Thursday, October 14, 2010

Akhir Perjalanan Gerakan Dakwah....

p/s: artikel ini adalah tulisan al Fadhil Ustaz Farid Nu'man. Materi ini pernah saya syarahkan di awal tahun lepas bagi memperingati ikhwah sekalian akan bahaya kehancuran sebuah gerakan dakwah. Semoga kita mengambil iktibar di atas segala kejadian yang berlaku dan kehadiran artikel ini adalah sebuah muhasabah agar sejarah tidak berulang. Hakikatnya, sejarah adalah peristiwa yang sentiasa berulang ulang. Barangsiapa yang tidak memahami sejarah, dia akan dihukum oleh sejarah.

Mukadimah

Setiap umat ada ajalnya. Al Quran yang mulia telah menceritakan umat-umat terdahulu yang dibinasakan Allah Azza wa Jalla , lantaran sikap mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah, melakukan penyimpangan, menghalalkan segala cara, dan perlawanan terhadap da’wah para Rasul yang mulia. Jika ada yang mengatakan, tidak sepantasnya kaum para pembangkang dianalogikan dengan kaum pergerakan Islam. Jawabannya adalah sunatullah kehidupan berlaku bagi siapa saja. Sunatullah tidak pernah memilih kepada siapa dirinya diberlakukan. Ia akan terjadi jika syarat-syaratnya terpenuhi. Ia akan terjadi dan akan lebih cepat terjadi, jika manusia itu sendiri yang mengoleksi dan mengumpulkan segala sebab-sebabnya. Tak ada jaminan dari siapa pun, bahwa sebuah pergerakan Islam akan abadi.

(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang ya paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: ("Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya." Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), da Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu. (QS.AsySyams:11-15)

Kesalahan, pembangkangan, penyimpangan, dan sikap mendustakan ayat-ayat Allah Azza wa Jalla, bukan hanya monopoli kaum Tsamud, atau ’Ad, atau kaum yang telah Allah binasakan lainnya. Selaku manusia, para aktifis Islam yang sejatinya erat dengan nilai Islam, pemikiran Islam, dan solusi Islami, justru di tangan merekalah da’wah itu roboh. Karena mereka melakukan penyimpangan yang pernah dilakukan oleh umat-umat yang dibinasakan, yang beda hanya penamaan dan pembahasa-an, adapun bentuk, dampak, dan tujuannya sama. (Mukhtalifah al Asma wal lughah Muttahidah al Asykal wal Aghrad)

Beberapa oontoh dalam scoup individu, contoh pribadi-pribadi yang telah berakhir di jalan da’wah telah banyak. Mulai dari tokoh besar, hingga kawan kita sendiri. Mulai zaman dulu sampai saat ini, bahkan akan datang. Washil bin ’Atha dan Amr bin ’Ubaid, dahulu mereka adalah Ahlus Sunnah, namun lenyap dari barisan Ahlus Sunnah lantaran penyimpangan pemikirannya.

Abad ini, ada Jamal Abdul Nashir yang lenyap dari jalan da’wah, lantaran syahwat kekuasaannya. Bahkan ia berbalik memusuhi da’wah dengan serangan yang melebihi perbuatan orang kafir. Masih banyak contoh lainnnya. Mereka telah ”berakhir” sebelum ajal biologisnya tiba.

Dalam scoup komunitas, kita memiliki contoh yang tidak jauh dari perjalanan sejarah bangsa ini, Masyumi. Berakhirnya kisah Masyumi, bukan hanya karena dibubarkan oleh Soekarno. Tetapi, ada sebab rasional lainnya yang menunjukkan bahwa sunatullah tetap berlaku bagi siapa saja, walau ia gerakan da’wah.

Masyumi telah melupakan nukbawiyah (pengkaderan) dengan arti sesungguhnya. Kader yang mampu melanjutkan perjuangan pendahulu dan ideolognya. Walau orang-orangnya ada, namun ia telah hampa. Bahkan ketika Masyumi dibubarkan, tokoh besarnya yakni Muhammad Natsir Allahu Yarham masih hidup hingga beberapa dekade pasca pembubaran Masyumi. Selain itu Masyumi juga gagal dalam meredam konflik internal, antara kaum tradisionalis dan modernis. Hingga akhirnya Nahdhatul Ulama memutuskan keluar dari Masyumi, yang diakui cukup melemahkan langkah perjuangan mereka.

Saat ini, kebesaran Masyumi mirip kegagahan Dinosaurus yang punah, yang kerap kita kisahkan ke anak-anak kita. Mereka penasaran dengan Dinosaurus, ingin melihat dekat, tetapi yang ada hanya fosilnya saja, itu pun tidak utuh, atau di museum. Ada pula kelompok umat Islam yang ingin mengembalikan romantisme kejayaan Masyumi, tapi mereka sudah gagal sebelum berjalan. Masing-masing kelompok mengaku pewaris sah Masyumi. Akhirnya, kita benar-benar melihat bahwa Masyumi telah menjadi fi’il madhi yang tidak mungkin menjadi fi’il mudhari.

Inilah sebab-sebab itu ada beberapa sebab dari sekian banyak sebab berakhirnya perjalanan da’wah sebuah pergerakan Islam. Sebab-sebab ini, jika memang ada pada komunitas da’wah, maka sudah sepantasnya dicari solusi yang tepat, jitu, dan cepat, bahkan harus lebih cepat dari menjalarnya sebab-sebab tersebut.

Kadang harus tegas, kalau memang itu diperlukan, ini jika memang kita lebih memilih kelanggengan jamaah dibanding berbasa-basi dengan masalah dan problem maker -nya. Kita tidak meragukan keshalihan dan kealimannya, tetapi jamaah punya fatsun (tata krama) aturan main yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun.

Dihadapan itu, semua anggota jamaah dan pimpinannya adalah sama, tak ada orang kuat, anak emas, atau putra mahkota. Sebab, Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam sendiri yang akan memotong tangan Fathimah, jika puterinya itu mencuri.
Dahulu, Ustadz Hasan al Hudaibi Rahimahullah mengusulkan kepada Hai’ahTa’sisiyah untuk memecat lima anggotanya dan mengeluarkan keputusan tersebut. Lalu, Syaikh Hasan al Hudaibi berkata: Sesungguhnya mereka dipecat bukan karena cacatnya pemahaman agama mereka. Bisa jadi mereka lebih baik dari kita. Tetapi jamaah punya aturan yang harus dipatuhi dan dilaksanakan. Mereka menentang keputusan ini, tetapi barisan akhirnya kembali stabil.
Syaikh Ahmad Hasan al Baquri menerima jabatan menteri dari Jamal Abdul Nashir tanpa izin Ustadz Al Hudaibi, lalu Ustadz Al Hudaibi bertanya :
Mursyid : Apa tindakan Anda?
Al Baquri : Saya mengundurkan diri dari Maktab al Irsyad.
Mursyid : Lalu apa lagi?
Al Baquri : Saya mengundurkan diri dari Hai’ah Ta’sisiyah.
Mursyid : Lalu apa lagi?
Al Baquri : Saya mengundurkan diri dari Ikhwanul Muslimin.
Mursyid : itulah solusinya.
Kemudian Ustadz Hasan al Hudaibi mengunjunginya dikementrian waqaf dan mengucapkan selamat kepadanya.
Benarlah Abu Tamam ketika dia berkata: Pedang lebih pandai membawa berita daripada buku-buku Ketajamannya membedakan kesungguhan dan main-main.

1. Timbulnya Perselisihan dan Perpecahan Pada Jajaran Pimpinan

Inilah sebab pertama dan paling membahayakan. Potensi berselisih dan bahaya laten berpecah pasti ada pada setiap perkumpulan manusia. Sebab, mereka adalah kumpulan dari berbagai suku, latar belakang hidup, budaya, pemikiran, keinginan, bahkan motivasi, ditambah lagi emosi dan hawa nafsu. Tak ada satu pun yang selamat dari bahaya laten ini, dan sejarah umat ini telah berkali-kali melewatinya, begitu pula dalam perjalanan dan pasang surut gerakan Islam. Padahal mereka tahu, persaudaraan adalah saudara bagi keimanan, dan perpecahan adalah saudara bagi kekufuran.

Bahaya lebih besar, jika yang mengalami perpecahan adalah jajaran pimpinannya. Pasca wafatnya H.O.S Cokro Aminoto, SDI (Syarikat Dagang Islam) yang pada masa beliau dua kali ganti nama menjadi SI (Syarikat Islam) dan PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia) tak ada lagi tokoh bisa menyatukan PSII. Tak ada yang mampu meredam konflik, tak ada yang se-berwibawa H.O.S Cokro Aminoto, karena tak ada kaderisasi. Akhirnya, terpecahlah menjadi SI putih dan SI merah, yang belakangan menjadi bibit lahirnya PKI (Partai Komunis Indonesia ).

Sungguh, tidak sama dahsyatnya goncangan perpecahan tingkat elit, dibanding perpecahan tingkat akar umput. Maka, hendaknya kita menghilangkan rasa dengki, dendam, iri, hasad, cari muka dan menjilat, dan sifat buruk lainnya yang biasa menjadi penyakit yang menyerang sebagian pimpinan organisasi apapun.

Imam Hasan al Banna Rahimahullah berkata: Ukhuwah adalah saudara keimanan, dan perpecahan adalah saudara kekufuran; kekuatan yang pertama adalah kekuatan persatuan, tak ada persatuan tanpa rasa cinta, dan sekecil-kecilnya cinta adalah lapang dada, dan yang paling tinggi adalah itsar (mendahulukan kepentingan saudara).

Barangsiapa yang menjaga serta memelihara dirinya daripada dipengaruhi oleh tabiat bakhilnya, maka merekalah orang-orang yang berjaya. (QS. Al Hasyr: 9)

Al Akh yang benar akan melihat saudara-saudaranya yang lain lebih utama dari dirinya sendiri, karena ia jika tidak bersama mereka, tidak akan dapat bersama yang lain. Sementara mereka jika tidak bersama dirinya, akan bisa bersama orang lain. Dan sesungguhnya srigala hanya akan memangsa kambing yang sendirian. Seorang muslim dengan muslim lainnya laksana satu bangunan, saling menguatkan satu sama lain. Dan orang-orang beriman baik laki-laki dan perempuan, satu sama lain saling tolong menolong diantara mereka . Begitulah seharus kita. (Al Imam Asy Syahid Hasan al Banna, Majmu’ah  ar Rasail , hal. 313. Al Maktabah At Taufiqiyah )

Bagaimana mungkin pemimpin mendapatkan rasa cinta dan ketaatan dari prajuritnya, jika sesama mereka sendiri tidak saling mencintai dan melanggar aturan jamaah. Ketiadaan rasa cinta dan taat dari jundiyah terhadap qiyadahnya, merupakan min asyratis sa’ah (di antara tanda-tanda kebinasaan) bagi gerakan tersebut Seharusnya kita mengingat: Aku mencintaimu, jangan kau tanya mengapa Aku mencintaimu, itu adalah iman dan agama.

2. Gerakan Pengacau Jamaah

Ini penyebab selanjutnya yang tidak kalah bahayanya. Gerakan ini bisa saja terlahir dari permasalahan kecil, yakni tidak terakomodasinya sebuah ide, pendapat, atau pemikiran. Sayangnya sang shahibul fikrah, tidak menerima kenyataan itu dan dia pun fanatik dengan pendapatnya. Dia merasa diremehkan dan tidak dihargai, lalu dia telan sendiri perasaan itu, tanpa melakukan komunikasi dengan ikhwah lain. Di tambah lagi, adanya kran komunikasi yang mampet diatasnya, Sehingga ia tidak memiliki saluran, maka meledaklah menjadi sebuah kekesalan dan pembangkangan, baik terselubung atau terang-terangan. Kemungkinan paling buruk adalah ia keluar dari jamaah dan menciptakan komunitas sendiri yang menjadi rival. Contoh seperti ini tidak sedikit.

Ketahuilah dan sadarilah, gerakan pengacau tidak selalu dalam bentuk oposan, bisa jadi justru wal ’iyadzubillah - mereka berada di dalam lingkaran jajaran para pimpinan dan pemegang ke bijakan. Ini lebih bahaya, sebab biasanya akan menjadi untouchable man dan kuat pengaruhnya terhadap arah angin kebijakan. Ada di antara mereka yang menggunakan kepintarannya untuk memanfatkan keluguan kawan-kawannya dan atasannya sendiri. Ditambah lagi, mereka benar-benar menikmati doktrin ”tha’ah wa tsiqah bil qiyadah” dari para kadernya, sementara al fahmu, al ikhlas, al amal, al jihad, al tadh-hiyah yang seharusnya didahulukan, tidak mendapatkan porsi yang adil. Sungguh tsiqah bil qiyadah adalah wajib, namun dengan ilmu, sebab Allah Ta’ala berfirman:

”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isra : 36)

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah. (QS Muhammad: 19)

Allah Ta’ala memerintahkan faham terlebih dahulu, fa’lam (maka ketahuilah), sebelum Dia memerintahkan keimanan kepadaNya, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah selain Allah. Inilah yang menyebabkan Imamuna, Syahidul Islam Hasan al Banna Rahimahullah menjadikan al fahmu (pemahaman) sebagai rukun pertama dari arkanul bai’ah . Namun anehnya banyak di antara kita yang mendengarkan dengan setia, mengikuti mereka (pengacau jamaah), bahkan terkagum-kagum dengan permainan kata mereka. Lalu menganggap mereka di atas kita dalam hal al fahmu. Sungguh, kita seperti seorang anak SD yang memandang mahasiswa setinggi langit, padahal seorang Profesor akan memandang mahasiswa sebagai anak SD.

Kelompok ini mirip dengan apa yang Allah Ta’ala firmankan tentang gerakan pengacau dalam Perang Tabuk: ”Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim.” (QS. At Taubah: 47)

Mereka hakikatnya pengacau dan perusak barisan jamaah, tetapi di antara kita ada yang menjadi pendengar setia mereka, menjadi muqallidin dan muta’ashibin. Karena mereka ”pengacau” ini- adalah saudara, kawan, dan guru kita sendiri Allahul Musta’an Allah Ta’ala memberikan peringatan: ”Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga.” (QS. An Nur: 11)

Dan janganlah Engkau mematuhi orang Yang Kami ketahui hatinya lalai daripada mengingati dan mematuhi pengajaran Kami di Dalam Al-Quran, serta ia menurut hawa nafsunya, dan tingkah-lakunya pula adalah melampaui kebenaran. (QS. Al Kahfi: 28)

Semoga Allah Ta’ala melindungi da’wah ini dari tiga golongan manusia, pertama, ifrath –nya kaum oposan internal (kader) yang mengkritik karena kebencian (skeptis) dan apriori, di dalam mengkritik, di luar membongkar aib jamaah. Persis pengamat sepak bola. Kedua, semoga Allah juga melindungi da’wah ini dari tipu daya para oportunis dan petualang politik yang tidak manhaji.. ketiga, semoga Allah Ta’ala juga menjaganya dari orang-orang yang diam dan apatis.

Berkata Ali ad Daqaq, Sakit anil haq, syaithanul akhras (Diam saja tidak menyampaikan kebenaran, adalah setan bisu. Sungguh jundiyah muthi’ah (prajurit yang taat) hanya akan lahir di tangan qiyadah muhklishah (pemimpin yang ikhlas).

3. Ambisi Pribadi Atau Kelompok Terselubung dan Kuat

Komitmen da’wahnya bukan karena Allah Ta’ala tetapi ar ri’asah wa syuhrah (Kedudukan dan ketenaran). Ia semangat da’wah karena itu. Manusia bisa saja, dikelabuhinya, kita tertipu dari segala sepak terjangnya selama ini.Tetapi Allah Ta’ala tidak pernah tertipu, cepat atau lambat ambisinya ini akan terbongkar di hadapan manusia, seiring dengan perilakunya yang semakin menjadi-jadi. ”Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya." (QS. Al Kahfi: 110)
Ada pula yang memiliki ambisi secara vulgar, ia lebih gentle , masih bisa di antisipasi dan di ’ilaj . Tetapi yang terselubung, mereka lebih sulit diraba sebab kita tidak tahu isi dada manusia. Da’wah ini tidak butuh manusia yang ambisinya dunia, baik terselubung atau terang-terangan.
Dari Abu Musa al Asy’ari Radhiallahu ’Anhu, dia berkata: Aku bersama anak pamanku mendatangi Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam. Salah seorang berkata: ”Wahai Rasulullah, angkatlah aku sebagai pemimpin atas sebagian tanggung jawab yang telah Allah berikan kepada Anda, dan yang lain juga minta demikian. Lalu Rasulullah bersabda: Demi Allah seseunguhnya kami tidak akan menyerahkan kepemimpinan kepada orang yang meminta dan berambisi untuk mendapatkannya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Hasan al Banna berkata, Begitulah yang pernah terjadi ketika sekelompok orang enggan berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam , kecuali jika mereka nanti mendapatkan kekuasaan dari beliau jika kelak Islam menang. Pada waktu itu Rasulullah hanya menyatakan bahwa bumi ini adalah milik Allah yang diwariskan kepada siapa saja yang dikehendaki dari hamba-hambaNya. Sesungguhnya kemenangan akhir selalu menjadi milik orang-orang bertaqwa. ( Al Imam Asy Syahid Hasan al Banna, Majmu’ah ar Rasail , hal. 13. Risalah Da’watuna. Al Maktabah at Taufiqiyah )

Ya, selalu ada manusia di setiap masa, yang bergabung dengan barisan da’wah dengan tujuan dunia, karena ghanimah, popularitas, dan lainnya, tetapi jika tidak ada tawaran dunia, mereka akan mengundurkan diri dengan berbagai alasan yang dibuat-buat bahkan sampai bersumpah-sumpah. Mirip dengan yang Allah Ta’ala gambarkan dalam Al Quran : ”Kalau apa yang engkau serukan kepada mereka (Wahai Muhammad) sesuatu yang berfaedah yang mudah didapati, dan satu perjalanan yang sederhana (tidak begitu jauh), niscaya mereka (yang munafik itu) akan mengikutmu; tetapi tempat yang hendak dituju itu jauh dan berat bagi mereka. dan mereka akan bersumpah Dengan nama Allah Dengan berkata: "Kalau Kami sanggup, tentulah Kami akan perg bersama kamu". (dengan sumpah dusta itu) mereka membinasakan diri mereka sendiri, sedang Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka itu orang-orang yang berdusta (tentang tidak sanggupnya mengikutmu).” (QS. At Taubah: 42)

4. Hilangnya Budaya Munashahah (Saling Menasihati)

Orang yang matang kepribadiannya tidak bergembira karena pujian Dan tidak goncang karena nasihat-nasihat. Nasihat adalah obat, umumnya obat adalah pahit. Tak ada manusia yang menyukainya, namun ia berfungsi menyembuhkan penyakit, jika tepat sasaran dan takarannya. Pujian adalah manis bagaikan sirup. Manusia sangat menyukai yang manis-manis, tetapi beragam penyakit dikemudian hari tengah menanti: sariawan, kencing manis, dan lain-lain, jika berlebihan mengkonsumsinya. Maka, jadilah pertengahan. Pilihlah yang pertengahan, pilihlah yang pertengahan, kalian akan berhasil dalam menyampaikan. (HR. Bukhari no. 6316)

Nasihat yang baik yang dilakukan dengan cara baik, akan mampu menyadarkan yang bingung, mengingatkan yang lupa, dan membangunkan yang tertidur. Tetapi, terlalu banyak nasihat, ia akan menyangka dirinya ”tertuduh”, sesak nafas, dan sempit hati. Walau ia menyadari bahwa nasihat ada karena perilakunya sendiri. (celakanya, jika ada yang tidak merasa bersalah). Akhirnya, ia melakukan pembelaan dan serangan balik, bahkan sangat sengit. Baginya nasihat adalah serangan, hinaan, dan pembunuhan karakter. Apalagi, ia manusia bertipe banyak bicara. Oleh karena itu, perlu kiranya nasihat diberikan sesuai kebutuhan, kadar, dan cara yang bijak dan hujjah yang mendalam. Selain juga memperhatikan posisinya dalam sebuah komunitas. Jika ini tidak diperhatikan, maka ia menjadi bukan apa-apa.

Tidaklah engkau perhatikan pedang akan turun derajatnya Jika dikatakan ia berasal dari kayu. Pujian yang pas, yang layak kepada penerimanya, akan mampu memotivasi untuk beramal, memompa semangat untuk bekerja, dan itu merupakan balasan kebaikan yang Allah Ta’ala segerakan untuknya didunia. Tetapi kebanyakan pujian, akan membuatnya terlena, terpedaya, dan sombong, seakan tak ada cela dalam dirinya, sebab hanya pujian dan sanjungan yang selalu ia dapatkan. Selain itu, ia menjadi pribadi yang tidak siap dikritik (nasihat), dan tidak sensitif terhadap kesalahan yang dibuatnya.

Bukan karena ia tidak punya salah, melainkan tak ada manusia berani ”menyentuh” wilayah kesalahannya, di tambah lagi ia adalah tokoh dan punya banyak pendukung fanatiknya. Rasulullah pernah mendengar seseorang memuji langsung di depan orang yang dipuji tersebut. Maka beliau bersabda, ”Celakalah engkau, karena engkau sama dengan menebas pundak sahabatmu. (HR. Bukhari no. 2610, 5922. Muslim no. 7450, 7451)

Wal hasil, manusia membutuhkan nasihat dan pujian. Keduanya mampu mematangkan dan mendewasakan perilaku. Manusia tidak selamanya sehat, sehingga ia butuh obat. Manusia juga tidak selamanya sakit, sehingga ia layak menikmati yang enak-enak. Maka, jika datang nasihat untuk kita, pandanglah itu sebagai obat, walaupun pahit, mungkin dia mengetahui penyakit dalam diri kita, yang kita tidak ketahui. Jangan tergesa-gesa kita menganggapnya musuh, atau anggapan dia sudah berubah, tidak lagi bersama jamaah, belum paham kejamaahan, tidak tsiqah dan taat dengan qiyadah, dan istilah lainnya yang menunjukkan ketidakmampuan kita sendiri dalam menunjukkan kebenaran. Memang, ini agak sulit untuk menerimanya, apalagi bagi kita yang terbiasa mendapat pujian. Jika datang pujian, maka katakanlah hadza min fadhlli rabbi (ini adalah karunia dari Tuhanku), lalu berdoalah, Allahummaj ’alni khairan mimma ya’lamun, wa ’afini mimma la ya’lamun. (Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik dari apa-apa yang mereka ketahui, dan maafkanlah aku dari apa-apa yang mereka tidak ketahui tentang diriku).

Kau mengharapkan pendidik yang tidak memiliki cela sedikit pun Padahal tidak ada bakhur (bakaran) yang semerbak wanginya, melainkan ia juga berasap Kita tidak pungkiri, bahwa manusia umumnya tidak menyukai nasihat, namun menyukai sanjungan. Barang kali itu sudah dari ”sononya” Namun, yang pasti, bagi yang berpikir positif, nasihat dari siapapun kepada kita adalah baik. Jangan mengira ”musuh” bagi orang yang menasihati kita. Justru saudara yang baik adalah yang mau meluruskan kita, manakala salah.

Bisa jadi, musuh tersembunyi kita adalah orang yang menjerumuskan kita dengan segala macam pujiannya, sehingga membuat kita lupa. Sampai-sampai, kesalahan kita yang fatal pun, tetap dipujinya, minimal dia mendiamkannya. Janganlah kita seperti pepatah Arab jahiliyah, ” Bela-lah saudaramu, yang benar atau yang salah.” Lalu, oleh Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam dirubah menjadi ”Tolonglah saudaramu, baik yang menzalimi atau yang dizalimi. Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz Dzariyat (51): 55)
Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka, (QS.AlGhasyiah(88):21-22)

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad Dary Radhiallahu ’Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda: ’Agama adalah nasihat’, Kami berkata: Untuk Siapa ya Rasulullah? Beliau bersabda: ”Untuk Allah, untuk KitabNya, untuk RasulNya, untuk para imam kaum muslimin, dan orang-orang umum dari mereka.” (HR. Muslim. Lihat Imam an Nawawi, Riyadhus Shalihin , Bab Fi An Nashihah , hal. 72, hadits no. 181. Maktabatul Iman, Manshurah, Tanpa tahun. Lihat Juga Arbain an Nawawiyah , hadits no. 7, Lihat juga Imam Ibnu Hajar al Asqalany, Bulughul Maram, Bab At targhib fi Makarimil Akhlaq, hal. 287, hadits. No. 1339. Darul Kutub al Islamiyah.1425H/2004M)

Semoga Allah Ta’ala merahmati Sayyidina Umar Radhiallahu ‘Anhu ketika ia berkata, Semoga Allah merahmati orang yang mau menunjuki aibku kepadaku. Imam Abu Hanifah pernah menegur seorang anak kecil yang sedang bermain-main di jalan yang tergenang air, “Wahai ghulam, hati-hati terjatuh, nanti pakaianmu kotor,” Anak kecil itu balas menegur Imam Abu Hanifah, “Wahai Imam, Anda juga hati-hati, jangan sampai terjatuh. Sebab jatuhnya seorang ulama, maka jatuhlah langit dunia.” Mendengar itu Imam Abu Hanifah jatuh pingsan.

Budaya saling menasihati ( munashahah ) pada masa sahabat dan para Imam, begitu hidup. Satu sama lain bisa saling menjaga jika ada yang lalai, dan saling mengingatkan jika ada yang lupa. Sehingga kehidupan berjamaah mereka sangat dinamis dan hidup. Tak ada satu pun yang tidak butuh nasihat. Bagi mereka, munashahah merupakan sarana kontrol yang efektif setelah muraqabatullah. Namun ketika budaya ini telah hilang, nasihat dianggap ancaman, tidak tsiqah, tidak taat, dan bentuk kecurigaan lainnya, maka hilanglah rahmat pada komunitas tersebut.

Budaya munashahah menjadi hilang lantaran dua jenis manusia, yakni manusia keras kepala yang selalu merasa benar, dan manusia apatis yang tidak peduli terhadap saudaranya (sikap elu-elu, gue-gue). Jenis manusia pertama ibarat cermin yang ditimpa air, tak ada bekas sama sekali nasihat yang ia peroleh. Bahkan, ia telah memiliki jawaban jika ada orang yang hendak menasihatinya. Baginya nasihat adalah ancaman dan celaan.

Sedangkan jenis manusia kedua, ibarat patung yang sama sekali tidak merasa terganggu dengan keadaan dan kerusakan sekitarnya, betapa pun besarbahaya yang mengancam dirinya. Ia tetap diam! Nah, ketika nasihat tidak hidup, maka kezaliman, penyelewengan, pelanggaran, maksiat, akan bebas bergerak dan terus melaju tanpa ada yang membendungnya. Halal haram tidak dipedulikan. Bahkan bisa menjadi budaya baru yang kelak dianggap benar, karena tak ada satu pun yang berani menyentuhnya, apalagi menegurnya. Ketika ini sudah terjadi dalam sebuah pergerakan Islam, gerakan apa pun, maka hakikatnya ia telah mati, ia telah mati sebelum ajal biologisnya tiba.

Sebab, akal sebagai sarana berfikir dan nurani sebagai sumber al furqan tidak lagi mereka miliki, atau minimal -tidak digunakan. Akhirnya, komunitas tersebut tetap ada nama dan anggotanya, tetapi tidak ada pengaruh baiknya, tidak ada dampak keshalihan bagi pengikutnya “apalagi masyarakatnya?. Sebab, ia memiliki masalah besar lantaran perilakunya sendiri, kekalutan internal yang tidak mampu diredam. Hingga, perlahan namun pasti, masyarakat mencibir dan melupakan eksistensi mereka. Lalu menghapus mereka dari ingatan dan perjalanan sejarah kehidupan bangsa mereka mungkin masih ada, tetapi dalam buku kisah kaum-kaum terdahulu yang telah Allah Ta’ala lenyapkan, semoga menjadi renungan bersama.

Ya Allah Ya Rabb lindungilah kami sebagaimana Engkau telah lindungi para pejuang sebelum ini jadikanlah perkumpulan ini perkumpulan yang Kau rahmati dan Kau berkahi Tiada Daya dan Kekuatan melainkan dariMu, cukuplah Kau tempat kami bertawakkal dan meminta pertolongan dari segala ancaman yang nampak atau tersembunyi, Engkaulah sebaik-baiknya pemimpin dan penolong, dan tempat mengadu, ketika tidak tersisa lagi tempat mengadu ..Shalawat dan Salam semoga selalu tercurah kepada baginda Rasulullah dan para sahabatnya, wa akhiru da’wana ’anil hamdulillahi rabbil ’alamin.

Wallahu ’Alam wa Lilahil ’Izzah

sumber asal artikel DI SINI

Friday, October 08, 2010

Bekal Ikhtilaf

p/s: materi ini saya sampaikan kepada adik adik yang baru mengikuti program tarbiyah, kerana terdapat kelompok yang mendakwa hanya mereka yang layak diikuti oleh faktor mereka lebih lama dan lebih syumul. Mereka juga dipaksa untuk memberi bai'ah kepada kelompok ini walaupun baru 2 atau 3 kali mengikuti usrah mereka. Sesungguhnya dakwah kita ialah illallah, bukan kepada individu atau mana mana jemaah. Jemaah hanyalah wasilah (jalan) untuk kita mendapat redhaNya. Apa salahnya jika mereka tidak memilih jemaah kita, parti kita, NGO kita tetapi mereka tetap memilih Islam?

Bekal Ikhtilaf

Pengertian Ikhtilaf

Ikhtilaf, dalam istilah lain mukhalafah, iaitu perbedaan cara pandang antara satu orang dengan orang lain baik dalam perkataan mahupun perbuatan. Kata kata al-khilaf (berbeza) lebih umum maknanya dibanding adh-dhid (berlawanan). Sebab, dua hal yang berlawanan pasti berbeza, tetapi tiap tiap yang berbeza belum tentu berlawanan.

Faktor Faktor Kewujudan Perbezaan Pendapat

Faktor Akhlaq
  1. Kagum dan Bangga dengan pendapatnya sendiri
  2. Buruk sangka terhadap yang lain dan menuduh tanpa bukti.
  3. Egoisme dan menurut hawa nafsu
  4. Fanatisme terhadap kelompok/orang/mazhab/parti
  5. Ikhtilaf seperti ini adalah terlarang.

Faktor pemikiran

Perbezaan sudut pandang dalam:
  1. Masalah Ilmiah
  2. Masalah Amaliyah
  3. Penilaian terhadap berbagai disiplin ilmu seperti ilmu kalam, tasawuf, falsafah, fiqh mazhab.
  4. Penilaian terhadap peristiwa sejarah dan tokohnya.

Landasan Menyikapi Perbezaan Pendapat

Landasan Pemikiran
  1. Perbezaan pendapat dalam masalah furu’ adalah suatu kemestian
  2. Mengikut manhaj pertengahan dan meninggalkan berlebih lebihan di dalam agama.
  3. Mengutamakan muhkamat bukan mutasyabihat
  4. Tidak memastikan dan menolak dalam masalah ijtihad
  5. Menelaah perbedaan pendapat di kalangan ulama
  6. Membatasi pengertian dan istilah (cth:iman, kafir dsb)
  7. Perhatian terhadap masalah besar umat Islam
  8. Bekerjasama dalam hal yang disepakati
  9. Bertolak ansur dalam hal hal yang diperselisihkan
  10. Menahan diri dari mengkafirkan orang yang mengucap ‘la illa ha illa allah’

Landasan Akhlak
  1. Ikhlas dan terbebas dari nafsu
  2. Meninggalkan fanatisme individu, mazhab, jemaah
  3. Bersangka baik pada yang lain
  4. Tidak menyakiti dan mencela
  5. Menjauhi perdebatan dan permusuhan sengit
  6. Dialog dengan cara yang lebih baik
  7. Kita tidak setuju terhadap seseorang atau jemaah yang mendakwa diri bebas dari kesalahan dalam urusan urusan ijtihad
  8. Kita mencari kebenaran baik disampaikan lisan kita atau lisan orang lain
  9. Kita tidak mencari cari kesalahan orang/jemaah lain untuk menjauhkan manusia dari mereka.
  10. Kesepakatan dalam pokok pokok manhaj tidak bererti sepakat dalam cabang cabangnya
  11. Menafsirkan apa yang dikatakan orang yang berbeza dengan kita dengan versi yang menguntungkannya dan hendaknya kita menghimpun semua yang diucapkannya di dalam satu persoalan yang sama.
  12. Kita menghormti ulama tetapi tidak mengultuskan mereka.

Kepelbagaian Jemaah

Perpecahan Umat bukan Kelaziman

  1. 3:105
  2. 30:31-32
  3. “Penyakit umat terdahulu telah menjangkit pada kalian. Kedengkian dan Permusuhan. Permusuhan adalah pencukur, yang aku maksudkan bukanlah pencukur rambut, tetapi pencukur agama. Demi Dzat yang diriku berada di tengahNya, kalian tidak akan masuk syurga sehingga kalian beriman, dan tidak beriman sehingga saling mencintai.” (HR Tirmidzi)

Persatuan Umat adalah Kewajiban

“Bacalah Al Quran selama bacaan itu dapat menyatukan hati kalian, tetapi jika berselisih maka hentikanlah bacaan itu.” (Muttafaq ‘Alaih)

Fenomena Ta’adud Jemaah

“ Hati saya juga tidak resah jika gerakan kebangkitan Islam mempunyai pelbagai aliran sekolah, kumpulan dan jemaah. Setiap mereka mempunyai manhajnya yang tersendiri untuk berkhidmat kepada Islam dan bekerja memperkukuhkannyadi muka bumi. Mereka melaksanakannya mengikut objektif dan pendidikan yang ditetapkan, cara dan peringkat- peringkat yang ditentukan, serta berdasarkan kepercayaan kepada pelaksananya sama ada dari segi kekuatan, sifat amanah, kelayakan dan keikhlasan mereka. Satu tindakan berpemikiran cetek jika saya mengajak mereka kepada sebuah jemaah atau gerakan yang menggabungkan semua aktivis Islam dalam satu sistem dan di bawah satu kepimpinan. Ia juga merupakan sikap tamak yang tidak bertempat.”
(Yusuf Qardhawi, Mukadimah Fiqh Ikhtilaf)

“Penyertaan ke dalam sesebuah jamaah adalah pilihan. Berdasarkan ijtihad seseorang. Bukan suatu kewajipan agama. Tiada dalil sarih yang mewajibkannya. Apa yang diwajibkan ialah tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa. Jalan tolong menolong itu luas. Bukan sekadar mengisi borang ahli. Justeru, ramai ulama antarabangsa zaman ini tidak terikat dengan peraturan mana-mana kumpulan, bahkan tidak menyertainya pun.

Sikap sempit hanya membunuh keupayaan umat untuk berdakwah. Sehingga hari ini, belum siapa dapat membuktikan bahawa hanya jamaah tertentu yang dapat menjadikan Islam dilaksanakan sepenuhnya. Bermula dari akidah sehingga syariat dan akhlak. Maka tiada siapa boleh menyebut bahawa, kaedah ‘sesuatu yang tidak dapat disempurnakan perkara wajib melainkan dengannya, maka juga menjadi wajib’ itu merujuk kepada jamaahnya. Lantas ia mendakwa Islam yang tulen tidak dapat dilaksanakan melainkan dengan menyertai jamaahnya, maka penyertaan ke dalam jamaahnya menjadi wajib. Ini adalah dakwaan tanpa bukti”
(Dr Asri Zainal Abidin, Mantan Mufti Perlis, Pensyarah USM di dalam artikel beliau “Antara Jemaah dan Dakwah”)

Jama’atul Muslimin

“Hudzaifah al Yamani ra bertanya kepada Rasulullah tentang keburukan. Beliau berkata: Apa yang engkau perintahkan kepadaku bila keadaan itu aku jumpai, ya Rasulullah? Rasulullah menjawab: Engkau ikutilah Jama’atul Muslimin dan Imamnya.”

Adakah Jama’atul Muslimin ketika ini?

Dalam Al-Mu’jam al-Wasith, menurut bahasa Jamaah diartikan sebagai ”Sejumlah besar manusia”, atau ”sekelompok manusia yang berhimpun untuk mencapai tujuan yang sama”. Sedangkan menurut syari’at berdasarkan hadist nabi melalui penelitian imam asy-Syatibi adalah:

1. Jama’ah adalah para penganut Islam apabila bersepakat atas suatu perkara, dan para pengikut agama lain diwajibkan mengikuti mereka
2. Masyarakat umum dari penganut islam
3. Kelompok ulama mujtahidin
4. Jamaah ialah Jama’atul Muslimin apabila menyepakati seorang Amir
5. Para sahabat Rasulullah secara khusus2

Jama’atul Muslimin mempunyai kedudukan yang mulia dalam syari’at islam, sangat banyak ayat-ayat dan hadith yang menunjukkan urgensi dari sebuah jama’atul muslimin, sekaligus menunjukkan risiko yang harus ditanggung oleh umat ini ketika tidak berada dalam satu jama’ah, seperti Ali Imran: 103 dan 105; ar-Rum 31-32; Thaha: 94; dll.

Pernyataan yang muncul sekarang: adakah wujud Jama’atul Muslimin di dunia dewasa ini? Berdasarkan definisi-definisi tersebut, kita bisa sampai pada kesimpulan bahwa Jama’atul muslimin sekarang ini tidak ada lagi. Yang ada hanyalah Jama’ah dari sebagian kaum muslimin (Jama’atul minal Muslimin), dan Negara sebagian dari kaum Muslimin, bukan Negara Kaum muslimin.
(Husin Ali Jabir, Menuju Jama’atul Muslimin)

Baiat yang Wajib hanya untuk Khalifah

“Tiada perselisihan pendapat bahawa bai’at umum- yang diberikan untuk memimpin seluruh umat Islam, yang membawa konsekuensi ketaatan secara umum dalam hal selain maksiat, yang wajib atas seluruh umat, yang disebut pemberontak orang yang merosaknya, yang tidak boleh berbilang, dimana kalau ada 2 orang yang dibaiah, maka yang kedua harus diperangi-tidak diberikan kecuali kepada imam yang seluruh umat bersatu di bawahnya (Khilafah Islamiyah)”
(Dr Shalah Shawi, ats Tsaabit wal Mutaghayirat, Bab Jama’atul Muslimin)

“Membatasi sifat jama’atul muslimin hanya untuk kelompok dakwah tertentu adalah sikap berlebihan yang mungkar”
(Dr Shalah Shawi)

Ta’adud Jemaah yang DILARANG

“Keragaman jemaah yang dilarang adalah yang menimbulkan pertentangan dalam sikap politik dan jihad, atau yang mendatangkan fanatisme dan menjadikannya sebagai pangkal wala’ wal bara’, kerana akan mendatangkan perpecahan umat kepada berbagai keanggotaan yang saling bertikai dan berbagai kelompok yang tidak dibenarkan.”
(Dr Shalah Shawi, ats Tsawabit al Mutaghayyirat)

Ta’adud Jemaah yang DIBENARKAN


“Apabila keragaman jama’ah terbebas dari yang demikian, dan mereka tetap berada dalam lingkungan furu’iyah ijtihadiyah yang dibenarkan, tidak menyebabkan pertentangan dalam sikap politik dan jihad dengan jama’atul Muslimim, tidak dijadikan sebagai pangkal wala’ dan bara melainkan menjadi keragaman spesialisasi yang saling melengkapi, saling berlumba dalam kebaikan dalam bingkai saling menasihati, saling menyayangi dan berukhuwah islamiah yang bersifat umum, maka ia justeru akan menjadi fenomena positif yang memperkaya dakwah islam dan memperbaharui kebugarannya.”
(Dr Shalah Shawi, Ibid)

Prinsip di dalam Ta’adud Jemaah

  1. Kesatuan landasan dan mazhab akidah
  2. Meletakkan khilafiah hanya dalam masalah furu dan ijtihad
  3. Tetapnya jalinan hati dan ukhuwah
  4. Kesatuan sikap politik dan jihad
  5. Saling melengkapi antara satu sama lain
  6. (Dr Shalah Shawi, ats Tsawabit al Mutaghayyirat)

Friday, September 17, 2010

SEPATUTNYA awak sebagai isteri....?

Dari artikel Ust Hasrizal di saifulislam.com dan juga bukunya Murabbi Cinta.

Sabar, Ikhlas, Redha
Ramuan Suami Mithali
Mampukah Aku?

Di Dalam Dunia Yang Serba TIDAK PATUT Ini


“Saya susah hati,” kata Nasir.

“Kenapa?” saya menoleh ke arahnya.

“Bulan depan saya akan menyertai ‘kelab ustaz’!” ujar beliau.

“Kelab Suami Doktor ke?” saya bertanya.

“Ya. Tak lama lagi Insya Allah,” kata Nasir lagi.

“Alhamdulillah. Welcome to the club, akhi!” saya teruja dan menumpang gembira.

Di kalangan rakan yang mengenali, istilah ‘Kelab Suami Doktor’ itu sinonim dengan saya. Hingga ada yang secara lurus bendul mahu mendaftarkan diri dengan organisasi yang hakikatnya hanya gurauan sesama kami sahaja.

Saya menumpang kereta Nasir untuk pulang daripada menjalankan sebuah program latihan siswazah. Perjalanan sejam menuju ibu kota tidak kami sia-siakan kerana walaupun sama-sama tinggal di Kuala Lumpur, peluang berjumpa dan berbual bukan selalu diperolehi.

Satu bentuk usrah barangkali.

“Mengapa susah hati?” saya teringat balik kepada soalan asal Nasir.

“Macam-macam cerita yang saya dengar. Trauma barangkali. Malah sekarang ini pun sudah ketara sibuknya bakal isteri saya,” cerita beliau.

“Oh begitu. Anta pun apa kurangnya. Jurutera atau doktor, sibuknya lebih kurang sahaja” saya cuba mengendurkan persepsi Nasir.

“Selain apa yang ada dalam buku Aku Terima Nikahnya dan Bercinta Sampai ke Syurga, apa yang boleh ustaz nasihatkan saya? Nasihat ringkas dan padat untuk saya pegang” pinta Nasir.

TAHAP TOLERANSI

“Hmm… ana menimbang-nimbang permasalahan yang sampai ke pengetahuan. Rasanya, kebanyakan kita mempunyai tahap toleransi sekadar lima tahun sahaja. Selepas lima tahun, mula berantakan, bermasam muka, tak bertegur sapa, malah membelakangkan semua hasil mahsul Tarbiyah hingga tergamak bermain kayu tiga,” saya memulakan kisah.

“Berat tu, ustaz. Apa penyelesaiannya?” Nasir kelihatan sedikit resah.

“Tidak semudah itu untuk memberi penyelesaian. Tetapi sekurang-kurangnya ustaz boleh cadangkan satu petua penting” saya menambah.

“Apa dia?” beliau bertanya.

“Kurangkan SEPATUTNYA di dalam hidup ini!” saya cuba membuat rumusan yang mudah saya dan Nasir ingat tatkala melayari kehidupan berumahtangga.

Mungkin pelik bunyinya.

Memang SEPATUTNYA adalah sesuatu yang diperlukan untuk kita menetapkan matlamat, tetapi ia juga boleh menjadi racun yang memusnahkan kehidupan berumahtangga tatkala SEPATUTNYA menjadi sesuatu yang dipertahankan melebihi APA YANG PATUT.

“Sepatutnya, awak sebagai isteri kenalah…” ayat ini boleh dituturkan oleh sang suami dari pagi ke pagi.

“Awak sebagai suami, sepatutnya…” balas si isteri pula.

Sukar untuk sebuah rumahtangga berdiri dengan aman apabila terlalu banyak SEPATUTNYA yang diperjuangkan. Jika di dalam Bahasa Inggeris, SEPATUTNYA itu adalah sebuah EXPECTATION. Kita meletakkan banyak jangkaan dan jangkaan itulah yang kemudiannya berubah menjadi kekecewaan.

PEMIKIRAN IDEAL

Semasa mula berumahtangga, dengan pemikiran yang ideal tentang Bait Muslim, kita merancang pelbagai benda.

Misalnya, si isteri bercita-cita untuk si suami menjadi Imam Mithali dalam sebuah rumahtangga. Mengimamkan solat, memberi tazkirah dan membacakan hadith kepadanya setiap hari dan pelbagai impian yang indah lagi sempurna.

Bukan sahaja dalam soal ibadah dan amalan Islam di dalam rumahtangga, si isteri juga mahu suaminya menjadi seorang menantu yang diidam-idamkan oleh ibu bapanya. Menantu yang boleh diharap, yang pandai mengambil hati mertua dan terpercik pujian kepadanya kerana bijak menemukan calon suami yang begitu.

Itulah impiannya.

Impian yang kemudiannya mula memberanakkan pelbagai SEPATUTNYA di sepanjang pelayaran rumahtangga.

Suami pun sama juga.

Beliau mengidamkan sebuah kehidupan yang teratur, tidak perlu lagi bersusah payah ke dapur seperti di alam bujang yang serba kurang. Isteri dikahwini dengan 1001 harapan agar dapat berperanan dengan cemerlang, malah bayangan ibunya sendiri yang bermujahadah membesarkan beliau dan seisi keluarga menjadi kayu ukur untuk menilai pencapaian isteri yang dinikahinya itu.

Harapan.

Tempat kelahiran banyak SEPATUTNYA apabila satu demi satu harapan itu tidak kesampaian.

“Tapi ustaz, bukankah SEPATUTNYA itu perlu supaya kita boleh muhasabah tahap masing-masing?” soal Nasir kepada saya.

“Betul. Namun jika kita bercakap tentang soal survival rumahtangga, SEPATUTNYA itu juga memerlukan muhasabah yang khusus. Periksa balik dari semasa ke semasa, mungkin ada beberapa SEPATUTNYA yang perlu kita uzurkan. Terutamanya suami” saya menambah.

“Misalnya?” Nasir tidak puas hati.

KISAH TELADAN

“Macam yang anta katakan tadi, anta mengharapkan agar isteri anta menjadi menantu yang baik kepada ibu bapa anta. Namun selepas lima tahun berumahtangga, isteri anta masih tidak mesra dengan mertuanya. Tetapi dia masih seorang isteri yang baik. Bincangkanlah hal ini dengan isteri. Ruang untuk beliau membuat perubahan, memerlukan anta untuk mengundurkan beberapa SEPATUTNYA. Kalau anta masih mahu mempertahankan expectation di awal perkahwinan dahulu, takut-takut yang dikejar tidak dapat ketika yang dikendong berciciran. Reality check, kata orang kampung ana!” saya menyambung lagi.

“Hmm. Takut saya. Ustaz sendiri masa baru-baru kahwin macam mana ustaz amalkan bab SEPATUTNYA ini?” soal beliau.

“Di awal perkahwinan, kami tinggal berjauhan. Ana di Belfast dan isteri di Galway, kemudiannya Letterkenny. SEPATUTNYA selepas kahwin kami dapat bersama sepuas-puasnya, tetapi keadaan tidak mengizinkan. Malah selepas mendapat tahu yang isteri mengandung, SEPATUTNYA ana yang turun ke Galway atau naik ke Letterkenny melawat isteri. Tetapi hujung minggu adalah kemuncak kesibukan ana. Maka Ummu Saif yang turun naik bas pergi ke Belfast dalam keadaan sarat mengandung. Apa nak buat?” saya membuka cerita.

“Tahan ke?” Nasir seakan-akan tidak yakin.

“Kami berkahwin semasa usia lebih kurang anta dan bakal isteri. Tidak sampai seminggu selepas akad nikah, Ummu Saif sudah memulakan rotation beliau sebagai doktor junior yang menjalani tempoh housemanship yang sangat menekan. Kerja separuh mati, balik rumah sudah tidak punya sisa tenaga untuk buat apa-apa. Sebagai suami, ana ada banyak SEPATUTNYA yang boleh ditimbulkan. Tetapi menyedari akan realiti, banyak SEPATUTNYA yang ana buang” saya mengimbau kisah lama.

“Misalnya?” soal Nasir.

“Ana kemas rumah, ana masak dan bawa makanan ke hospital. Dan jika dua-dua sudah terlalu letih untuk balik, kami bermalam sahaja di Doctor Rest yang sempit itu. Esok paginya ana bawa bekas-bekas makanan kotor itu balik ke rumah untuk dibasuh. Cuba untuk bahagia dengan keterbatasan yang ada,” saya berkongsi kisah dengan bakal suami doktor yang seorang ini.

“Sampai bila proses membuang SEPATUTNYA itu perlu dibuat?” Nasir cemas.

“Sampai MATI. Sampai terkambus di liang lahad!” saya menjawab ringkas.

“Suami sahaja?” Nasir gelisah.

PERAWAN MANJA

“Kalau perempuan daripada zaman batu sampai zaman hutan batu mampu bergadai nyawa beranak, beranak dan beranak, mengapa lelaki hari ini yang sudah tidak mengangkat pedang di medan jihad tidak mampu untuk BERJIHAD menjaga rumahtangga? Manja sangatkah perawan akhir zaman sekarang?” saya cuba menyuntik semangat.

“Beratnya jadi suami. Mesti mampu sabar sampai ke mati!” ulas Nasir. Pendek.

“Sabar itu di permulaan sahaja. Insya Allah ia akan naik taraf menjadi redha” saya menokok.

“Susah saya nak bayangkan macam mana suami sabar dan redha sampai ke kubur” Nasir jujur memberitahu.

“Sebab itu ramai anak menjadi pening melayan ibu yang tua selepas kematian ayah!” saya terkenang kisah seorang teman.

“Kenapa?” Nasir tidak faham.

“Hebatnya seorang suami dan ayah, dia mengundurkan banyak SEPATUTNYA hingga dibawa ke kubur. Tolak ansur ayah itu menjadi pakaian yang menghijab kekurangan si isteri yang juga ibu kepada anak-anak mereka berdua. Apabila ayah sudah tiada, barulah kelemahan-kelemahan si ibu muncul menjadi ‘perangai’ yang meletihkan anak-anak. Lepas ayah mati, baru nampak rupa emak yang tidak pernah dilihat sebelum ini.” saya mencukupkan penjelasan.

“Isteri-isteri kamu itu adalah sebagai pakaian bagi kamu dan kamu pula sebagai pakaian bagi mereka” [al-Baqarah 2: 186]

Suami yang menjadi pakaian isteri itu menyembunyikan kelemahan-kelemahan si isteri dengan penuh sabar dan redha hingga dibawa mati bersama ke kubur, sampai anak tidak nampak kelemahan ibu mereka sepanjang ayah ada bersama. Dia dikebumikan bersama banyak SEPATUTNYA yang dibawa mati tanpa rasa terkilan.

“Inikah maksudnya ERTI HIDUP PADA MEMBERI bagi seorang suami, ustaz?” tanya Nasir.

“Ya. Ia bukan slogan. Tetapi sumber kekuatan diri,” saya menyetujui beliau.

“Dari manakah kekuatan itu mahu dicari?” Nasir melangsaikan pertanyaan.

“Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan benda yang TIDAK PATUT. Jadi berpada-padalah pada melayan SEPATUTNYA yang banyak hinggap ke diri. Hidup memberi itu mustahil boleh dibuat-buat, sehinggalah kita berjaya untuk benar-benar percaya, bahawa kita hanyalah HAMBA kepada-Nya. Hamba tidak layak meminta-minta dan meletakkan pelbagai standard atau jangkaan hidup. Fokuskan kepada peranan, dan syukuri setiap yang diterima, biar sekecil mana pun ia” saya selesai berkongsi pandangan.

“Ustaz rasa saya mampu?” Nasir menoleh ke arah saya.

“Berikan ilmu kepada akal supaya tahu. Suntikkan iman ke hati supaya mahu. Berjihadlah menundukkan nafsu supaya mampu. Insya Allah!” saya tersenyum.

Kami sama-sama sepi.

Merenung hutan belantara yang luas terbentang di kiri dan kanan lebuh raya. Hutan tebal yang menyembunyikan 1001 isi dan rahsia, seperti sebuah perjalanan rumahtangga yang tidak diketahui akan rupa kembaranya di hari-hari muka.

Selamat berumahtangga, Nasir.

ABU SAIF @ www.saifulislam.com
68000 AMPANG

Wednesday, September 15, 2010

Beruntunglah orang orang itu...

Sungguh, menanglah, sukseslah, beruntunglah orang orang yang mensucikan dirinya dengan zikir dan solat, kecuali orang orang yang terpedaya dengan kehidupan dunia lalu ia lalai dari zikir kepadaNya.

Subhanallah, orang orang beriman, hidupnya tidak untuk hidup.tapi hidupnya untuk Yang Maha Hidup. Hidupnya bukan untuk mati, tapi justeru matinya adalah untuk hidup,hidupnya untuk Maha Hidup, dia tidak takut mati, dia tidak cari mati dan dia tidak lupakan mati tapi justeru dia rindukan mati,mengapa? kerana mati bukanlah wafat, kerana mati bukanlah akhir pada kehidupan ini, tetapi awal kehidupan yang sebenarnya. Kerana mati satu satunya pintu untuk berjumpa denganNya.

Kebahagiaan bagi kekasih adalah saat saat, detik detik berjumpa denganNya. Saat berjumpa, itulah kebahagiaan bagi orang orang beriman yang mencintai ALLAH.

Sunday, September 05, 2010

Ibrah Badar: Realiti Umat Islam Hari Ini...

Oleh: Ust Farid Nu'man

Saat itu, tepat 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memandangi pasukan musuhnya yang berjumlah seribu orang dan pasukan yang dibawanya sejumlah 310 lebih sedikit. Hamba mulia ini memanjatkan doa yang begitu mengharu biru di tengah pasukannya yang amat sedikit dan apa adanya, melawan pasukan kafir Quraisy yang tiga kali lipat menghadang di hadapan mereka di padang Badar. Dengan menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya, Beliau berdoa:

اللهم! أنجز لي ما وعدتني. اللهم! آت ما وعدتني. اللهم! إن تهلك هذه العصابة من أهل الإسلام لا تعبد في الأرض

Ya Allah! Penuhilah untukku apa yang Kau janjikan kepadaku. Ya Allah! Berikan apa yang telah Kau janjikan kepadaku. Ya Allah! jika Engkau biarkan pasukan Islam ini binasa, … maka tidak ada lagi yang menyembahMu di muka bumi.”

Beliau senantiasa berdoa dengan suara tinggi seperti itu dan menggerakan kedua tangannya yang sedang menengadah dan menghadap kiblat, sampai-sampai selendang yang dibawanya jatuh dari pundaknya. Lalu Abu Bakar menghampirinya dan meletakkan kembali selendang itu di pundaknya dan dia terus berada di belakangnya. Lalu Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu berkata:

يا نبي الله! كذاك مناشدتك ربك. فإنه سينجز لك ما وعدك

“Wahai Nabi Allah! Inilah sumpahmu kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia akan memenuhi apa yang dijanjikanNya kepadamu.”

Lalu turunlah firman Allah Ta’ala:

إذ تستغيثون ربكم فاستجاب لكم أني ممدكم بألف من الملائكة مردفين

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut." (QS. Al Anfal (8): 9). (HR. Muslim No. 1763, At Tirmidzi No. 5075, Ibnu Hibban No. 4793. Ahmad No. 208, Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf, 7/95)

Lalu, terjadilah pertempuran yang sebenarnya tidak seimbang itu, namun karena kekuatan iman, kekuatan ukhuwah, kepemimpinan yang berwibawa, serta ditopang strategi yang jitu, kaum muslimin berhasil memenangkan pertempuran yang disebut dalam Al Quran sebagai “Yaumul Furqan” (Hari Pembeda). Hari yang membedakan antara hak dan batil, antara periode dakwah yang selalu tertindas menjadi dakwah yang disegani.

* * * * *

Syahdan, pada masa khalifah Al Mu’tashim billah (nama aslinya adalah Abu Ishaq Muhammad bin Harun Ar Rasyid), dia berkuasa sejak tahun 218 sampai 227 Hijriyah. Pada masanya, pasukan Islam mampu mengalahkan pasukan Romawi dengan kemenangan besar yang belum pernah terjadi pada khalifah-khalifah sebelumnya. Dia mampu memecahkan pasukan Romawi dan menembus masuk ke negeri Romawi, dan menewaskan 3000 pasukannya serta menawan yang lain sejumlah itu pula. (Imam As Suyuthi, Tarikhul Khulafa’, Hal. 245. Cet. 1. 1425H-2004M. Maktabah Nizar Mushthafa Al Baz )

Tahukah anda apa yang melatar belakangi pertempuran dengan Romawi kala itu? Yakni karena seorang muslimah diperkosa oleh pasukan Romawi. Lalu peristiwa memilukan ini diketahui oleh Khalifah Al Mu’tashim. Maka, demi menjaga kehormatan Islam dan kaum muslimin, Khalifah Al Mu’tashim mengirim pasukan ke Romawi dengan armada pasukan yang sangat besar. Pasukan terdepan sudah sampai di ibu kota Romawi saat itu (yakni Konstantinopel- Istambul saat ini) sedangkan pasukan paling belakang masih ada di istananya di Baghdad! Ratusan ribu pasukan yang dikirim ke Romawi, ada yang meyebut 200 ribu lebih dan ada pula yang menyebut 500 ribu pasukan (Siyar A’lam An Nubala, 10/297), ternyata Romawi menyambutnya dengan peperangan, maka terjadilah pertempuran dahsyat yang dimenangkan pasukan Islam sebagaimana telah tertulis dalam sejarah Islam masa lalu.

Lihatlah ini! Begitu berdayanya umat Islam, dan begitu tingginya wibawa kaum muslimin, hanya karena seorang muslimah diperkosa, mereka tidak terima dan berbondong-bondong menggedor Romawi dan berhasil meruntuhkan kerajaannya yang begitu besar dan ditakuti saat itu. Tetapi itu semua berhasil ditekuk dan hanyalah fatamorgana yang tidak berdaya apa-apa di depan kekuatan iman dan ‘izzah Islam (kemuliaan Islam). Lalu bandingkanlah dengan dunia Islam saat ini. Tak berdaya dan tidak berwibawa. Banyak jumlah namun sedikit keberanian, paling jauh hanya demonstrasi ketika melihat saudaranya dianiaya. Bukan lagi satu muslimah diperkosa, tetapi ribuan dijarah kehormatannya, anak-anak dibunuh atau dimurtadkan, mereka diusir dari kampung halamannya, dirampas harta kekayaannya, dan dikebiri perannya dalam percaturan dunia internasional. Kaum muslimin hanya mampu mengecam, mengutuk, dan mengadakan sidang, tetapi tidak ada aksi nyata seperti Khalifah Al Mu’tashim terhadap Romawi.

Ya, betapa cepatnya langit cerah menuju mendung dan kelam, lalu kapankah cemerlangnya pagi akan datang? Saat itu ada muslimah diperkosa, namun juga ada Khalifah Al Mu’tashim yang membelanya. Saat ini umat Islam tertindas ada di Afghanistan, Palestina, Iraq, Moro di Filipina, Patani di Thailand, Rohingnya di Cina, dan belahan Bumi Allah lainnya, tetapi tidak ada pemimpin Islam yang seperti Al Mu’tashim! (Namun, Al Mu’tashim memiliki kesalahan ketika menyiksa Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah, tetapi dalam sisi pembelaannya terhadap kaum muslimin, dia patut dibanggakan)

Berkata Imam Adz Dzahabi Rahimahullah:

كان المعتصم من أعظم الخلفاء وأهيبهم، لولا ما شان سؤدده بامتحان العلماء بخلق القرآن.

“Al Mu’tashim, dahulu adalah termasuk di antara khalifah yang paling agung dan paling pemalu di antara mereka, seandainya saja dia tidak mengotori kekuasaannya lantaran menyiksa ulama dalam masalah kemakhlukan Al Quran.” (Imam As Suyuthi, Tarikhul Khulafa’, Hal. 244)

* * * * *

Di atas, hanya sedikit contoh kehebatan kaum muslimin masa lalu. Itu pun dari satu sisi saja, yakni kekuatan dan kewibawaannya. Kita belum membicarakan ketinggilan ilmu pengetahuan dan peradaban dunia Islam, dan dibutuhkan banyak halaman untuk menceritakannya.

Saat ini kita hidup di alam real (nyata) umat Islam. Biarlah romantisme masa lalu itu tetap ada dan menghujam dalam dada kita sebagai bekal dan spirit untuk meraih kembali kejayaan yang hilang itu. Tetapi, kita tidak boleh berlama-lama dalam dunia lamunan, romantisme kejayaan, dan –apalagi- tangisan meratapi puing-puing kehancuran peradaban Islam pasca (setelah) runtuhnya simbol kekuatan dan pemersatu umat Islam, yakni Khilafah Turki Utsmaniyah pada tahun 1924 M di Turki, yang dihapuskan oleh si musuh Turki (A’da At Turk –inilah istilah yang diberikan ulama turki kepadanya), yakni Mustafa Kamal. Ada pun sejarawan sekuler menjulukinya Attaturk (Bapaknya Turki).

Realita umat Islam hari ini, jika kita lihat, ternyata terhimpun menjadi empat penyakit yang mesti disembuhkan dengan cepat. Penyakit itu adalah:

1. Al Jahlu (Kebodohan)

Apa yang dimaksud kebodohan di sini? Bukankah dunia Islam –sebagaimana dunia Barat- juga memiliki kampus-kampus bergengsi, kecil dan dewasa, pria dan wanita berbondong-bondong menuju bangku sekolah dan kuliah, berbeda dengan masa lalu?

Kebodohan di sini adalah ketiadaan ma’rifah (pengetahuan mendalam) mereka terhadap Rabb dan agamanya. Bisa jadi memang, dunia Islam tidak kalah canggih dan intelek, tetapi itu hanyalah pengulangan kondisi Arab sebelum datang Islam. Dunia Arab sebelum Islam, juga memiliki peradaban tinggi yang terbukti dari kemampuan mereka membuat tata kota yang bagus, pengairan sawah yang baik, serta karya seni bernilai tinggi. Tetapi, sejarah Islam tetap memposisikan mereka sebagai era Jahiliyah. Sebab, keilmuan yang mereka miliki tidak mampu menolong mereka untuk mengetahui siapa Tuhan mereka sebenarnya, justru mereka menyembah dan mengagungkan produk budaya mereka sendiri yaitu berhala-berhala yang indah yang mereka ciptakan.

Perhatikan umat Islam saat ini, umumnya mereka jauh dari agamanya, jauh dari Al Quran dan Sunnah nabinya, tetapi lebih dekat bahkan sampai taraf memberikan cinta terhadap budaya, pemikiran dan akhlak Barat yang nota bene non muslim yang justru hendak menghancurkannya. Sayangnya mereka tidak menyadarinya.

Hal ini membawa dampak lainnya; masjid yang sepi kecuali shalat jumat, merosotnya moral baik pejabat atau rakyatnya, ibadah hanya menjadi rutinitas kosong belaka tanpa bekas dan pengaruh dalam kehidupan, ulama tidak berwibawa baik ilmu dan perbuatannya, pergaulan bebas remaja, angka perceraian yang tinggi, pornografi dan porno aksi dianggap biasa, dan segudang permasalahan lainnya. Ini semua berawal dari kebodohan terhadap agama, sebab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah berjanji bahwa berbagai kebaikan –termasuk kebaikan dalam urusan dunia dan ilmu pengetahuan- akan datang bersamaan dengan pemahaman yang benar terhadap agama.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan kebaikan maka akan dipahamkan baginya ilmu agama.” (HR. Bukhari No. 2948, Muslim No. 1037, At Tirmidzi No. 2783, Ibnu Majah No. 220, Ibnu Hibban No. 89, 310, 3401, Malik No. 1599, Ad Darimi No. 224, 2706, Abu Ya’la No. 7381, Musnad Ishaq No.439, dan lainnya)

2. Adh Dha’fu (lemah)

Kelemahan umat Islam terdapat pada banyak sisi kehidupan, baik pribadi atau masyarakat. Boleh dikatakan di semua sisi kehidupan. Di antaranya yang bisa disebutkan di sini adalah:

a. Lemah Aqidah

Aqidah adalah pegangan hidup yang utama dan menjadi fondasi untuk lahirnya imanul ‘amiq (keimanan yang mendalam). Aqidah yang kuat hanya menjadikan Allah Ta’ala sebagai satu-satunya penolong dari kesulitan hidup dan permasalahnnya. Tidak takut mati, apalagi takut miskin. Sebab seorang yang mengimani Allah Ta’ala sebagai pengatur hidup akan merasa aman dan tentram hatinya ketika menyandarkan dirinya kepada pemiliki kehidupan itu sendiri. Berbeda dengan orang yang aqidahnya lemah, dia lebih takut dengan ancaman makhluk dibanding azab Allah Ta’ala. Seperti yang terjadi saat ini, umat Islam (khususnya para pemimpinnya) lebih takut dengan ‘azab’ yang diberikan Amerika Serikat dan sekutunya dibanding azab dari Rabb mereka. Begitu juga ketika sepasang manusia berzina, mereka lebih takut hamil dibanding takut kepada Allah Ta’ala.

Berbeda dengan Sumayyah, seorang wanita yang mati syahid dan menjadi syahid pertama dalam Islam. Dia tetap memgang teguh agama tauhid walau mengalami penyiksaan yang membuatnya dibunuh secara keji.

Berbeda dengan Bilal bin Rabbah, seorang sahabat nabi yang disiksa dengan ditindih batu besar pada siang yang amat panas, agar ia mau keluar dari agama Islam dan kembali mengakui ketuhanan kolektif Arab jahiliyah. Tetapi dia tetap dalam keimanannya, dan mengatakan; “ahad .. ahad .. ahad … (Yang Maha Tunggal (Esa) ….)

Berbeda dengan Masyithah, seorang wanita pelayan di istana Fir’aun yang tetap teguh menyembah Allah Ta’ala dan menolak pengakuan ketuhanan Fir’aun. Dia bersama keluarganya direbus hidup-hidup untuk mempertahankan aqidahnya.

Ya, kita berbeda dengan mereka. Begitu sabar dan teguhnya aqidah mereka …

b. Lemah Ekonomi

Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, kaum muslimin benar-benar merasakan baldatun thayyibatun (negeri yang makmur). Sampai-sampai Srigala menyusu kepada Domba, padahal domba adalah mangsa Srigala! Saat itu, pemerintah kesulitan mencari faqir miskin untuk menerima zakat, akhirnya harta zakat disalurkan ke negeri-negeri non muslim.

Pada masa Khalifah Harun Al Rasyid, dia pernah keluar dari istana sambil menatap langit yang sedang mendung:

“Ya Allah, turunkanlah hujan di mana Engkau mau. Jika Kau turunkan di Barat maka itu adalah negeri kami, jika Kau turunkan di Timur itu juga negeri kami.”

Apa yang dikatakannya melambangkan kemakmuran negeri Islam yang merata dan begitu luas. Sehingga dua khalifah ini termasuk deretan para khalifah yang paling sering disebut namanya setelah empat khulafa’ur rasyidin.

Kemandirian ekonomi adalah salah satu penopang kekuatan, dan Islam sangat menekankan hal itu. Seorang yang berhutang biasanya akan mengalami penurunan kekuatan. Daya kritis, kemandirian, dan sebagainya akan mudah didikte oleh orang yang memberinya hutang. Begitu pula dalam tingkat negara. Negara-negara miskin –kebanyakan negara muslim- mudah sekali dikendalikan oleh kekuatan asing yang menjadi donor bagi dana pembangunan negerinya. Maka, wajar kalau Islam tidak menyukai kefaqiran. Hal ini terbukti dari berbagai doa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diajarkannya untuk umatnya berisi perlindungan dari kefaqiran.

Diantaranya:

اللهمّ إني أعوذ بك من الكفر والفقر

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kekafiran dan kefaqiran.” (HR. Abu Daud No. 5090, Ibnu Hibban No. 1026, An Nasa’i No. 1347, Ibnu Khuzaimah No. 747, Ahmad No. 20381, Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 3/251. Syaikh Al Albani mengatakan: shahih. Lihat Shahih wad Dhaif Sunan An Nasa’i No. 1347 )

Doa lainnya:

اللهم إنِّي أعوذ بك من الهمِّ والحزن، وضلع الدين ، وغلبة الرجال

“ Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari gelisah dan sedih, dan lilitan hutang dan tekanan manusia.” (HR. Bukhari No. 2736, 6002, At Tirmidzi No. 3484, Abu Daud No. 1541, An Nasa’i No.5476, Abu Ya’la No. 3695, 4003, Ibnul Ju’di No. 2908)

c. Lemah Propaganda

Dunia propaganda, melalui media elektronik seperti TV, Radio, dan internet, atau media cetak seperti majalah dan buku, ternyata telah melampaui batas fungsinya sebagai jendela informasi bagi manusia. Saat ini sarana ini telah dijadikan alat untuk memojokkan Islam dan kaum muslimin. Media Barat telah menggiring opini dunia untuk menyebutnya sebagai teroris, agama pedang, penindas kaum wanita, dan sebagainya. Begitu kuat jaringan mereka, satu sama lain saling membantu.

Orang shalih bisa jadi buruk lantaran diberitakan buruk, dan orang jahat bisa menjadi pahlawan karena diberitakan sebagai pahlawan. Inilah keajaiban propaganda. Dan, sayangnya tidak sedikit umat Islam yang terpukau oleh media mereka dan termakan oleh isu dan hasutan yang mereka buat. Kita selalu meng-iya-kan kata mereka. Persis yang Al Quran katakan:

Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. (QS. Al Munafiqun (63); 4)

Sementara, di sisi umat Islam sendiri mereka lemah. Belum ada kantor berita umat Islam yang menjadi media rujukan utama sebagai penyeimbang, jangankan secara internasional , secara nasional pun belum ada, sekali pun ada hanya menjangkau lapisan yang sangat ekslusif dan terbatas. Wal hasil, tidak ada pilihan lain akhirnya mereka menjadikan media Barat sebagai rujukan, walau mereka telah tahu bahwa media tersebut tidak akan pernah objektif dan adil ketika berhadapan dengan kepentingan Islam dan kaum muslimin.

3. Adz Dzullah (Direndahkan)

Ini merupakan efek domino yang otomatis dari kebodohan dan kelemahan, sebab tidak ada orang bodoh dan lemah yang memiliki wibawa dan kehormatan.

Lihatlah dunia! Mereka ramai menyalahkan pemerintah Indonesia ketika kasus di Timor Timur (sekarang Timor Leste), bahkan mereka mengintervensi sehingga propinsi ini lepas dari Indonesia. Ada pun Papua, pun sedang mengalami hal yang sama. Begitu mudahnya negeri muslim diobok-obok oleh kekuatan asing.

Ketika kedung kembar WTC (World Trade Center) ditabrak oleh dua pesawat yang tidak jelas siapa pelakunya. Bahkan, CIA tidak berani memastikan. Namun, Amerika Serikat dengan kesombongannya langsung menyalahkan pemerintah Taliban di Afghanistan, sebuah negeri miskin dan terbelakang. Afghanistan diserang oleh tentara AS tanpa peduli protes dunia muslim dan yang masih punya nurani kemanusiaan.

Begitu pula yang terjadi Iraq, presidennya dijatuhkan oleh kekuatan negara lain, bukan kekuatan yang berasal dari rakyatnya sendiri. Umat Islam dunia juga tidak berkutik.

Jalur Gaza akhir 2008 dan awal 2009. Negara Zionis Israel menyerang Gaza sebuah kota kecil yang hanya dijaga oleh milisi mujahidin HAMAS yang tidak seberapa banyak. Umat Islam yang setengah miliar di timur tengah, diacak-acak oleh kebiadaban tentara Zionis Israel di sana. Mereka hanya menonton dan menangis, paling jauh demonstrasi. Bahkan mayoritas umat ini tidak peduli karena sibuk dengan dunianya masing-masing. Kemana umat Islam? Kemana pemimpin kaum muslimin? Kemana Al Mu’tashim abad modern? Kemana satu setengah miliar umat Islam?

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يوشك الأمم أن تداعى عليكم كما تداعى الأكلة إلى قصعتها" فقال قائل: ومن قِلّةٍ نحن يومئذٍ؟ قال: "بل أنتم يومئذٍ كثيرٌ، ولكنكم غثاءٌ كغثاء السيل، ولينزعنَّ اللّه من صدور عدوكم المهابة منكم، وليقذفنَّ اللّه في قلوبكم الوهن" فقال قائل: يارسول اللّه، وما الوهن؟ قال: "حبُّ الدنيا وكراهية الموت

“Hampir datang masanya bangsa-bangsa mengerumuni kalian sebagaimana mengerumuni makanan di atas meja makan.” Ada yang bertanya: “Apakah saat itu kita sedikit?” Beliau menjawab: “Justru saat itu kalian banyak, tetapi laksana buih di lautan. Allah telah mencabut rasa takut dalam dada musuh-musuh kalian terhadap kalian, sedangkan Allah telah melemarkan ke dalam hati kalian penyakit Al Wahn,” Ada yang bertanya: “Apakah Al Wahn?” Beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati!” (HR. Ibnu Majah No. 4297, Ahmad No. 22397, Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: sanadnya hasan. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam As Silsilah Ash Shahihah No. 958)

4. Al Furqah (Perpecahan)

Seharusnya perbedaan dapat dijadikan khazanah yang baik. Islam tidak mencela perbedaan tetapi membenci perpecahan. Dan, perbedaan belum tentu berpecah, sedangkan berpecah sudah pasti berbeda.

Perbedaan memang hal yang niscaya dan pasti ada. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ

Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu.. (QS. Huud: 118-119)

Imam Hasan Al Bashri Radhiallahu ‘Anhu mengatakan:

وللاختلاف خَلَقهم

“Dan Allah menciptakan mereka untuk perbedaan.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 4/362. Dar Ath Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi’)

Dalam potongan hadits yang cukup panjang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda:

من يعيش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا

“Barangsiapa diantara kalian yang hidup setelah aku, maka dia akan melihat banyak perselisihan ..” (HR. At Tirmidzi No. 2816, katanya: hasan shahih. Ad Darimi No. 95, Ibnu Majah No. 43, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 20125, Ibnu Hibban, Bab Maa Ja’a Al Ibtida bihamidallahu Ta’ala, No. 5, Ahmad No. 17142. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata; hadits shahih dengan banyak jalur dan penguatnya)

Namun demikian, walau perbedaan itu pasti ada dan ini sudah diisyaratkan jauh-jauh hari, Islam tetaplah mencela perpecahan dan mengaharamkannya di antara kaum muslimin.

Allah Ta’ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا

“Dan berpegang teguhlah kepada tali (agama) Allah kalian semua, dan janganlah berpecah belah ..” (QS. Ali Imran (3): 103)

Inilah penyakit yang mengerikan sebab dia menghancurkan dari dalam seperti kanker yang menggerogoti tubuh manusia. Sesungguhnya umat Islam tidak pernah takut akan ancaman dari luar karena mereka sudah mengantisipasi dengan semangat jihad fisabilillah. Tetapi yang justru dikhawatiri adalah hancurnya umat islam dari dalam, yakni ketidakmampuan mereka dalam meredam perselisihan dan mengolah perbedaan. Akhirnya, musuh-musuh Islam bertepuk tangan sementara kita sibuk bercakaran. Mereka pun berkata; “Terima kasih wahai umat Islam, tugas kami memecah belah kalian sudah diselesaikan oleh kalian sendiri!”

* * * * *

Demikianlah penyakit umat islam kontemporer dan kita harus tersadari olehnya. Tentunya harus dicarikan solusi yang jitu dengan tanpa melahirkan penyakit baru. Bagaimana itu?

Ringkasnya, sebagaimana kata Imam Malik Radhiallahu ‘Anhu yang pernah mengatakan: “Umat ini tidak akan jaya kecuali dengan cara pertama kali ia dijayakan genarasi awalnya.”

Yaitu dengan iman, ilmu, ukhuwah islamiyah yang solid, dan ruhul jihadiah (semangat juang) yang tidak terputus. Sehingga umat Islam menjadi cerdas tidak bodoh, kuat tidak lemah, berwibawa tidak direndahkan, dan solid tidak berpecah. Wallahu A’lam

sumber asal artikel

Friday, August 27, 2010

Saya Juga Salafi Seperti Anda

Oleh: Ust Fauzi Asmuni
Naib Presiden II, Ikatan Muslimin Malaysia (ISMA)

Isu salafi sekali lagi menjadi buah mulut sebahagian dari pendakwah sejak kebelakangan ini. Ini mungkin disebabkan perbincangan semula terhadap kesahihan beberapa amalan masyarakat Melayu Islam di Malaysia yang berlaku pada peringkat nasional pada tahun lepas. Mungkin juga disebabkan beberapa pertikaian yang ditimbulkan oleh sebahagian pihak terhadap kaedah, pendekatan dan uslub dakwah Ikhwan yang mula mendapat tempat di dalam hati sebahagian aktivis dakwah dan beberapa gerakan Islam di tanahair. Perbincangan tentang isu salafi ini banyak berkisar di sekitar dua isu ini; amalan masyarakat Melayu Islam yang merupakan khilaf fiqhi dan manhaj dakwah.

Persoalan akidah yang sebenarnya salah satu dari asas isu salafi ini kita dapati tidak begitu ketara dibincangkan di Malaysia. Sebaliknya isu yang ditimbulkan adalah isu tahlil, talqin, bacaan Yasin di malam Jumaat, bacaan Qunut di dalam solat Subuh, penyelewengan Sayyid Qutb, bid’ah usrah, kesalahan-kesalahan di dalam tafsir fi Zilal al-Quran, bid’ah ta’wil nas dan lain-lain isu seumpamanya.

Takrif Salafi Yang Kurang Tepat


Banyak pihak mendakwa mereka adalah salafi. Sebahagian kecil sahaja dari kalangan mereka yang memahami apakah yang dimaksudkan dari kalimah salafi tersebut. Manakala bakinya melakukan dakwaan tanpa sandaran ilmu. Dengan berpandukan ilmu yang sedikit itu mereka mula menuduh pihak lain ‘tidak salafi’ atau ‘kurang salafi’ berbanding mereka.

Sebahagian dari mereka mengatakan salafi adalah pengikut ‘madrasah an-nas’, iaitu satu methodologi yang diambil oleh sebahagian ulama’ di dalam melakukan istinbat hukum secara langsung dari zahir nas tanpa banyak melihat kepada maqasid (rahsia dan maslahat hukum di sebalik zahir nas). Dengan itu mereka berpegang kepada zahir nas dari al-Quran atau hadis dan menolak methodologi yang digunakan oleh ulama’ yang lain. Mereka mengambil jalan mudah dengan mempraktikkan Islam terus dari al-Quran dan Sunnah tanpa merujuk kepada tafsiran dan pendapat ulama’-ulama’ berkenaan tafsiran nas tersebut, satu amalan yang sebenarnya bertentangan dengan praktik pelopor madrasah an-nas itu sendiri.

Sebahagian yang lain mengatakan salafi adalah sesiapa yang mempraktikkan mazhab Imam Ahmad bin Hanbal. Dengan itu mereka memaksakan beberapa pendapat mazhab Hanbali kepada umat Islam di Malaysia yang majoritinya adalah bermazhab Syafie. Hujah mereka kerana fiqh mazhab Hanbali ‘lebih salafi’ dari mazhab-mazhab yang lain.

Sebahagian yang lain pula mengatakan salafi adalah pendekatan dakwah Muhammad bin Abdul Wahab, pelopor gerakan Wahabi di Arab Saudi. Malangnya apa yang mereka fahami dari gerakan Wahabi ini hanyalah sebahagian dari perjuangannya sahaja. Mereka tidak mengkaji keseluruhan gerakan tersebut. Dengan itu mereka menyimpulkan bahawa gerakan Wahabi adalah gerakan membenteras bid’ah yang berlaku di Semenanjung Tanah Arab satu kurun yang lepas. Itulah yang cuba mereka lakukan di Malaysia. Alangkah baiknya jika mereka mengkaji jihad Muhammad bin Abdul Wahab dan usaha-usaha pembaikan sistem khilafah yang dilakukan oleh beliau ketika itu. Moga-moga kajian itu dapat menyingkap hakikat salafi yang sebenarnya kepada mereka dan menjelaskan perbezaan di antara gerakan Muhammad bin Abdul Wahab dengan apa yang disebut sebagai Wahabi pada hari ini.

Takrif Salafi Mengikut Manhaj Salafi Kami

Kami meminta maaf kerana menggunakan istilah ‘salafi kami’. Ini bukan dengan tujuan untuk memperkecilkan sebahagian yang mendakwa mereka salafi atau untuk menidakkan ‘salafi’ mereka. Kami juga berusaha seperti mereka untuk menjadi salafi. Jadi penggunaan istilah ini lebih bertujuan untuk menjelaskan beberapa perbezaan di antara kami dan mereka di dalam beberapa isu berkaitan salafi. Istilah ini sudah tentulah lebih baik dan lebih lembut dari istilah sebahagian penulis di dalam blog-blog yang menggunakan istilah ‘salafi lapok’ dan sebagainya.

Mereka yang mengaku salafi sering mengajak kita semua untuk kembali kepada kefahaman al-Quran dan Sunnah yang sebenar dan merujuk segala masalah kepada nasnya. Ini adalah pendekatan yang kami persetujui dan kami juga mengajak semua orang Islam ke arah yang sama; kembali kepada nas.

Dengan itu di dalam mentakrifkan ‘salafi’ kami ingin mengajak mereka dan semua pembaca untuk mengembalikan istilah ini kepada nasnya. Dari manakah datangnya istilah ‘salafi’ ini?

Ia adalah hasil kefahaman yang digabungkan dari beberapa buah hadis. Di antaranya sabda Rasulullah s.a.w.:

“Telah terpecah orang-orang Yahudi menjadi tujuh puluh satu golongan dan terpecah orang Nasrani menjadi tujuh puluh dua golongan. Akan terpecah umatku menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya dalam neraka, kecuali satu golongan.” Para sahabat bertanya: “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Baginda menjawab: “Mereka adalah orang yang berdiri di atas apa yang aku dan para sahabatku berdiri di atasnya.” (Riwayat Abu Daud)

Satu lagi hadis mutawatir menyempurnakan makna ini: “Sebaik-baik kurun adalah kurunku, kemudian generasi sesudahnya dan kemudian generasi sesudahnya.”

Daripada hadis-hadis tersebut dapatlah kita fahami bahawa yang dimaksudkan dengan salafi adalah satu kelompok yang dikenali di dalam sejarah perundangan Islam sebagai salafussoleh. Mereka adalah kelompok terbaik di dalam sepanjang sejarah Islam. Mereka adalah tiga generasi Islam bermula dari zaman Rasulullah s.a.w. dan berakhir di pemerintahan al-Makmun di zaman Abbasiah. Itu adalah pendapat sebahagian ulama’ hari ini termasuklah seorang ulama’ Mesir, Dr. Jum’ah Amin Abdul Aziz.

Apa yang ada pada mereka sehingga mereka digelar golongan salafussoleh?

Mereka adalah generasi manusia yang hidup di tiga generasi pertama Islam. Mereka mempunyai manhaj tertentu di dalam akidah. Dengan manhaj itu mereka menafsirkan alam, kehidupan dan manusia berpandukan sumber Islam yang asli iaitu al-Quran dan Sunnah, jauh dari pengaruh falsafah Yunan dan falsafah-falsafah tamadun lain. Mereka membangunkan sistem ibadah di atas manhaj yang syumul dan umum hasil dari aqidah yang sejahtera dan praktik sunnah yang tepat. Mereka hanya memberikan wala’ kepada Allah dan Rasul serta berjuang untuk menegakkan kalimah Allah di atas muka bumi dengan manhaj dakwah yang ditunjukkan oleh Rasulullah s.a.w. Mereka mempunyai manhaj haraki berpandukan manhaj dakwah Rasulullah s.a.w. yang mampu mengumpulkan seluruh umat di dalam satu kesatuan.

Adakah istilah salafi merujuk kepada zaman atau manhaj?

Jika istilah salafi merujuk kepada zaman, maka ianya sudah berlalu. Tidak ada sesiapa yang boleh mendakwa bahawa mereka adalah salafi. Bahkan dakwaan bahawa mazhab Hanbali lebih salafi dari yang lainnya juga adalah tidak tepat. Sumbangan setiap pengasas mazhab yang hidup di zaman itu kepada umat adalah sama. Mereka saling hormat menghormati di antara satu sama lain. Bahkan jika Imam Ahmad bin Hanbal masih hidup sekarang, kami yakin dia juga bersetuju dengan kesalafian imam-imam yang lain.

Jika istilah salafi merujuk kepada manhaj, maka sesiapa yang mengikuti manhaj tiga generasi tersebut di dalam praktik Islam maka merekalah salafi sebenar. Manhaj itu merangkumi tasawwur di dalam akidah, ibadah dan harakah dakwah.

Jadi persoalan seterusnya adalah apakah manhaj yang dipraktikkan oleh generasi itu?

Madrasah an-Nas dan Salafi


Sebahagian menghadkan manhaj tersebut kepada manhaj madrasah an-nas sahaja atau kepada mazhab Ahmad bin Hanbal sahaja. Sesiapa yang mengikuti manhaj tersebut maka merekalah salafi. Itu yang menjadi punca sebahagian dari pendakwah Islam hari ini berusaha dengan usaha yang sungguh-sungguh untuk mengembalikan umat Islam kepada manhaj ini dan mengajak umat untuk menolak manhaj selainnya. Dengan erti kata lain mereka mula menolak ta’wil, menolak untuk menafsirkan nas berdasarkan ilal nas, menolak untuk membuat imbangan antara ruh nas dan lafaz, menolak untuk membuat imbangan antara zahir nas dan maqasid, menolak untuk membuat imbangan antara wasilah yang berubah dan hadaf yang thabit daripada nas, tidak meraikan perbezaan di antara lafaz majazi dan lafaz hakiki, tidak mengambil kita perubahan madlul lafaz dengan perubahan zaman dan lain-lain methodologi istinbat hukum dari nas yang digunapakai oleh aliran-aliran lain di dalam fiqh Islami.

Kami tidak bermaksud untuk merumitkan pembaca dengan istilah-istilah usul yang memeningkan. Apa yang ingin kami terangkan di sini adalah madrasah an-nas adalah satu aliran dari pelbagai aliran di dalam fiqh. Apa yang menjadi methodologi madrasah an-nas ini juga tidaklah tepat seperti mana yang mereka fahami. Kalau sekiranya mereka mengikuti aliran madrasah an-nas ini dengan betul, mereka tidak akan menolak aliran-aliran yang lain kerana pelopor madrasah an-nas ini juga tidak pernah menolak methodologi aliran lain.

Dengan itu kami tegaskan di sini bahawa manhaj tiga generasi awal Islam itu tidak hanya terbatas kepada madrasah an-nas sahaja. Sebaliknya ia merangkumi kesemua aliran di dalam fiqh Islami.

Di sini mungkin membantu pembaca untuk memahami aliran-aliran fiqh pada tiga generasi itu dengan membentangkan sedikit ringkasan sejarah aliran-aliran fiqh sehingga membawa ke pembentukan mazhab-mazhab.

Sesudah kewafatan Rasulullah s.a.w., para fuqaha’ di kalangan sahabat r.a. bertebaran di negara-negara Islam. Ibnu Abbas r.a. menetap di Mekah dan mempunyai murid-muridnya yang tersendiri. Abdullah bin Omar r.a. menetap di Madinah dan membentuk madrasahnya dan anak-anak muridnya. Ibnu Mas’ud r.a. tinggal menetap di Kufah dan mempunyai murid-muridnya sendiri. Setiap mereka mempunyai pendekatan yang tersendiri di dalam ijtihad dan istinbat hukum.

Fuqaha’ dua tanah haram, Mekah dan Madinah lebih berpegang kepada nas dan jarang melihat kepada maqasid (rahsia dan maslahat hukum di sebalik zahir nas) berbeza dengan fuqaha’ Iraq yang lebih melihat kepada maqasid. Mungkin disebabkan tidak banyak masalah baru yang timbul di dua tanah haram berbanding Iraq, bumi baru yang dibuka oleh orang Islam dengan majoriti masyarakatnya adalah orang-orang yang baru memeluk Islam, menjadikan mereka mengambil pendekatan sedemikian.

Dari situ muncullah madrasah an-nas yang dipelopori oleh fuqaha’ dua tanah haram dan madrasah ar-ra’yu (satu methodologi yang diambil oleh sebahagian ulama’ di dalam melakukan istinbat hukum tidak secara langsung dari zahir nas tetapi banyak melihat kepada maqasid (rahsia dan maslahat hukum di sebalik zahir nas) yang dipelopori oleh Abdullah bin Mas’ud r.a. di Kufah.

Selepas itu di zaman tabi’ien, muncul beberapa orang fuqaha’. Di antara mereka adalah Said bin al-Musayyib di Madinah, Ato’ bin Rabah di Mekah, al-Nakhaie dan as-Sya’bi di Kufah, Hasan al-Basri di Basrah, Makhul di Syam dan Towus bin Kaisan di Yaman. Setiap mereka dipengaruhi pendekatan fuqaha’ di kalangan sahabat r.a. di tempat masing-masing. Said bin al-Musayyib misalnya lebih cenderung kepada fuqaha’ dua tanah haram. Manakala al-Nakhaie lebih cenderung kepada aliran ijtihad dan istinbat Abdullah bin Mas’ud di Iraq.

Fuqaha’ di zaman tabi’ tabi’ien pula membentuk ranting-ranting aliran fiqh dan mengembangkannya dari keadaannya di zaman tabi’ien. Lahirlah fuqaha’ di negara-negara Islam dalam bentuk yang lebih luas seperti al-Laith bin Saad di Mesir, al-Auza’ie di Syam, Imam Malik dan Ibnu al-Majisyun di Madinah, Ibnu Juraih di Mekah, Abu Hanifah, Sufyan al-Thauri, Ibnu Abi Laili di Kufah, Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Syafie.

Di atas perbezaan methodologi seorang imam dengan seorang yang lain, lahirlah mazhab-mazhab Islam di dalam Islam. Ulama’ Islam tidak pernah menghadkan istilah golongan salafussoleh itu kepada Imam Ahmad bin Hanbal atau mana-mana fuqaha’ dari madrasah an-nas sahaja. Sebaliknya semua mereka mengiktiraf kesemua aliran di dalam fiqh tersebut.

Dengan itu adalah amat tidak tepat apabila seseorang melabelkan dirinya salafi hanya kerana dia berpegang dengan madrasah an-nas dan melabelkan orang lain tidak salafi hanya kerana orang itu berpegang dengan madrasah ar-ra’yu. Kedua-dua aliran ini adalah aliran yang diiktiraf di dalam Islam.

Pengikut Aliran Madrasah ar-Ra’yu Tidak Salafi?

Sememangnya terdapat satu syubhat yang ditimbulkan kepada aliran madrasah ar-ra’yu ini. Di antaranya adalah syubhat yang dilemparkan kepada Imam Abu Hanifah yang dikatakan hanya meriwayatkan hadis sebanyak 17 hadis sahaja dan Imam Malik yang dikatakan hanya meriwayatkan hadis sebanyak lebih kurang 300 hadis sahaja di dalam Muwatto’. Mereka membandingkannya dengan Imam Ahmad bin Hanbal yang meriwayatkan di dalam Musnad sebanyak 30,000 hadis. Dengan itu mereka mengatakan bahawa aliran madrasah ar-ra’yu tidak salafi kerana terlalu banyak bergantung kepada kajian maqasid dengan menggunakan akal dan tidak bersandar kepada hadis.

Dakwaan kelemahan Imam Abu Hanifah dan imam-imam lain di dalam ilmu hadis bukanlah dakwaan yang tepat. Apa yang mereka katakan adalah riwayat yang diriwayatkan oleh Ibnu Khaldun di dalam Mukadimahnya. Riwayat itu kemudian disangkal sendiri oleh Ibnu Khaldun. Beliau mengatakan: “Imam Abu Hanifah tidak banyak meriwayatkan hadis kerana beliau ketat di dalam syarat riwayat dan tahammul. Beliau juga akan mentadhiefkan hadis apabila ianya bertentangan dengan akal secara qat’ie. Dengan itu beliau tidak banyak meriwayatkan hadis. Bukan kerana beliau sengaja tidak meriwayatkan hadis. Jauh sekali dari beliau melakukan demikian. Di antara bukti bahawa beliau adalah di antara mujtahid agung di dalam ilmu hadis adalah ulama’-ulama’ hadis bersandar kepada mazhabnya.”

Begitu juga jika sekiranya kita menyelusuri susur galur madrasah ar-ra’yu ini kita akan mendapati bahawa ianya lahir dari ulama’-ulama’ hadis juga.

Ketika Abdullah bin Mas’ud r.a. mengasaskan aliran ini di Kufah, menetap di Kufah bersama-sama dengan beliau beberapa orang sahabat r.a. yang lain seperti Saad bin Abi Waqqas r.a., Huzaifah r.a., Ammar r.a., Salman r.a. dan Abu Musa al-Asyari r.a. Bahkan ketika Saidina Ali r.a. berpindah ke Kufah, beliau gembira melihat keadaan Kufah yang dipenuhi oleh fuqaha’. Generasi sahabat seperti mana yang kita ketahui adalah generasi yang menerima hadis secara langsung dari Rasulullah s.a.w.

Generasi selepas itu adalah generasi yang menghimpunkan di antara aliran fuqaha’ Kufah dan aliran madrasah an-nas dari Abdullah bin Abbas r.a. di Mekah. Di antaranya adalah Said bin Jubair.

Daripada generasi inilah Ibrahim bin Yazid al-Nakhie, seorang tabi’ien menuntut ilmu. Beliau adalah seorang ulama’ hadis yang dikatakan oleh al-A’masy, seorang ulama’ hadis: “Setiap hadis yang aku bentangkan kepada Ibrahim aku akan dapati pada beliau sesuatu ilmu.” Al-Nakhie juga pernah berkata: “Tidak akan betul pendapat tanpa hadis dan tidak akan betul hadis tanpa pendapat.”

Anak murid al-Nakhie adalah Hammad. Beliau adalah anak murid yang diiktiraf oleh al-Nakhie sebagai pewaris ilmunya. Beliau pernah ditanya oleh orang ramai: “Kepada siapakah kami akan bertanya selepas Tuan.” Beliau menjawab: “Tanyalah Hammad.”

Imam Abu Hanifah adalah anak murid Hammad. Dengan itu kita simpulkan bahawa ilmu Abu Hanifah adalah ilmu yang diwarisi dari Hammad, dari al-Nakhie dan dari fuqaha’ Kufah dari kalangan sahabat r.a.

Lalu dari manakah terletaknya kekuatan hujah mereka ketika mereka mendakwa bahawa pengikut aliran madrasah ar-ra’yu sebagai tidak salafi?

Memerangi Bid’ah dan Salafi


Sebahagian menghadkan manhaj tersebut kepada praktik Islam dalam bentuknya yang asli tanpa sebarang campur aduk. Keaslian tersebut ditafsirkan sebagai praktik Islam sebagaimana yang dipraktikkan oleh Rasulullah s.a.w. tanpa ada sebarang tambahan. Jadi mereka berusaha untuk mematikan sebarang amalan dan praktik umat Islam yang tidak pernah ada pada pandangan mereka di zaman Rasulullah s.a.w.

Kemungkinan ini mempunyai kaitan dengan sejarah hidup Imam Ahmad bin Hanbal yang terpaksa berhadapan dengan bid’ah golongan Muktazilah di zaman Khalifah al-Ma’mun. Golongan Muktazilah mengatakan bahawa al-Quran adalah makhluk dan Imam Ahmad bin Hanbal bermati-matian berusaha melawan bid’ah tersebut sehingga beliau dipenjarakan. Ia juga kemungkinan mempunyai kaitan dengan usaha mematikan bid’ah yang dilancarkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab di Semenanjung Tanah Arab.

Daripada kedua-dua mereka, difahami bahawa memerangi bid’ah dan menyucikan Islam dari sebarang campuran adalah salah satu unsur yang penting di dalam manhaj salafi.

Terdapat nas yang jelas di dalam al-Quran dan hadis yang memerintahkan kita menjauhkan diri dari bid’ah dan mempraktikkan Islam dalam bentuknya yang bersih dan tidak bercampur baur. Di antaranya adalah firman Allah: “…oleh itu, hendaklah mereka yang mengingkari perintahnya, beringat serta berjaga-jaga jangan mereka ditimpa bala bencana, atau ditimpa azab seksa yang tidak terperi sakitnya.” (An-Nur: 63). Di antaranya lagi adalah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a.: “Sesiapa yang melakukan amalan baru yang tidak ada dalam agama ini maka ia adalah tertolak.” (Riwayat Muslim)

Bid’ah mula timbul di zaman Saidina Ali r.a. Dengan masalah yang menimpa umat Islam sehingga membawa kepada pembunuhan Saidina Osman r.a., berlakunya peristiwa Unta dan peristiwa Siffin lahirlah golongan Khawarij, Syiah dan Murjiah. Setiap golongan ini membawa bid’ah yang mewakili kumpulan masing-masing. Di akhir zaman Bani Umayyah, muncul Ma’bad al-Jahni dengan fahaman qadariah (segala yang berlaku dengan ketentuan manusia). Ini disambung pula oleh anak murinya, Jahm bin Sofwan yang mencipta bid’ah ta’til (menafikan nama dan sifat bagi Allah). Kemudian datang pula giliran Muktazilah yang membawa lebih banyak bid’ah kepada umat setelah mereka terkesan banyak dengan falsafah Yunan.

Selepas dari itu satu demi satu bid’ah muncul dengan bentuknya yang pelbagai. Sehinggalah pada hari ini, umat Islam mempraktikkan Islam yang sudah bercampur dengan pelbagai bid’ah. Di antaranya percampuran lelaki perempuan dengan batasan yang terlalu longgar, fesyen-fesyen yang mendedahkan aurat, berhukum dengan hukum lain dari syariat Islam dan takrifan semula terhadap jihad dengan satu takrifan yang mengelirukan. Semuanya sudah diterima sebagai budaya dan cara fikir. Ini semua adalah bid’ah.

Kami amat-amat bersetuju jika golongan yang mendakwa mereka salafi ini memerangi bid’ah-bid’ah di atas. Kami menyokong sepenuhnya usaha mereka. Bahkan kami juga sedang berusaha ke arah yang sama seperti mereka.

Apa yang mendukacitakan adalah apabila takrif bid’ah itu diluaskan sehingga dimasukkan sekali di dalam takrif tersebut beberapa amalan seperti sambutan maulid Nabi, bacaan Yasin di malam Jumaat dan lain-lain. Amalan-amalan tersebut tidak sepatutnya dimasukkan ke dalam kategori bid’ah yang sepatutnya diperangi. Ia mungkin bukan amalan yang afdhal, tetapi khilaf ulama’ di dalam membincangkan amalan-amalan ini masih berterusan sehingga ke hari ini. Lahirnya pandangan yang mengatakan harus dan sebagainya mengajak kita untuk bersikap berlapang dada dan menghimpunkan umat Islam di dalam satu kesatuan bukannya melahirkan pemisahan di antara pengikut pandangan yang pelbagai.

Itu yang kita dapati berlaku di sepanjang sejarah Islam dalam usaha ulama’-ulama’ Islam memerangi bid’ah. Apa yang mereka perangi adalah bid’ah yang sudah disepakati hukum haramnya. Manakala mana-mana amalan yang masih khilaf mereka tidak memeranginya sebaliknya mereka mengambil sikap berlapang dada di dalam masalah itu.

Bid’ah di dalam Islam tidak dikategorikan kepada satu kategori sahaja. Ini adalah pendapat ulama’ salaf sendiri. Di antara mereka adalah Imam Syafie yang membahagikan bid’ah kepada bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah saiyi’ah (buruk). Itu juga adalah pendapat Abdullah bin Omar r.a., di antara pelopor madrasah an-nas sebagaimana yang kami ceritakan sebelum ini. Di dalam satu athar yang diriwayatkan oleh Mujahid katanya: “Aku, Zubair dan Urwah memasuki masjid. Abdullah bin Omar r.a. ketika itu berada di tepi bilik Aisyah r.a. dan orang ramai sedang mengerjakan solat Dhuha secara berjemaah. Kami bertanya kepadanya tentang solat mereka lalu beliau r.a. menjawab: “Itu adalah bid’ah yang baik.” (Riwayat Bukhari, Muslim dan Ahmad)(rujuk nota kaki)

Dengan tasawwur inilah kami melihat pemikiran salafi yang sebenarnya. Ramai lagi ulama’ lain yang mengambil pendekatan yang sama di dalam mengkategorkan bid’ah tetapi kami tidak kemukakan pandangan mereka di sini kerana mereka adalah ulama’-ulama’ yang kemungkinan tidak diterima oleh golongan yang mendakwa mereka salafi.

Tiada Taqlid: Praktik Islam Secara Langsung Dari Nas Tanpa Rujuk Kepada Fuqaha’

Ini juga kemungkinan adalah salah satu pendekatan yang difahami oleh golongan ini sebagai manhaj salafi yang sebenarnya. Sesiapa yang tidak mengambil pendekatan ini, mereka bukan salafi. Dengan itu mereka berusaha untuk menghapuskan budaya taqlid kepada mazhab tertentu yang menjadi amalan majoriti umat Islam pada hari ini. Mereka melaung-laungkan slogan tidak bermazhab dan mendesak umat untuk mengkaji al-Quran dan hadis secara langsung.

Kami menyetujui usaha mereka untuk meningkatkan kemampuan seseorang sehingga sampai ke peringkat ijtihad dan mampu mengeluarkan fatwa. Tetapi di masa yang sama kami tidak menolak keperluan taqlid kepada majoriti umat Islam pada hari ini.

Ingin kami kongsikan di sini, ijtihad dan fatwa bukanlah kemahiran yang boleh dicapai dalam sehari dua. Ia adalah proses yang panjang dan tidak mudah. Ibnu Solah, seorang ulama’ hadis yang terkenal pernah ditanya adakah Imam al-Juwaini, Imam al-Ghazali, Imam Abu Ishak sampai ke peringkat ijtihad mutlak atau pun tidak? Beliau menjawab: “Mereka tidak sampai ke peringkat ijtihad mutlak. Sebaliknya mereka hanya sampai ke peringkat ijtihad muqayyad di dalam mazhab Syafie. Ijtihad mutlak adalah satu tahap yang dicapai jika seseorang itu mampu mengeluarkan hukum syarak dari dalilnya tanpa taqlid. Ijtihad muqayyad adalah satu tahap yang dicapai jika seseorang itu mahir di dalam mazhab mana-mana imam sehingga dia mampu untuk mengeluarkan hukum terhadap sesuatu yang tidak disebut oleh imam itu setelah dikiaskan dengan hukum yang disebut oleh imam itu berdasarkan kaedah dan usul mazhab imam tersebut.”

Dari kata-kata beliau kita dapat fahami kesukaran untuk menjadi seorang mujtahid. Itu juga adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal ketika beliau berkata: “Tidak seharusnya seseorang itu mengeluarkan fatwa sehinggalah dia memiliki lima perkara: Hendaklah dia mempunyai niat (ikhlas) kerana jika dia tidak berniat, dia tidak akan mendapat petunjuk dan kata-katanya juga tidak akan mendapat petunjuk. Dia hendaklah berilmu, lembut dan tenang. Dia hendaklah mempunyai kekuatan terhadap masalah fatwanya dan mempunyai ilmu terhadap masalah tersebut. Dia hendaklah mempunyai kemampuan jika tidak dia akan diperdaya oleh manusia. Dia hendaklah mengenali manusia.”

Kesukaran berfatwa dan ijtihad inilah sebenarnya yang membenarkan taqlid kepada mana-mana mazhab dipraktikkan di dalam umat hari ini. Bahkan amalan taqlid itu juga sebenarnya dipraktikkan oleh generasi umat sebelum ini.

Al-Amidi di dalam kitab al-Ihkam berkata: “Ada pun ijma’ terhadap masalah ini adalah kerana orang awam di zaman sahabat r.a. dan tabi’ien terus menerus bertanyakan fatwa dari kalangan mujtahid dan mengikut pendapat mereka di dalam permasalahan hukum syara’. Ulama’ di kalangan mereka bersegera menjawab segala pertanyaan tanpa mendatangkan dalil. Ini adalah ijma’ bahawa seorang awam harus bertaqlid kepada seorang mujtahid mutlak.”

Penduduk dua tanah haram mempraktikkan mazhab Abdullah bin Omar r.a. dan anak muridnya untuk satu tempoh yang panjang tanpa dibantah oleh mana-mana ulama’ pada zaman itu. Seterusnya Ato’ bin Robah dan Mujahid memberi fatwa kepada penduduk Mekah untuk satu tempoh yang panjang. Wakil khalifah pada masa itu melaungkan: “Tidak ada seorang pun yang akan berfatwa kepada orang ramai selain dari dua orang imam ini.” Keadaan tersebut berjalan tanpa dibantah oleh mana-mana ulama’ pada zaman itu.

Imam Ibnu al-Qayyim, anak murid Ibnu Taimiyah, seorang ulama’ yang menjadi rujukan golongan ini berkata: “Harus bertaqlid bagi seseorang yang belum sampai ke peringkat ijtihad. Dia hendaklah mengikuti seorang imam, meminta petunjuk darinya dan bertaqlid kepadanya di dalam masalah halal dan haram. Orang seperti ini tidak boleh mengeluarkan fatwa kepada manusia walau pun dia mempunyai banyak kitab hadis.”

Ini adalah pendapat yang tepat. Pendekatan memaksa umat Islam; yang cerdik dan tidak cerdik untuk merujuk terus kepada al-Quran dan hadis adalah satu bebanan yang tidak perlu ditanggung oleh umat. Bagaimana mampu rakyat Malaysia mengeluarkan hukum untuk amalan dirinya sendiri secara langsung dari al-Quran dan hadis sedangkan dia masih lagi tidak mampu untuk membaca al-Quran dengan tajwid yang betul dan membaca hadis dengan baris yang betul?

Kesimpulan


Banyak lagi isu berkaitan salafi ini yang boleh dibincangkan. Kami belum lagi menyentuh tentang salafi dan Ikhwan Muslimin. Ia juga merupakan satu topik yang panjang diperdebatkan di Saudi satu ketika dahulu dan baru-baru ini bahangnya sampai ke tanah air kita ini. Ia berkait dengan isu bai’ah, konsep amal jama’ie, fikrah haraki dan isu-isu lain yang terlalu banyak untuk ditulis di sini.

Apa yang dapat kami simpulkan di sini adalah istilah salafi sebenarnya telah disalah gunakan oleh sebahagian pihak. Penyalahgunaan istilah tersebut telah membawa kepada munculnya khilaf fiqhi yang panjang dan budaya salah menyalah di antara satu sama lain. Masing-masing akan mempertahankan kebenaran yang dilihatnya ada pada pihaknya dan tidak ada pada pihak lain.

Alangkah baiknya jika sekiranya kita semua mampu untuk berlapang dada di dalam masalah-masalah furu’ dan melakukan perbincangan ilmiah yang bersih dari sebarang sentimen dan emosi. Penyatuan dan penerimaan methodologi berfikir juga adalah jalan yang perlu kita rentasi bersama untuk mencapai kesatuan pemikiran dan umat. Berikanlah hak kepada semua pihak untuk mempraktikkan apa yang dilihatnya sebagai Islam selagi mana ianya tidak bertentangan dengan al-Quran dan as-Sunnah. Amalkanlah Islam yang syumul dan umum yang mampu menyatukan bukannya Islam yang sempit yang hanya melahirkan kumpulan-kumpulan.

Wallahu al-Musta’an

nota kaki:

terdapat kesilapan pada hadis ini. Yang benarnya adalah seperti berikut:

فَرَوَى سَعِيد بْن مَنْصُور بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ اِبْن عُمَر أَنَّهُ قَالَ : إِنَّهَا مُحْدَثَةٌ وَإِنَّهَا لَمِنْ أَحْسِنِ مَا أَحْدَثُوا ، وَسَيَأْتِي فِي أَوَّلِ أَبْوَابِ اَلْعُمْرَةِ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ ” دَخَلْت أَنَا وَعُرْوَة بْن اَلزُّبَيْر اَلْمَسْجِدَ فَإِذَا عَبْد اَللَّه بْن عُمَر جَالِسٌ إِلَى حُجْرَةِ عَائِشَة وَإِذَا نَاس يُصَلُّونَ اَلضُّحَى ، فَسَأَلْنَاهُ عَنْ صَلَاتِهِمْ فَقَالَ : بِدْعَة ” . وَرَوَى اِبْن أَبِي شَيْبَة بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ اَلْحَكَمِ بْن اَلْأَعْرَجِ عَنْ اَلْأَعْرَجِ قَالَ : سَأَلْتُ اِبْن عُمَر عَنْ صَلَاةِ اَلضُّحَى فَقَالَ : بِدْعَةٌ وَنِعْمَتْ اَلْبِدْعَة .

- Yang disebut di dalam riwayat adalah Urwah bin Zubair bukan Zubair bin Awwam r.a.
- Orang ramai keluar ke masjid untuk solat dhuha berlaku seperti di dalam riwayat, cuma tidak disebutkan berjemaah.
- Ibnu Umar r.a juga pernah mengungkapkan kalimah ‘itu adalah bid’ah yang baik’ merujuk kepada perbuatan orang ramai keluar ke masjid untuk mengerjakan solat Dhuha seperti mana yang

sumber asal artikel

Wednesday, August 18, 2010

Palestin, Kami bersamamu!!

Ucapan Ust Abdullah Zaik (Pengerusi Eks Aman Palestin Berhad, Presiden ISMA) kepada warga Gaza yang menyambutnya selepas Solat Tarawikh di salah sebuah masjid di Gaza. Disamping beliau adalah Ismail Haneyya, Perdana Menteri Palestin dari HAMAS.

Tuesday, August 17, 2010

Puisi Buat Akh Nukman dan Akh Shahril

p/s: Puisi ini ditulis oleh Akh Aizuddin selepas kemalangan yang menimpa akh Nukman dan akh Shahril.

Sahabat,

Lukamu di badan, sebakku di hati
Tika kau terlantar, di luar ramai menanti
Ingin melihat raut senyummu sekali lagi
sebagai pelita kerunsingan hati

Di kala musibah melanda
Kematian adalah putus asa
Kehidupan adalah semangat waja
Sabar rahsia mengharunginya

Setiap kisah adalah pengalaman
Untuk menyinarkan lagi pedoman
Kerna kata-kata mati dari pengertian
Kiranya darah kita tidak dialirkan

Sahabat,

Kugenggam tanganmu erat
Ibarat kekasih menyalur azimat
Moga dikau kan terus kuat
Dan dijalan dakwah kau tsabat

* Aizuddin *
..tak pernah rasa rugi menapak jalan ini..
http://addinkhalid.wordpress.com

Thursday, August 05, 2010

Perpaduan UMNO dan PAS

--sumber asal artikel--

Isu perpaduan antara UMNO dan PAS ibarat “lauk sejuk dipanaskan semula”. Sejak dulu dipanaskan berkali-kali dan kini ia sudah sampai ke tahap tidak menyelerakan lagi.

Antara faktor yang menyebabkan isu ini tidak menyelerakan ialah reputasi pihak yang menghulurkan tangan untuk perpaduan. Kata-kata “UMNO busuk hingga ke usus” pernah diulas oleh Mantan Presiden UMNO, Tun Dr. Mahathir Mohamad. Nampaknya keadaan itu masih kekal dan tiada sebarang perubahan signifikan sejak Perdana Menteri Datuk Seri Najib mengambil alih tampuk kuasa.

Di satu pihak lagi, setakat ini kita masih belum mendengar respons daripada PAS yang benar-benar membuka jalan ke arah kerjasama. Mungkin agak keterlaluan untuk kita menunggu respons sebegitu kerana desas desus pemimpin PAS bertemu dengan mufti pun sudah menimbulkan kecoh. Kelihatan politik gaya kalah mati begitu kuat arusnya dalam PAS, walaupun telah terbukti selepas PRU 12 gaya itu memamah kekuatan politik orang Melayu Islam pada hari ini.

Media massa yang ada pula lebih mengutamakan keuntungan dalam isu ini, sama ada keuntungan perniagaan mahu pun politik. Kepentingan agenda bangsa tergadai begitu sahaja. Berita yang dipaparkan hanya yang sensasi, tidak mendamaikan, tidak mendidik dan hanya membawa umat berlegar-legar pada noktah mati yang sama.

Sebenarnya kita sedang berdepan dengan isu yang lebih besar dan hakiki. Ini bukan isu antara UMNO dan PAS saja. Ia isu kita semua. Ancaman humanisme dan liberalisme sedang hebat menyerang jatidiri umat Melayu Islam pada ketika kita sedang berdepan dengan kemelut politik yang tidak menguntungkan. Bangsa kita sudah hilang arah tuju dan daya tahan akibat ketiadaan agenda bersama.

Isu besar dan rumit ini memerlukan gandingan kerjasama daripada semua pihak. Tiada pihak yang boleh menyelesaikan isu ini bersendirian dan menafikan peranan orang lain. Jika UMNO dan PAS kekal dengan keadaannya sekarang, maka umat Melayu perlu mencari alternatif lain. Kita mesti menolak politik kepartian yang melampau dan melangkah ke arah amalan politik yang lebih luas dan matang dalam menjamin kepentingan bersama.

“MELAYU SEPAKAT, ISLAM BERDAULAT”