah
Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS Al Hadid: 22)
2. Menyadari kesalahan kita bila musibah itu datang karena dosa kita.
Ini adab kita di hadapan Allah, sekalipun semua musibah dari Allah, agar kita tidak menyalahkan Allah tetapi menyalahkan diri sendiri.
Keduanya berkata, ”Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (QS Al A’rof: 23)
Dan Kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi mereka lah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS Hud: 101)
3. Mengatakan dari Allah bila cobaan datang berupa kebaikan
Prinsip ini harus kita pegang, agar kita tidak sombong sekalipun kita yang berbuat, karena mustahil kita memperoleh kebaikan tanpa kehendak dari Allah.
”Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah lah yang membunuh mereka, dan bukanlah kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar. (QS Al Anfal: 17)
4. Berfikir, mengapa musibah tiba?
Karena dengan berfikir demikian kita menjadi orang yang selalu ingat dan takut kepada Allah.
Katakanlah, ”Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu. (QS Al An’am: 11)
5. Berlindung kepada Allah dari kejahatan musibah
Mengapa demikian? Karena kita tidak mampu menolak musibah, musibah pasti ada, tetapi kita berlindung kepada Allah dari kejelekan akibat musibah. Adapun dalilnya surat Al Falaq, An Nas dan surat lainnya.
6. Bertawakal kepada Allah
Bertawakal maksudnya menjadikan Allah sebagai penolong kita dari semua urusan.
Katakanlah, ”Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal. (QS At Taubah: 31)
7. Bersabar atas ujian Allah
Bila kita mendapatkan ujian berupa kesengsaraan, hendaknya bersabar dan meningkatkan harapan kita kepada Allah. Tetapi bila ujian itu berupa kesenangan, hendaknya kita bersyukur dan meningkatkan takut kepada Allah, agar kita tetap waspada dan istiqomah.
Shuheb berkata, ”Rasulullah bersabda, sangat menakjubkan perkara orang mukmin, semua perkaranya baik. Tidaklah dimilikinya sifat ini melainkan oleh orang mukminin, jika dia ditimpa kesenangan dia bersyukur, maka itu baik bagi ia, dan bila ditimpa kesengsaraaan dia bersabar, maka itu baik bagi dia. (HR Muslim:5318)
8. Berbaik sangka kepada Allah
Tidaklah Allah menguji orang mukmin melainkan karena Dia menyenanginya dan karena untuk kebaikan mereka di dunia dan di akhirat.
Rasulullah bersabda:
Sesungguhnya besarnya pahala diukur dengan besarnya ujian, dan bila Allah suka kepada kaum, maka mereka diuji. Jika mereka ridho maka Allah ridho dan bila dia marah, Allah pun akan marah kepadanya. (HR. Tirmidzi 2320 dishohihkan oleh Al Albani, Lihat silsilah As Shahihah: 146)
9. Tidak putus asa tapi berharap rahmat-Nya
Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah, Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. (QS. Yusuf: 67)
Syaikh Abdur Rahman bin Hasan berkata, ”Berharap pengampunan dari Allah tapi tetap berbuat jahat dan tidak mau taat, ini adalah penipuan setan agar manusia takut tetapi tidak mau berusaha untuk menyelamtkan dirinya dari siksaan. Berbeda dengan orang mukmin, mereka berupaya untuk mengamalkan amalan shalih karena takut siksaan Allah dan karena berharap maghfiroh dan rahmatNya. (Kitab Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid 2/598)
Wallahua'lam.
Dalam menjelaskan ayat di atas, Al Allamah ar-Raghib al-Asfahani berkata:
Allah menurunkan fitnah dan musibah kepada hambanya berupa azab, musibah, korban jiwa dan kerusakan alam karena ada hikmah yang Allah titipkan kepada hamba-Nya. Yang terpenting, bagaimana seorang hamba menarik pelajaran berharga dari setiap peristiwa. Tapi manusia sering hanyut dengan kesedihan tanpa merasakan sentuhan rabbani dan pelajaran berharga dari musibah yang ia alami. Mereka pun akhirnya lalai dari bertaubat dan mengambil pelajaran.
Ujian merupakan sunnatullah dalam kehidupan. Ia merupakan hukum Allah yang tak bisa dibantah.
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan: “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS Al-Ankabut :2)
Di ayat lain, Allah Ta’ala menjelaskan bentuk-bentuk musibah tersebut.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,” (QS al-Baqarah: 155).
Allah menyebutkan dengan ungkapan “sedikit ketakutan dan kelaparan”. Maknanya, manusia lemah dan tak berdaya di hadapan kekuasaan dan keperkasaan-Nya di dunia berupa ujian, cobaan dan bencana. Tapi jika dibandingkan dengan Hari Kiamat yang akan terjadi, yang sering dilupakan manusia, itu tidaklah seberapa. Pedihnya siksa Allah pada Hari Kiamat nanti akan dihadapi orang-orang kafir dan orang-orang fasik. Semua itu tak terbayangkan hakikatnya, walaupun terbayangkan wujudnya.
“Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan menjadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya,” (QS Al-Infithaar: 1-6).
Ibnu Qayyim berkata:
“Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusanNya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah. Namun akal kita sangat terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia dibawah sinar matahari. Dan ini pun hanya kira-kira, yang sebenarnya tentu lebih dari sekedar gambaran ini.”
Pelajaran
1. Sabar sebgai konsekuensi menghadapi kesulitan dan kesusahan.
Allah berfirman:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira pada orang-orang yang sabar,(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun (Sesungguhnya semua berasal dr Allah dan akan kembali kpd_NYa). Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.Al-Baqarah:155-157)
2. Menghapuskan dosa dan kesalahan.
Allah berfirman:
“Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri,dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”
(QS.Asy-Syura:30)
Dari Sahabat Abu Hurairah dan Abu Sa’id radiallahuanhu : Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah gulanaan hingga duri yang menusuknya melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya. (HR. Bukhari)
3. Dicatat sebagai kebaikan dan derajat ditinggikan.
“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu,melainkan ditetapkan baginya dengan sebab itu satu derajat dan dihapuskan pula satu kesalahan darinya” (HR.Muslim)
4. Jalan menuju syurga. Dari Abu Hurairah,Rasulullah SAW bersabda:
“Syurga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai dan Neraka itu dikelilingi dengan berbagai macam syahwat.” (HR. Bukhari – Muslim)
Allah berfirman dalam sebuah hadist qudsi:
“Tidaklah ada suatu balasan (yang lebih pantas di sisiKu bagi hambaKu yang beriman, jika Aku telah mencabut nyawa kesayangannya dari penduduk dunia kemudian dia bersabar atas kehilangan orang kesayanagnnya itu, melainkan Surga.” (HR. Bukhari)
5. Membawa keselamatan dari api neraka
“Janganlah kamu mencacimaki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan menghapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi” (HR. Muslim)
6. Mengembalikan hamba kepada Rabb-nya dan mengingat kelalaiannya.
Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya KAmi telah mengutus Rasul-Rasul kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami timpa mereka dengan kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk dan merendahkan diri.” (QS.Al-An’am : 42)
7. Mengingat nikmat Allah yang lalu dan yang ada.
Seorang penyair berkata:
"Seseorang tidak mengenali tanda-tanda sehat selagi dia belum tertimpa sakit."
8. Mengingat keadaan saudara-saudaramu yang ditimpa musibah. Maka diantara hikmah Allah, Dia menimpakan cobaan berupa penyakit dan penderitaan kepada orang mukmin pada waktu-waktu tertentu, agar dia mengingat saudara-saudaranya yang ditimpa kesulitan, sehingga tergugah untuk membantunya.
9. Mensucikan hati.
Ibnu Qayyim radiallahuanhu berkata:
“Hati dan ruh bisa mengambil manfaat dari penderitaan dan penyakit yang merupakan urusan yang tidak bisa dirasakan kecuali jika di dalamnya ada kehidupan. Kebersihan hati dan ruh tergantung kepada penderitaan badan dan kesulitannya.” (Tuhfatul Mariidh hal 25)
10. Cobaan dan ujian merupakan nikmat. Karena hikmah dari berbagai cobaan,orang – orang shalih justru gembira sekiranya mendapat cobaan spt telah mendapat kesenangan. RAsullullah SAW menyebutkan bahwa para Nabi telah ditimpa cobaan berupa penyakit, kemiskinan dan yang lainnya kemudian beliau bersabda:
“…Dan sesungguhnya salah seorang diantara mereka benar-benar merasa gembira karena mendapat cobaan, sebagaimana salah seorang merasa gembira karena telah mendapatkan kelapangan.” (HR. Ibnu Majah)
11. Menambah semangat da’i untuk berdakwah
”Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS Al Anfal: 25)
Sikap Mukmin menghadapi musibah
1. Meyakini bahwa semua musibah datangnya dari Allah
Prinsip ini harus kita pegang, agar kita tetap istiqomah
Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS Al Hadid: 22)
2. Menyadari kesalahan kita bila musibah itu datang karena dosa kita.
Ini adab kita di hadapan Allah, sekalipun semua musibah dari Allah, agar kita tidak menyalahkan Allah tetapi menyalahkan diri sendiri.
Keduanya berkata, ”Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (QS Al A’rof: 23)
Dan Kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi mereka lah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS Hud: 101)
3. Mengatakan dari Allah bila cobaan datang berupa kebaikan
Prinsip ini harus kita pegang, agar kita tidak sombong sekalipun kita yang berbuat, karena mustahil kita memperoleh kebaikan tanpa kehendak dari Allah.
”Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah lah yang membunuh mereka, dan bukanlah kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar. (QS Al Anfal: 17)
4. Berfikir, mengapa musibah tiba?
Karena dengan berfikir demikian kita menjadi orang yang selalu ingat dan takut kepada Allah.
Katakanlah, ”Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu. (QS Al An’am: 11)
5. Berlindung kepada Allah dari kejahatan musibah
Mengapa demikian? Karena kita tidak mampu menolak musibah, musibah pasti ada, tetapi kita berlindung kepada Allah dari kejelekan akibat musibah. Adapun dalilnya surat Al Falaq, An Nas dan surat lainnya.
6. Bertawakal kepada Allah
Bertawakal maksudnya menjadikan Allah sebagai penolong kita dari semua urusan.
Katakanlah, ”Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal. (QS At Taubah: 31)
7. Bersabar atas ujian Allah
Bila kita mendapatkan ujian berupa kesengsaraan, hendaknya bersabar dan meningkatkan harapan kita kepada Allah. Tetapi bila ujian itu berupa kesenangan, hendaknya kita bersyukur dan meningkatkan takut kepada Allah, agar kita tetap waspada dan istiqomah.
Shuheb berkata, ”Rasulullah bersabda, sangat menakjubkan perkara orang mukmin, semua perkaranya baik. Tidaklah dimilikinya sifat ini melainkan oleh orang mukminin, jika dia ditimpa kesenangan dia bersyukur, maka itu baik bagi ia, dan bila ditimpa kesengsaraaan dia bersabar, maka itu baik bagi dia. (HR Muslim:5318)
8. Berbaik sangka kepada Allah
Tidaklah Allah menguji orang mukmin melainkan karena Dia menyenanginya dan karena untuk kebaikan mereka di dunia dan di akhirat.
Rasulullah bersabda:
Sesungguhnya besarnya pahala diukur dengan besarnya ujian, dan bila Allah suka kepada kaum, maka mereka diuji. Jika mereka ridho maka Allah ridho dan bila dia marah, Allah pun akan marah kepadanya. (HR. Tirmidzi 2320 dishohihkan oleh Al Albani, Lihat silsilah As Shahihah: 146)
9. Tidak putus asa tapi berharap rahmat-Nya
Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah, Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. (QS. Yusuf: 67)
Syaikh Abdur Rahman bin Hasan berkata, ”Berharap pengampunan dari Allah tapi tetap berbuat jahat dan tidak mau taat, ini adalah penipuan setan agar manusia takut tetapi tidak mau berusaha untuk menyelamtkan dirinya dari siksaan. Berbeda dengan orang mukmin, mereka berupaya untuk mengamalkan amalan shalih karena takut siksaan Allah dan karena berharap maghfiroh dan rahmatNya. (Kitab Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid 2/598)
Wallahua'lam.
Sunday, July 11, 2010
Sehari di Kursus Penulisan Rencana dan Berita
Bersama Zulkifli Sulung dan Mohd Sayuti Omar di pejabat ISMA Pusat.
1. Sebelah pagi kursus dikendalikan oleh Zulkifli Sulung. Beliau adalah Editor HarakahDaily. Sekiranya pembaca masih ingat, semasa debat di antara DSAI dan Shabery Chik, beliau adalah pembantu DSAI ketika itu.
2. Kami diajarkan asas asas penulisan rencana. Berbagai teori penulisan dikemukakan.Bahkan group kami di minta untuk menyelesaikan assignment, mengulas tentang tajuk Pilihan Raya Kerajaan Tempatan. Beliau meminta kami menelefon pakar pakar berkaitan dengan isu ini. Nyatanya saya tiada kenalan atau pakar untuk dirujuk di dalam isu ini.
3. Pilihan Raya Kerajaan Tempatan adalah sebuah bentuk pilihanraya untuk memilih Pihak Berkuasa Tempatan (PBT). Malaysia pernah mengamalkannya pada sekitar tahun 1950an kemudian memansuhkannya pada tahun 1960an.
4. Isu ini kembali timbul apabila kerajaan PR di P.Pinang menuntut untuk diadakan kembali pilihanraya kerajaan tempatan dan isu ini ditentang oleh kerajaan Pusat. Kerajaan PR di P.Pinang berhujah bahawa amalan pelantikan PBT sekarang ini dipenuhi dengan amalan kronisme, nepotisme dan korupsi sehingga mempengaruhi prestasi kerja PBT.
5. Manakala, sesetengah pihak di kalangan pejuang Melayu melihat ini adalah gerakan tersembunyi PR (Cina) di P.Pinang untuk menyingkirkan Melayu di situ berikutan majoriti penduduk yang mendiami kawasan bandar bukanlah orang Melayu. Apatah lagi, kita sedia maklum PBT di kawasan bandar ialah PBT yang boleh membuat duit.
6. Ketika Sdr Zulkifli Sulung meminta saya menyatakan pendirian, saya menjawab saya menyokong seruan kerajaan PR di P.Pinang untuk diadakan pilihanraya kerajaan tempatan tetapi dengan meletakkan beberapa syarat, yang mana syarat itu bertujuan menutup kerisauan orang melayu. Syarat syarat ini tidak dapat saya cadangkan kerana saya hanya melihat isu ini sepintas lalu tanpa mengkaji secara mendalam. Secara asasnya, mungkin yang perlu dikaji ialah undang undang atau bidang kuasa PBT, dan juga kuota kuota PBT mengikut kaum. InsyaAllah apabila selesai, saya akan menghantar kepada Sdr Zulkifli Sulung untuk semakan. Andai semakan sudah dilakukan, saya akan 'post' artikel itu di sini.
7. Sebelah petang kursus dikendalikan oleh Sdr Mohd Sayuti Omar. Beliau bertanggungjawab memberikan tips tips untuk menjadikan sebuah penulisan itu menarik.
8. Sangat mengejutkan saya apabila beliau menceritakan bahawa beliau menulis 3 (tiga) artikel sehari. Sesuatu yang bagi saya ketika ini, impossible untuk dipraktikkan. Beliau juga berkata, blog mestilah di update selewat lewatnya 3 hari sekali bagi mengelakkan pembaca (follower) bosan.
9. Penulis rencana harus menulis dengan jiwa. Jangan terikat dengan kaedah kaedah penulisan atau teori penulisan kerana ia akan merencatkan kelancaran penulisan kita. Bahkan, saat yang paling baik menulis adalah apabila emosi kita terganggu dengan sebarang isu, apatah lagi otak kita sedang padat dengan pelbagai hujah. Cuma sahaja, artikel yang ditulis dikala emosi sedang memuncak harus diteliti ulang agar kita tidak melampaui batas.
10. Bahkan, kita perlu menimbulkan polemik bagi menggalakkan pembaca kita berfikir. Pelbagai isu beliau kupas dan beliau turut menjelaskan approach yang beliau gunakan dalam struktur penulisan beliau bagi memenuhi tujuan penulisan beliau.
11. Kedua dua pengendali kursus menegaskan agar menggunakan bahasa yang mudah agar bacaan kita dapat difahami oleh masyarakat umum. Dan kedua dua menyatakan, penulis adalah pejuang!!
12. Dengan ini, saya berazam untuk mengupdate semua blog saya sekurang kurangnya 3 hari sekali. Saya juga akan menyiapkan berbagai artikel yang kemudiannya akan dihantar ke pelbagai media cetak bersesuaian dengan tajuk dan tujuan penulisan. Doakan saya.
Wallahualam.
1. Sebelah pagi kursus dikendalikan oleh Zulkifli Sulung. Beliau adalah Editor HarakahDaily. Sekiranya pembaca masih ingat, semasa debat di antara DSAI dan Shabery Chik, beliau adalah pembantu DSAI ketika itu.
2. Kami diajarkan asas asas penulisan rencana. Berbagai teori penulisan dikemukakan.Bahkan group kami di minta untuk menyelesaikan assignment, mengulas tentang tajuk Pilihan Raya Kerajaan Tempatan. Beliau meminta kami menelefon pakar pakar berkaitan dengan isu ini. Nyatanya saya tiada kenalan atau pakar untuk dirujuk di dalam isu ini.
3. Pilihan Raya Kerajaan Tempatan adalah sebuah bentuk pilihanraya untuk memilih Pihak Berkuasa Tempatan (PBT). Malaysia pernah mengamalkannya pada sekitar tahun 1950an kemudian memansuhkannya pada tahun 1960an.
4. Isu ini kembali timbul apabila kerajaan PR di P.Pinang menuntut untuk diadakan kembali pilihanraya kerajaan tempatan dan isu ini ditentang oleh kerajaan Pusat. Kerajaan PR di P.Pinang berhujah bahawa amalan pelantikan PBT sekarang ini dipenuhi dengan amalan kronisme, nepotisme dan korupsi sehingga mempengaruhi prestasi kerja PBT.
5. Manakala, sesetengah pihak di kalangan pejuang Melayu melihat ini adalah gerakan tersembunyi PR (Cina) di P.Pinang untuk menyingkirkan Melayu di situ berikutan majoriti penduduk yang mendiami kawasan bandar bukanlah orang Melayu. Apatah lagi, kita sedia maklum PBT di kawasan bandar ialah PBT yang boleh membuat duit.
6. Ketika Sdr Zulkifli Sulung meminta saya menyatakan pendirian, saya menjawab saya menyokong seruan kerajaan PR di P.Pinang untuk diadakan pilihanraya kerajaan tempatan tetapi dengan meletakkan beberapa syarat, yang mana syarat itu bertujuan menutup kerisauan orang melayu. Syarat syarat ini tidak dapat saya cadangkan kerana saya hanya melihat isu ini sepintas lalu tanpa mengkaji secara mendalam. Secara asasnya, mungkin yang perlu dikaji ialah undang undang atau bidang kuasa PBT, dan juga kuota kuota PBT mengikut kaum. InsyaAllah apabila selesai, saya akan menghantar kepada Sdr Zulkifli Sulung untuk semakan. Andai semakan sudah dilakukan, saya akan 'post' artikel itu di sini.
7. Sebelah petang kursus dikendalikan oleh Sdr Mohd Sayuti Omar. Beliau bertanggungjawab memberikan tips tips untuk menjadikan sebuah penulisan itu menarik.
8. Sangat mengejutkan saya apabila beliau menceritakan bahawa beliau menulis 3 (tiga) artikel sehari. Sesuatu yang bagi saya ketika ini, impossible untuk dipraktikkan. Beliau juga berkata, blog mestilah di update selewat lewatnya 3 hari sekali bagi mengelakkan pembaca (follower) bosan.
9. Penulis rencana harus menulis dengan jiwa. Jangan terikat dengan kaedah kaedah penulisan atau teori penulisan kerana ia akan merencatkan kelancaran penulisan kita. Bahkan, saat yang paling baik menulis adalah apabila emosi kita terganggu dengan sebarang isu, apatah lagi otak kita sedang padat dengan pelbagai hujah. Cuma sahaja, artikel yang ditulis dikala emosi sedang memuncak harus diteliti ulang agar kita tidak melampaui batas.
10. Bahkan, kita perlu menimbulkan polemik bagi menggalakkan pembaca kita berfikir. Pelbagai isu beliau kupas dan beliau turut menjelaskan approach yang beliau gunakan dalam struktur penulisan beliau bagi memenuhi tujuan penulisan beliau.
11. Kedua dua pengendali kursus menegaskan agar menggunakan bahasa yang mudah agar bacaan kita dapat difahami oleh masyarakat umum. Dan kedua dua menyatakan, penulis adalah pejuang!!
12. Dengan ini, saya berazam untuk mengupdate semua blog saya sekurang kurangnya 3 hari sekali. Saya juga akan menyiapkan berbagai artikel yang kemudiannya akan dihantar ke pelbagai media cetak bersesuaian dengan tajuk dan tujuan penulisan. Doakan saya.
Wallahualam.
Thursday, July 08, 2010
Deklarasi Janda Baik
p/s: sebuah deklarasi 2008 tetapi sangat relevan pada waktu sekarang
DEKLARASI JANDA BAIK, bertempat di kediaman Sdr Syed Hussein Al-Attas, bertarikh 26 Oktober 2008.
Blogger Keluarkan Deklarasi Janda Baik
BERTEMPAT di kediaman rehat, Syed Hussein Alattas (Pak Habib) di Wadi Hussein Janda Baik hari ini sekumpulan blogger bebas telah sepakat mengeluarkan satu deklarasi menyatakan keprihatinan, pendirian dan komitmen mereka berhubung beberapa isu semasa berkaitan kepentingan agama, bangsa dan negara.
Deklarasi yang dinamakan Deklarasi Janda Baik itu mengandungi 15 perkara berhubung kepentingan bangsa Melayu, negara dan juga kesucian agama Islam. Deklarasi itu pertama kali dikeluarkan oleh para blogger. Deklarasi berkenaan dizahirkan oleh Sdr Yassin Salleh (yassinsaleh), sebagai mewakili kumpulan berkenaan.
Pelahiran deklarasi itu adalah kesenimbungan kepada perjumpaan tidak rasmi kumpulan berkenaan di sebuah hotel di ibu negara minggu lepas dalam satu majlis apa dinamakan Cease Fire yang dikendalikan oleh seorang usahawan Abdul Aziz Chemor.
Antara blogger yang hadir dalam perjumpaan di Janda Baik pagi tadi ialah Yahaya Ismail, Abu Bakar Ninggal, Salahuddin Hashim, Webah Salleh dan beberapa yang lain. Perjumpaan tadi tidak secara informal berkebetulan sempena dengan upacara majlis cukur jambul cucu ke -8 Pak Habib, Manova.
Sehubungan itu menurut jurucakap kumpulan berkenaan Yassin, meminta kesemua bloggers ikut sama memberi sokongan kepada deklarasi berkenaan tanpa mengira fahaman politik, kedudukan dan juga darjat demi masa depan bangsa dan negara.
"Bagi mereka yang mendokong deklarasi yang dikeluarkan hari ini bolehlah menyatakan sokongan dengan ikut sama mengakseskan deklarasi berkenaan ke dalam blog masing-masing," ujar Yassin.
Kemungkinan satu pertemuan rasmi akan diadakan selepas ini untuk mengadakan perbincangan lebih lanjut serta tindakan ke atas melaksanakan atau memastikan rumusan yang terkandung dalam deklarasi berkenaan dilaksanakan.
Berikut disiarkan deklarasi berkenaan:
DEKLARASI JANDA BAIK
Memandangkan keadaan politik negara yang gawat, cabaran dan gugatan terhadap kepimpinan Melayu yang lemah oleh pihak-pihak tertentu, dari dalam dan luar negara serta keadaan ekonomi dunia yang kucar kacir dewasa ini, maka KAMI, para penulis, wartawan dan blogger yang prihatin terhadap nasib Bangsa, Agama dan Tanah Air, yang bersidang di Janda Baik, Pahang mengambil sikap dan pendirian seperti berikut:-
1. KAMI mendesak dan menuntut agar para pemimpin Melayu dari berbagai fahaman politik mengembelengkan tenaga, kerjasama dan buah fikiran demi mempertahankan keluhuran dan kekeramatan PERLEMBAGAAN MALAYSIA TANPA KOMPROMI
.
2. KAMI memberi amaran kepada para pemimpin politik Melayu dari semua fahaman ideologi agar jangan menjadi pemimpin Pak Pandir yang hanya menang sorak tetapi kampung halaman dan negara terjual kepada pihak asing.
3. KAMI juga memberi amaran keras kepada pihak-pihak tertentu yang memainkan sentimen perkauman dan mempertikaikan HAK ISTIMEWA MELAYU sepertimana yang termaktub dalam PERLEMBAGAAN NEGARA agar jangan mencetuskan permusuhan antara kaum, antara agama dan antara budaya oleh kerana mereka menganggap kepimpinan Melayu lemah dan boleh diperdagangkan untuk memenuhi agenda perkauman mereka.
4. KAMI juga memberi amaran keras kepada para pemimpin Melayu, khasnya UMNO, agar mereka jangan menjadi pengkhianat BANGSA, AGAMA DAN TANAH AIR hanya kerana didorong oleh nafsu kekayaan kebendaan, kuasa yang dipinjamkan Allah, hingga melupai tanggungjawab mereka terhadap generasi Melayu akan datang.
5. KAMI menggesa seluruh umat Melayu yang menjadi para pejuang BANGSA, AGAMA DAN TANAHAIR tanpa mengira aliran politik agar memilih barisan pemimpin mereka yang terbaik dan bersih dari korupsi, berbagai skandal yang memalukan, yang berwibawa, berilmu dan berjiwa dinamik untuk menerajui kerajaan dan badan-badan amanah lainnya.
6. KAMI memberi peringatan dan teguran ikhlas bahawa UMNO mesti melakukan revolusi mental dan perombakan pemikiran yang dekaden, konservatif, materialistik yang melampau, anti ilmu, berpuak-puak, mementingkan diri, kaum keluarga dan para kroni hingga sanggup memperjudikan nasib BANGSA, AGAMA DAN TANAHAIR
.
7. KAMI memberi amaran keras dan peringatan yang tulus ikhlas bahawa kepimpinan UMNO yang lemah, korup, rakus dan gila kuasa boleh menggerhanakan masa depan generasi muda Melayu dan rakyat yang telah memberikan sokongan mereka sejak 51 tahun UMNO memimpin kerajaan Malaysia.
8. KAMI juga ingin mengingatkan para pemimpin Melayu yang berkuasa agar jangan terlalu banyak berkompromi dengan golongan-golongan tertentu yang mempunyai agenda tertentu untuk melemahkan kepimpinan Melayu.
9. KAMI juga ingin mengingatkan para pemimpin Melayu yang berkuasa bahawa kelemahan kekuasaan politik Melayu akan membawa kehancuran dan penghapusan kuasa orang Melayu di bumi Malaysia yang bertuah ini.
10. KAMI menyeru dan menggesa rakyat Melayu bertindak proaktif dalam berbagai bidang kehidupan untuk menjamin kekuasaan politik Melayu tidak terhakis dan ketuanan Melayu dan Islam kekal subur selagi ada matahari dan bulan
11. KAMI merafak sembah memohon agar Duli-duli Yang Maha Mulia Raja-Raja Melayu mempertahankan kedaulatan baginda seperti mana yang termaktub dalam PERLEMBAGAAN MALAYSIA dengan memberi sokongan moral kepada perjuangan umat Melayu dan Islam dalam berbagai lapangan hidup. Perlulah dihayati kedaulatan dan kedudukan Raja-Raja Melayu akan berterusan sekiranya rakyat Melayu dan umat Islam memperjuang dan mempertahankan institusi Raja tersebut.
12. KAMI dengan penuh takzimnya memohon Duli-duli Yang Maha Mulia Raja-Raja Melayu dan kaum kerabat baginda agar jangan mengkhianati dan melakukan sesuatu tindakan yang boleh menjejaskan institusi Raja dan melukai perasaan umat Melayu yang mempertahankan institusi Raja selama ini.
13. KAMI juga menyeru kepada kerajaan agar melaksanakan KEADILAN dan TANGGUNGJAWAB sebagai pemerintah kepada semua rakyat Malaysia tanpa mengira kaum memandangkan Malaysia negara majmuk.
14. KAMI ingin memberi peringatan kepada bukan Melayu agar berpegang teguh pada kontrak sosial dan PERLEMBAGAAN NEGARA demi menjaga keharmonian hubungan antara kaum serta kesejahteraan dan keamanan yang kita sama-sama mempertahankannya.
15. KAMI yakin dan percaya bahawa Kebebasan suara Rakyat dan amalan Demokrasi mestilah dipertahankan oleh kerana rakyat yang memberi mandat dan amanah kepada parti-parti politik tertentu untuk berkuasa. Oleh hal demikian KAMI akan bekerjasama dengan siapa saja, dan dari golongan mana sekali pun, demi memperjuangkan hak dan kebebasan Rakyat serta amalan Demokrasi di bumi Malaysia yang bertuah ini.
Inilah deklarasi yang tulus ikhlas yang KAMI abadikan sebagai cetusan rasa dari buah fikiran KAMI demi memperjuangkan hak dan kepentingan Rakyat, Keamanan dan Kesejahteraan Negara Malaysia.
KAMI rakamkan cetusan hati nurani Rakyat yang bernama DEKLARASI JANDA BAIK, bertempat di kediaman Sdr Syed Hussein Al-Attas, bertarikh 26 Oktober 2008.
DEKLARASI JANDA BAIK, bertempat di kediaman Sdr Syed Hussein Al-Attas, bertarikh 26 Oktober 2008.
Blogger Keluarkan Deklarasi Janda Baik
BERTEMPAT di kediaman rehat, Syed Hussein Alattas (Pak Habib) di Wadi Hussein Janda Baik hari ini sekumpulan blogger bebas telah sepakat mengeluarkan satu deklarasi menyatakan keprihatinan, pendirian dan komitmen mereka berhubung beberapa isu semasa berkaitan kepentingan agama, bangsa dan negara.
Deklarasi yang dinamakan Deklarasi Janda Baik itu mengandungi 15 perkara berhubung kepentingan bangsa Melayu, negara dan juga kesucian agama Islam. Deklarasi itu pertama kali dikeluarkan oleh para blogger. Deklarasi berkenaan dizahirkan oleh Sdr Yassin Salleh (yassinsaleh), sebagai mewakili kumpulan berkenaan.
Pelahiran deklarasi itu adalah kesenimbungan kepada perjumpaan tidak rasmi kumpulan berkenaan di sebuah hotel di ibu negara minggu lepas dalam satu majlis apa dinamakan Cease Fire yang dikendalikan oleh seorang usahawan Abdul Aziz Chemor.
Antara blogger yang hadir dalam perjumpaan di Janda Baik pagi tadi ialah Yahaya Ismail, Abu Bakar Ninggal, Salahuddin Hashim, Webah Salleh dan beberapa yang lain. Perjumpaan tadi tidak secara informal berkebetulan sempena dengan upacara majlis cukur jambul cucu ke -8 Pak Habib, Manova.
Sehubungan itu menurut jurucakap kumpulan berkenaan Yassin, meminta kesemua bloggers ikut sama memberi sokongan kepada deklarasi berkenaan tanpa mengira fahaman politik, kedudukan dan juga darjat demi masa depan bangsa dan negara.
"Bagi mereka yang mendokong deklarasi yang dikeluarkan hari ini bolehlah menyatakan sokongan dengan ikut sama mengakseskan deklarasi berkenaan ke dalam blog masing-masing," ujar Yassin.
Kemungkinan satu pertemuan rasmi akan diadakan selepas ini untuk mengadakan perbincangan lebih lanjut serta tindakan ke atas melaksanakan atau memastikan rumusan yang terkandung dalam deklarasi berkenaan dilaksanakan.
Berikut disiarkan deklarasi berkenaan:
DEKLARASI JANDA BAIK
Memandangkan keadaan politik negara yang gawat, cabaran dan gugatan terhadap kepimpinan Melayu yang lemah oleh pihak-pihak tertentu, dari dalam dan luar negara serta keadaan ekonomi dunia yang kucar kacir dewasa ini, maka KAMI, para penulis, wartawan dan blogger yang prihatin terhadap nasib Bangsa, Agama dan Tanah Air, yang bersidang di Janda Baik, Pahang mengambil sikap dan pendirian seperti berikut:-
1. KAMI mendesak dan menuntut agar para pemimpin Melayu dari berbagai fahaman politik mengembelengkan tenaga, kerjasama dan buah fikiran demi mempertahankan keluhuran dan kekeramatan PERLEMBAGAAN MALAYSIA TANPA KOMPROMI
.
2. KAMI memberi amaran kepada para pemimpin politik Melayu dari semua fahaman ideologi agar jangan menjadi pemimpin Pak Pandir yang hanya menang sorak tetapi kampung halaman dan negara terjual kepada pihak asing.
3. KAMI juga memberi amaran keras kepada pihak-pihak tertentu yang memainkan sentimen perkauman dan mempertikaikan HAK ISTIMEWA MELAYU sepertimana yang termaktub dalam PERLEMBAGAAN NEGARA agar jangan mencetuskan permusuhan antara kaum, antara agama dan antara budaya oleh kerana mereka menganggap kepimpinan Melayu lemah dan boleh diperdagangkan untuk memenuhi agenda perkauman mereka.
4. KAMI juga memberi amaran keras kepada para pemimpin Melayu, khasnya UMNO, agar mereka jangan menjadi pengkhianat BANGSA, AGAMA DAN TANAH AIR hanya kerana didorong oleh nafsu kekayaan kebendaan, kuasa yang dipinjamkan Allah, hingga melupai tanggungjawab mereka terhadap generasi Melayu akan datang.
5. KAMI menggesa seluruh umat Melayu yang menjadi para pejuang BANGSA, AGAMA DAN TANAHAIR tanpa mengira aliran politik agar memilih barisan pemimpin mereka yang terbaik dan bersih dari korupsi, berbagai skandal yang memalukan, yang berwibawa, berilmu dan berjiwa dinamik untuk menerajui kerajaan dan badan-badan amanah lainnya.
6. KAMI memberi peringatan dan teguran ikhlas bahawa UMNO mesti melakukan revolusi mental dan perombakan pemikiran yang dekaden, konservatif, materialistik yang melampau, anti ilmu, berpuak-puak, mementingkan diri, kaum keluarga dan para kroni hingga sanggup memperjudikan nasib BANGSA, AGAMA DAN TANAHAIR
.
7. KAMI memberi amaran keras dan peringatan yang tulus ikhlas bahawa kepimpinan UMNO yang lemah, korup, rakus dan gila kuasa boleh menggerhanakan masa depan generasi muda Melayu dan rakyat yang telah memberikan sokongan mereka sejak 51 tahun UMNO memimpin kerajaan Malaysia.
8. KAMI juga ingin mengingatkan para pemimpin Melayu yang berkuasa agar jangan terlalu banyak berkompromi dengan golongan-golongan tertentu yang mempunyai agenda tertentu untuk melemahkan kepimpinan Melayu.
9. KAMI juga ingin mengingatkan para pemimpin Melayu yang berkuasa bahawa kelemahan kekuasaan politik Melayu akan membawa kehancuran dan penghapusan kuasa orang Melayu di bumi Malaysia yang bertuah ini.
10. KAMI menyeru dan menggesa rakyat Melayu bertindak proaktif dalam berbagai bidang kehidupan untuk menjamin kekuasaan politik Melayu tidak terhakis dan ketuanan Melayu dan Islam kekal subur selagi ada matahari dan bulan
11. KAMI merafak sembah memohon agar Duli-duli Yang Maha Mulia Raja-Raja Melayu mempertahankan kedaulatan baginda seperti mana yang termaktub dalam PERLEMBAGAAN MALAYSIA dengan memberi sokongan moral kepada perjuangan umat Melayu dan Islam dalam berbagai lapangan hidup. Perlulah dihayati kedaulatan dan kedudukan Raja-Raja Melayu akan berterusan sekiranya rakyat Melayu dan umat Islam memperjuang dan mempertahankan institusi Raja tersebut.
12. KAMI dengan penuh takzimnya memohon Duli-duli Yang Maha Mulia Raja-Raja Melayu dan kaum kerabat baginda agar jangan mengkhianati dan melakukan sesuatu tindakan yang boleh menjejaskan institusi Raja dan melukai perasaan umat Melayu yang mempertahankan institusi Raja selama ini.
13. KAMI juga menyeru kepada kerajaan agar melaksanakan KEADILAN dan TANGGUNGJAWAB sebagai pemerintah kepada semua rakyat Malaysia tanpa mengira kaum memandangkan Malaysia negara majmuk.
14. KAMI ingin memberi peringatan kepada bukan Melayu agar berpegang teguh pada kontrak sosial dan PERLEMBAGAAN NEGARA demi menjaga keharmonian hubungan antara kaum serta kesejahteraan dan keamanan yang kita sama-sama mempertahankannya.
15. KAMI yakin dan percaya bahawa Kebebasan suara Rakyat dan amalan Demokrasi mestilah dipertahankan oleh kerana rakyat yang memberi mandat dan amanah kepada parti-parti politik tertentu untuk berkuasa. Oleh hal demikian KAMI akan bekerjasama dengan siapa saja, dan dari golongan mana sekali pun, demi memperjuangkan hak dan kebebasan Rakyat serta amalan Demokrasi di bumi Malaysia yang bertuah ini.
Inilah deklarasi yang tulus ikhlas yang KAMI abadikan sebagai cetusan rasa dari buah fikiran KAMI demi memperjuangkan hak dan kepentingan Rakyat, Keamanan dan Kesejahteraan Negara Malaysia.
KAMI rakamkan cetusan hati nurani Rakyat yang bernama DEKLARASI JANDA BAIK, bertempat di kediaman Sdr Syed Hussein Al-Attas, bertarikh 26 Oktober 2008.
Friday, July 02, 2010
Melayu Bersatu; Mungkinkah?
(artikel ini adalah respon kepada artikel INI, INI,INI dan INI.)
Melayu Bersatu; Mungkinkah?
1. Mungkin ramai yang tidak faham, apa sebenarnya kepentingan kesatuan Melayu dan kaitannya dengan Islam. Walaupun mungkin tidak tepat mengatakan kesatuan Melayu sama dengan kesatuan Islam, tetapi sekiranya Melayu bersatu, at least ada harapan Islam akan terpelihara, dan dapat ditinggikan.
2. Tun Dr Mahathir telah berkali kali mengulangkan perkara ini. Di semak kembali lipatan sejarah, diingatkan kembali tentang kuasa minority Melayu dan sebagainya. Semua pendapat beliau saya sokong. Cuma, mungkin apa yang tidak kelihatan ialah Melayu nak bersatu di mana?
3. Sebahagian kawan saya mengatakan, itu usaha Tun untuk mengembalikan sokongan kepada UMNO. Saya berpendapat tidak, Tun dengan jelas mengatakan 50% Melayu menyokong PAS. Manakala baki 50% dimiliki oleh UMNO dan PKR, yang mana UMNO lebih banyak. Logiknya, biarlah Melayu bersatu di tempat yang paling ramai penyokong Melayunya, iaitu PAS. Saya rasa ini pun bukan seruan Tun. Dan bagi saya, ini juga seruan yang tak praktikal.
4. Karpal Singh mengulangi pendirian dia bahawa sekiranya PR berkuasa, tidak mungkin negara ini akan menjadi negara Islam. ‘Langkah mayat dia dulu’. Tapi, Tuan Guru Nik Aziz memiliki kadar Husnu Zhan (berbaik sangka) yang sangat tinggi. Dia kata itu pendapat Karpal seorang sahaja, bukan DAP. Apa kata kita buat survey kepada bukan Islam, terutama penyokong DAP dan PKR yang bukan Islam, sekiranya PR landing di Putrajaya, mereka terima tak konsep negara Islam? Siapa betul, Karpal ke Tuan Guru? Anda rasa bagaimana?
5. PAS dah menunjukkan kecenderungan untuk meletakkan calon bukan Islam bertanding bagi tiket PAS. Saya tidak nampak logiknya. Adakah ia menepati maqasid syarak? Apa jaminan bukan Islam untuk wala’ dengan perjuangan PAS? Sekiranya PAS hendak menunjukkan kepada bukan Islam, bahawa PAS UNTUK SEMUA, ini bukan masanya. Ketika mana Melayu-Islam bergelut dalam survival politiknya, PAS mengeruhkan lagi keadaan.
6. UMNO dah terang terang rela meletakkan calon bukan Melayu bertanding di kawasan Melayu. Sekarang, PAS pula nak jadi macam tu. Pernah kawasan cina, MCA atau Gerakan bagi UMNO bertanding? Dulu UMNO mengalah kepada GERAKAN di Penang, sekarang GERAKAN dah terkubur di Penang. Kerusi BN semua UMNO, tetapi adakah GERAKAN nak bagi balik kuasa dekat UMNO? Jangan mimpi. Temasek menjadi Singapura, ada harapan ke jadi Temasek balik? Tak belajar ke wahai sahabat PAS?
7. Kalau PAS merujuk kepada PKS di Indonesia yang memberi peluang kepada bukan Islam untuk menjadi ahli, kena ingat, di Indonesia 90% umat Islam. Dan sekarang, kuasa politik di sana masih di tangan umat Islam. Sama ke keadaanya dengan Malaysia?
8. Sekiranya PAS dah berkuasa di Putrajaya, Tuan Guru Haji Hadi dah jadi PM, masa tu kalau PAS nak menunjukkan keterbukaan kepada bukan Islam, dah tidak menjadi masalah, bahkan dituntut. Tetapi, bukan sekarang. Sekarang, matlamatnya ialah memenuhkan Parlimen dengan Melayu-Islam.
Apa seruan kita?
1. UMNO, PAS, NGO Islam, NGO Melayu dan segala sendi keMelayuan yang lain, perlu duduk berbincang, bagi merancang agenda Melayu yang menjurus kepada kesatuan Melayu.
2. Orang Melayu kena sedar ancaman yang sedang dihadapi mereka. Nisbah pengundi Melayu baru yang berdaftar dengan pengundi bangsa lain ialah 1:40. Jika keadaan ini berterusan, tidak lama lagi Malaysia akan jadi Singapura.
3. PAS kena memikirkan sematang matangnya tahalluf siyasi mereka dengan PR. Adakah memang ia bermanfaat untuk Islam sekarang ini. Bagi saya tidak.
4. Paling baik, PAS dan UMNO dapat duduk bersama membentuk Kerajaan Perpaduan. PAS sudah memiliki ‘bargain power’ yang tinggi berbanding PAS yang dulu. Ada harapan yang tinggi PAS akan jadi ‘main player’ di dalam kerajaan Perpaduan dengan UMNO, melihat kepada sokongan Melayu yang besar kepadanya. Berbanding di dalam Pakatan Rakyat, PAS susah nak jadi ‘main player’nya. Tetapi saya tidak menafikan kelicikan UMNO. Dan saya juga yakin pimpinan PAS bijak bijak belaka.
5. Sekiranya UMNO dan PAS ‘ketegaq’ sangat, kuasa rakyat Melayu kuasa keramat. Tolong undi orang Melayu sahaja. Dengan itu, UMNO dengan PAS pikir panjang nak letak calon bukan Melayu di tempat Melayu.
6. Kepada ulama Sunnah yang masuk UMNO, tolong Islamkan UMNO dengan keIslaman yang benar. Sebab Tuan Guru Nik Aziz kata, PAS akan bubar sekiranya itu terjadi. Tetapi risikonya besar wahai ulama Sunnah sekalian. Imam al Ghazali masuk kedalam Ilmu Kalam untuk membasminya, akhirnya dia sendiri tidak dapat keluar dari pengaruhnya. Ambil iktibar.
Wallahu’alam.
Melayu Bersatu; Mungkinkah?
1. Mungkin ramai yang tidak faham, apa sebenarnya kepentingan kesatuan Melayu dan kaitannya dengan Islam. Walaupun mungkin tidak tepat mengatakan kesatuan Melayu sama dengan kesatuan Islam, tetapi sekiranya Melayu bersatu, at least ada harapan Islam akan terpelihara, dan dapat ditinggikan.
2. Tun Dr Mahathir telah berkali kali mengulangkan perkara ini. Di semak kembali lipatan sejarah, diingatkan kembali tentang kuasa minority Melayu dan sebagainya. Semua pendapat beliau saya sokong. Cuma, mungkin apa yang tidak kelihatan ialah Melayu nak bersatu di mana?
3. Sebahagian kawan saya mengatakan, itu usaha Tun untuk mengembalikan sokongan kepada UMNO. Saya berpendapat tidak, Tun dengan jelas mengatakan 50% Melayu menyokong PAS. Manakala baki 50% dimiliki oleh UMNO dan PKR, yang mana UMNO lebih banyak. Logiknya, biarlah Melayu bersatu di tempat yang paling ramai penyokong Melayunya, iaitu PAS. Saya rasa ini pun bukan seruan Tun. Dan bagi saya, ini juga seruan yang tak praktikal.
4. Karpal Singh mengulangi pendirian dia bahawa sekiranya PR berkuasa, tidak mungkin negara ini akan menjadi negara Islam. ‘Langkah mayat dia dulu’. Tapi, Tuan Guru Nik Aziz memiliki kadar Husnu Zhan (berbaik sangka) yang sangat tinggi. Dia kata itu pendapat Karpal seorang sahaja, bukan DAP. Apa kata kita buat survey kepada bukan Islam, terutama penyokong DAP dan PKR yang bukan Islam, sekiranya PR landing di Putrajaya, mereka terima tak konsep negara Islam? Siapa betul, Karpal ke Tuan Guru? Anda rasa bagaimana?
5. PAS dah menunjukkan kecenderungan untuk meletakkan calon bukan Islam bertanding bagi tiket PAS. Saya tidak nampak logiknya. Adakah ia menepati maqasid syarak? Apa jaminan bukan Islam untuk wala’ dengan perjuangan PAS? Sekiranya PAS hendak menunjukkan kepada bukan Islam, bahawa PAS UNTUK SEMUA, ini bukan masanya. Ketika mana Melayu-Islam bergelut dalam survival politiknya, PAS mengeruhkan lagi keadaan.
6. UMNO dah terang terang rela meletakkan calon bukan Melayu bertanding di kawasan Melayu. Sekarang, PAS pula nak jadi macam tu. Pernah kawasan cina, MCA atau Gerakan bagi UMNO bertanding? Dulu UMNO mengalah kepada GERAKAN di Penang, sekarang GERAKAN dah terkubur di Penang. Kerusi BN semua UMNO, tetapi adakah GERAKAN nak bagi balik kuasa dekat UMNO? Jangan mimpi. Temasek menjadi Singapura, ada harapan ke jadi Temasek balik? Tak belajar ke wahai sahabat PAS?
7. Kalau PAS merujuk kepada PKS di Indonesia yang memberi peluang kepada bukan Islam untuk menjadi ahli, kena ingat, di Indonesia 90% umat Islam. Dan sekarang, kuasa politik di sana masih di tangan umat Islam. Sama ke keadaanya dengan Malaysia?
8. Sekiranya PAS dah berkuasa di Putrajaya, Tuan Guru Haji Hadi dah jadi PM, masa tu kalau PAS nak menunjukkan keterbukaan kepada bukan Islam, dah tidak menjadi masalah, bahkan dituntut. Tetapi, bukan sekarang. Sekarang, matlamatnya ialah memenuhkan Parlimen dengan Melayu-Islam.
Apa seruan kita?
1. UMNO, PAS, NGO Islam, NGO Melayu dan segala sendi keMelayuan yang lain, perlu duduk berbincang, bagi merancang agenda Melayu yang menjurus kepada kesatuan Melayu.
2. Orang Melayu kena sedar ancaman yang sedang dihadapi mereka. Nisbah pengundi Melayu baru yang berdaftar dengan pengundi bangsa lain ialah 1:40. Jika keadaan ini berterusan, tidak lama lagi Malaysia akan jadi Singapura.
3. PAS kena memikirkan sematang matangnya tahalluf siyasi mereka dengan PR. Adakah memang ia bermanfaat untuk Islam sekarang ini. Bagi saya tidak.
4. Paling baik, PAS dan UMNO dapat duduk bersama membentuk Kerajaan Perpaduan. PAS sudah memiliki ‘bargain power’ yang tinggi berbanding PAS yang dulu. Ada harapan yang tinggi PAS akan jadi ‘main player’ di dalam kerajaan Perpaduan dengan UMNO, melihat kepada sokongan Melayu yang besar kepadanya. Berbanding di dalam Pakatan Rakyat, PAS susah nak jadi ‘main player’nya. Tetapi saya tidak menafikan kelicikan UMNO. Dan saya juga yakin pimpinan PAS bijak bijak belaka.
5. Sekiranya UMNO dan PAS ‘ketegaq’ sangat, kuasa rakyat Melayu kuasa keramat. Tolong undi orang Melayu sahaja. Dengan itu, UMNO dengan PAS pikir panjang nak letak calon bukan Melayu di tempat Melayu.
6. Kepada ulama Sunnah yang masuk UMNO, tolong Islamkan UMNO dengan keIslaman yang benar. Sebab Tuan Guru Nik Aziz kata, PAS akan bubar sekiranya itu terjadi. Tetapi risikonya besar wahai ulama Sunnah sekalian. Imam al Ghazali masuk kedalam Ilmu Kalam untuk membasminya, akhirnya dia sendiri tidak dapat keluar dari pengaruhnya. Ambil iktibar.
Wallahu’alam.
Subscribe to:
Comments (Atom)